Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?

Kompas.com, 27 Juli 2026, 19:37 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com -Sebuah penelitian internasional terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Food mengungkapkan bahwa usia memiliki peran penting yang sering terabaikan dalam memicu emisi gas rumah kaca dari sektor makanan.

Melansir Phys, Rabu (22/7/2026) penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah emisi dari makanan yang kita konsumsi bisa sangat berbeda di setiap tahap usia seseorang. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan kebutuhan gizi, perubahan jumlah penduduk, serta pola makan yang terus berubah.

Oleh karena itu, langkah untuk mengurangi emisi dari makanan perlu menyesuaikan dengan kelompok usia.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti internasional yang dipimpin universitas University of Groningen (ESRIG) ini meneliti emisi dari pola makan dan kualitas gizi di 149 negara, 22 kelompok usia, serta lima periode waktu dari tahun 2000 hingga 2019.

Baca juga: WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan

Emisi terbanyak dari makanan

Penelitian tersebut menemukan bahwa remaja dan dewasa muda secara konsisten menghasilkan emisi gas rumah kaca tertinggi per orang dari makanan yang mereka konsumsi.

Di sisi lain, meningkatnya jumlah lansia menjadi pemicu yang makin penting terhadap total emisi dari sektor pangan.

"Lansia sering dianggap memberikan sumbangan emisi karbon yang lebih tinggi. Namun, kami menemukan pola yang sedikit berbeda. Meningkatnya emisi dari kelompok lansia lebih disebabkan oleh jumlah populasi lansia yang makin banyak, bukan karena pola makan mereka yang tinggi emisi karbon," kata Yanxian Li, peneliti dari riset ini.

"Memahami siapa yang menyumbang emisi dari makanan sangat penting untuk merancang solusi iklim yang efektif. Oleh karena itu, pola makan yang ramah lingkungan harus mempertimbangkan perbedaan tingkat usia, kebutuhan gizi, dan kondisi di setiap wilayah," tegas Yuli Shan, profesor di University of Birmingham sekaligus salah satu penulis riset ini.

Penelitian ini menemukan bahwa daging dan produk olahan susu tetap menjadi penyumbang utama emisi karbon dari makanan, terutama di negara-negara kaya.

Di negara-negara berkembang, perubahan gaya hidup dan pola makan juga memegang peran penting. Sebagai contoh, melonjaknya emisi dari sektor pangan di China sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya konsumsi daging.

Sementara di India, beralihnya masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi produk susu berkontribusi besar terhadap kenaikan emisi.

Para peneliti menekankan bahwa upaya mengurangi emisi karbon harus tetap seimbang dengan pemenuhan gizi masyarakat.

"Di banyak negara berkembang, beralih ke makanan yang kaya nutrisi telah meningkatkan kualitas kesehatan warga, tetapi di sisi lain juga menaikkan emisi. Artinya, sekadar mengurangi jenis makanan tertentu justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika tidak hati-hati," jelas Klaus Hubacek, profesor di University of Groningen yang juga salah satu penulis riset ini.

Baca juga: Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI

Mengurangi emisi dari sektor pangan

Penelitian ini menemukan beberapa cara untuk mengurangi emisi dari sektor pangan, seperti memperbaiki sistem produksi makanan, mendukung perubahan pola makan yang ramah lingkungan, serta menyesuaikan langkah yang diambil dengan kondisi daerah setempat.

Para peneliti menyimpulkan bahwa strategi pengurangan dampak iklim tidak boleh lagi menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua orang.

Strategi tersebut harus memperhitungkan perubahan populasi, pola makan, kebutuhan gizi, serta perbedaan antarnegara dan wilayah.

Para penulis menegaskan kembali bahwa mengurangi emisi dari sektor pangan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kelompok usia.

"Untuk kelompok usia muda, hal ini menekankan pentingnya edukasi dan lingkungan makanan yang sehat. Misalnya, lewat program yang mengajak anak-anak sekolah beralih ke makanan yang lebih sehat dan rendah emisi karbon," tambah Prajal Pradhan, profesor di University of Groningen yang turut menulis penelitian ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau