KOMPAS.com - Penelitian terbaru menemukan bahwa gelombang panas yang ekstrem dan berlangsung lama membuat makin banyak orang dilarikan ke rumah sakit akibat masalah kesehatan mental mendesak.
Melansir Earth, Rabu (15/7/2026) risiko ini terus meningkat beberapa hari setelah cuaca panas mulai terjadi. Pola ini terlihat dari data lebih dari 2,6 juta pasien rumah sakit di empat negara yang tersebar di tiga benua.
Temuan ini menghubungkan deretan hari yang sangat panas dengan lonjakan pasien depresi, kecemasan, serta gangguan mental dan perilaku lainnya.
Lansia dan warga yang tinggal di daerah terpencil menjadi kelompok yang paling terdampak parah, sering kali karena lokasi layanan medis yang jauh dari tempat tinggal mereka.
Para ilmuwan sebenarnya sudah bertahun-tahun menduga adanya hubungan antara cuaca panas dan kesehatan mental. Namun, sebagian besar buktinya sebelumnya hanya berasal dari satu kota atau satu negara saja.
Baca juga: Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Penelitian terdahulu di Vietnam misalnya, memang sempat menghubungkan gelombang panas dengan meningkatnya pasien gangguan jiwa, tetapi riset itu hanya mencakup wilayah satu negara tersebut.
Ini adalah penelitian pertama yang menguji hubungan tersebut di empat negara sekaligus. Penelitian ini mencakup wilayah dengan iklim yang sangat berbeda, mulai dari iklim tropis di Brasil hingga wilayah selatan Selandia Baru yang beriklim sedang, dengan menggunakan catatan rumah sakit dari tahun 2000 hingga 2019.
Riset ini dipimpin oleh Yuming Guo, seorang profesor kesehatan lingkungan dan biostatistik di Universitas Monash di Melbourne, Australia.
"Sementara masalah jantung dan pernapasan akibat udara panas sudah mendapat banyak perhatian, dampak panas terhadap kesehatan mental selama ini justru sering diabaikan," ungkap Guo.
Tim Guo memeriksa lebih dari 2,6 juta data pasien masuk rumah sakit pada musim panas di 852 lokasi. Mereka menghitung seberapa sering angka pasien tersebut melonjak saat terjadi gelombang panas yaitu periode setidaknya empat hari berturut-turut ketika suhu lokal mencapai tingkat tertinggi.
Untuk memastikan tidak ada penyebab lain, kondisi setiap pasien pada hari panas dibandingkan langsung dengan kondisi diri mereka sendiri pada hari-hari yang lebih sejuk di bulan yang sama.
Dampak cuaca panas ini memang terlihat kecil di hari pertama, tetapi makin membesar seiring berjalannya waktu. Pada hari pertama gelombang panas melanda, jumlah pasien darurat kesehatan mental naik sekitar 3 persen. Namun, jika dihitung total dari hari pertama hingga delapan hari berikutnya, kenaikannya mencapai hampir 6 persen.
Studi juga menemukan adanya kelompok tertentu yang rentan. Di antara lansia atau orang berusia di atas 65 tahun, lonjakan pasien masuk rumah sakit selama gelombang panas jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.
Baca juga: Cuaca Panas Kian Ekstrem Bikin Masyarakat Sulit Berolahraga
Hal ini terjadi karena tubuh lansia kurang efisien dalam mengatur suhu panas, dan banyak dari mereka yang mengonsumsi obat-obatan yang menghambat kemampuan alami tubuh untuk mendinginkan diri
Risiko ini juga ternyata lebih tinggi pada orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan. Hasil ini mengejutkan tim peneliti, karena warga desa biasanya tidak terlalu merasakan hawa panas terperangkap yang membuat kota-kota padat tetap terasa membakar bahkan di malam hari.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya