Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental

Kompas.com, 28 Juli 2026, 12:36 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Penelitian terbaru menemukan bahwa gelombang panas yang ekstrem dan berlangsung lama membuat makin banyak orang dilarikan ke rumah sakit akibat masalah kesehatan mental mendesak.

Melansir Earth, Rabu (15/7/2026) risiko ini terus meningkat beberapa hari setelah cuaca panas mulai terjadi. Pola ini terlihat dari data lebih dari 2,6 juta pasien rumah sakit di empat negara yang tersebar di tiga benua.

Temuan ini menghubungkan deretan hari yang sangat panas dengan lonjakan pasien depresi, kecemasan, serta gangguan mental dan perilaku lainnya.

Lansia dan warga yang tinggal di daerah terpencil menjadi kelompok yang paling terdampak parah, sering kali karena lokasi layanan medis yang jauh dari tempat tinggal mereka.

Hubungan udara panas dan kesehatan mental

Para ilmuwan sebenarnya sudah bertahun-tahun menduga adanya hubungan antara cuaca panas dan kesehatan mental. Namun, sebagian besar buktinya sebelumnya hanya berasal dari satu kota atau satu negara saja.

Baca juga: Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas

Penelitian terdahulu di Vietnam misalnya, memang sempat menghubungkan gelombang panas dengan meningkatnya pasien gangguan jiwa, tetapi riset itu hanya mencakup wilayah satu negara tersebut.

Ini adalah penelitian pertama yang menguji hubungan tersebut di empat negara sekaligus. Penelitian ini mencakup wilayah dengan iklim yang sangat berbeda, mulai dari iklim tropis di Brasil hingga wilayah selatan Selandia Baru yang beriklim sedang, dengan menggunakan catatan rumah sakit dari tahun 2000 hingga 2019.

Riset ini dipimpin oleh Yuming Guo, seorang profesor kesehatan lingkungan dan biostatistik di Universitas Monash di Melbourne, Australia.

"Sementara masalah jantung dan pernapasan akibat udara panas sudah mendapat banyak perhatian, dampak panas terhadap kesehatan mental selama ini justru sering diabaikan," ungkap Guo.

Tim Guo memeriksa lebih dari 2,6 juta data pasien masuk rumah sakit pada musim panas di 852 lokasi. Mereka menghitung seberapa sering angka pasien tersebut melonjak saat terjadi gelombang panas yaitu periode setidaknya empat hari berturut-turut ketika suhu lokal mencapai tingkat tertinggi.

Untuk memastikan tidak ada penyebab lain, kondisi setiap pasien pada hari panas dibandingkan langsung dengan kondisi diri mereka sendiri pada hari-hari yang lebih sejuk di bulan yang sama.

Dampak cuaca panas ini memang terlihat kecil di hari pertama, tetapi makin membesar seiring berjalannya waktu. Pada hari pertama gelombang panas melanda, jumlah pasien darurat kesehatan mental naik sekitar 3 persen. Namun, jika dihitung total dari hari pertama hingga delapan hari berikutnya, kenaikannya mencapai hampir 6 persen.

Kelompok yang lebih berisiko

Studi juga menemukan adanya kelompok tertentu yang rentan. Di antara lansia atau orang berusia di atas 65 tahun, lonjakan pasien masuk rumah sakit selama gelombang panas jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.

Baca juga: Cuaca Panas Kian Ekstrem Bikin Masyarakat Sulit Berolahraga

Hal ini terjadi karena tubuh lansia kurang efisien dalam mengatur suhu panas, dan banyak dari mereka yang mengonsumsi obat-obatan yang menghambat kemampuan alami tubuh untuk mendinginkan diri

Risiko ini juga ternyata lebih tinggi pada orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan. Hasil ini mengejutkan tim peneliti, karena warga desa biasanya tidak terlalu merasakan hawa panas terperangkap yang membuat kota-kota padat tetap terasa membakar bahkan di malam hari.

"Masyarakat di wilayah berpenduduk jarang mungkin memiliki akses yang lebih terbatas ke layanan kesehatan mental dan perawatan darurat. Hal ini membuat mereka lebih rentan ketika gelombang panas memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada," terang Guo.

Ketersediaan fasilitas medis yang minim, jarak tempuh yang jauh untuk mendapat perawatan, serta rasa kesepian/terisolasi diduga ikut menjadi penyebabnya.

Pola berdasarkan usia ini berbeda dari beberapa temuan terdahulu. Sebuah studi tentang kunjungan darurat pernah menemukan bahwa anak-anak dan remaja sangat sensitif terhadap perubahan suhu, namun dalam penelitian ini justru pasien lansia yang menunjukkan dampak paling nyata.

Kedua temuan ini sebenarnya bisa sama-sama benar, karena cuaca panas dapat memengaruhi orang yang berbeda melalui cara yang berbeda pula.

Hawa panas membebani pikiran

Penelitian ini hanya menghitung jumlah pasien yang masuk rumah sakit, bukan proses biologis di dalam tubuh mereka, sehingga penyebab pastinya masih berupa dugaan ilmiah.

Sebagian besar alasannya berkaitan erat dengan tidur. Suhu panas membuat orang sulit tidur dan sering terbangun, padahal tidur yang terganggu adalah salah satu pemicu utama munculnya depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar.

Panas yang berkepanjangan tidak cuma merusak waktu istirahat. Suhu tinggi juga meningkatkan hormon stres, mengganggu suhu inti tubuh, serta mengikis kesabaran dan kendali diri yang biasanya menjaga agar gejala mental tidak kambuh.

Bagi seseorang yang kesehatan mentalnya sudah dalam kondisi rentan, panas terik selama seminggu penuh bisa menjadi dorongan terakhir yang membuat mereka harus dilarikan ke rumah sakit.

Efek penurunan kondisi yang lambat ini cocok dengan pola waktu dalam data. Lonjakan pasien masuk rumah sakit tidak hanya naik mendadak lalu menghilang begitu saja.

Angkanya terus merambat naik selama berhari-hari setelah malam panas pertama terjadi. Hal ini sesuai perkiraan bahwa dampak buruk panas itu menumpuk sedikit demi sedikit, bukan menyerang sekaligus.

Menghadapi musim panas yang lebih panas

Pola waktu ini memberikan pelajaran penting yang melampaui dunia medis. Perubahan iklim membuat gelombang panas berlangsung lebih lama, makin membakar, dan lebih sering terjadi, padahal panas ekstrem sendiri sudah menjadi salah satu cuaca paling mematikan dalam sejarah.

Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem

Salah satu studi memperkirakan angka kematian akibat gelombang panas secara global mencapai lebih dari 150.000 jiwa setiap tahunnya.

Bagi pihak rumah sakit, pesan dari riset ini sangat praktis. Gelombang panas tidak hanya mengirim orang ke IGD karena tersengat panas dan dehidrasi, tetapi juga memicu lonjakan "tersembunyi" atas kebutuhan penanganan kesehatan mental, hal yang jarang diperhitungkan oleh para perencana fasilitas medis.

"Bukti kami menunjukkan bahwa panas ekstrem dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada, meningkatkan tekanan psikologis, dan mempertinggi risiko pasien harus dirawat di rumah sakit," tambah Guo.

Bukti ini kini sulit untuk diabaikan. Hal yang dulunya hanya sekadar dugaan yang belum pasti, kini telah menjadi pola yang terukur dengan jelas berdasarkan data dari empat negara dan catatan selama dua dekade.

Kota-kota dan layanan kesehatan yang membuat perencanaan menghadapi cuaca panas kini bisa mulai memperhitungkan dampaknya terhadap pikiran. Mereka dapat menambah petugas layanan kesehatan jiwa dan penanganan krisis sebelum gelombang panas yang panjang melanda, bukan baru bersiap saat cuaca panas sudah terjadi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau