Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim

Kompas.com, 28 Juli 2026, 13:52 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Solusi berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS) dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dinilai menjadi dua pendekatan penting untuk memperkuat ketahanan iklim sekaligus membangun sistem pangan yang berkelanjutan.

Isu tersebut menjadi fokus dalam penyelenggaraan The 9th Summer Course Sustainable Agrifood Management in Indonesia (SAMI) 2026 yang digelar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University.

Program internasional yang berlangsung pada 27 Juli hingga 15 Agustus 2026 itu mengangkat tema Building Climate Resilience and Sustainable Agrifood Management through ESG dan diikuti peserta dari 20 negara serta 37 universitas.

Baca juga: CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren News Avoidance

Pada sesi pembuka, Guru Besar Seoul National University (SNU) Korea Selatan, Prof. Ho Sang Kang, menekankan bahwa dampak krisis iklim semakin nyata melalui cuaca ekstrem, kebakaran hutan, hingga kenaikan muka air laut.

Menurut dia, Indonesia memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui restorasi lahan gambut, penghentian deforestasi, serta penerapan solusi berbasis alam.

Ia mengatakan, sesuai rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pemulihan ekosistem dan praktik pertanian berkelanjutan merupakan langkah paling efektif untuk menekan emisi karbon. Namun, keberhasilan upaya tersebut bergantung pada keterlibatan masyarakat lokal.

"Restorasi lahan yang terdegradasi bukan sekadar aktivitas menanam pohon. Yang terpenting adalah melibatkan masyarakat lokal sebagai inti dari upaya restorasi tersebut demi menciptakan mata pencaharian dan keberlanjutan jangka panjang," ujar Ho Sang Kang.

Selain membahas solusi berbasis alam, penyelenggara juga menyoroti pentingnya peran media dalam mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan.

CEO KG Media Andy Budiman mengatakan media memiliki tiga fungsi utama dalam isu keberlanjutan, yakni membangun kesadaran publik, menginspirasi perubahan perilaku, serta memastikan akuntabilitas pemerintah maupun dunia usaha terhadap komitmen ESG.

Menurut Andy, kebutuhan terhadap komunikasi keberlanjutan yang kredibel semakin meningkat di tengah besarnya risiko praktik *greenwashing*.

Ia mencontohkan kasus "Dieselgate Volkswagen" sebagai bukti bahwa klaim keberlanjutan yang tidak didukung praktik nyata dapat merusak reputasi perusahaan dan menimbulkan kerugian besar.

Di sisi lain, peluang ekonomi dari penerapan ESG juga terus tumbuh. Sekitar 70 persen konsumen bersedia beralih ke produk yang menerapkan prinsip ESG, sementara produk yang dipasarkan dengan pendekatan keberlanjutan tercatat tumbuh 2,3 kali lebih cepat dibandingkan produk konvensional.

Andy juga menyoroti tantangan industri media yang dihadapkan pada menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap berita serta perubahan perilaku konsumsi informasi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan media sosial.

Baca juga: Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim

Menurut dia, kondisi tersebut harus dijawab dengan peningkatan kualitas jurnalisme, perluasan distribusi konten lintas platform, serta pengembangan model bisnis yang tidak lagi bergantung pada pendapatan iklan semata.

Ketua Departemen Manajemen FEM IPB University Eko Ruddy Cahyadi mengatakan penyelenggaraan SAMI 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi internasional.

"Hal ini untuk memperkuat inovasi dan pertukaran pengetahuan dalam membangun sistem agrifood yang tangguh terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan berbasis ESG," kata Eko.

Program tersebut diikuti peserta dari 20 negara dan 37 universitas, dengan pelaksanaan secara luring dan daring hingga 15 Agustus 2026. Selama program berlangsung, peserta akan memperoleh materi dari akademisi, praktisi industri, dan lembaga pemerintah dari berbagai negara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanoto Foundation: 'Employability' Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Tanoto Foundation: "Employability" Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
LSM/Figur
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Swasta
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Pemerintah
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
LSM/Figur
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Swasta
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
Swasta
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pemerintah
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau