Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Solusi berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS) dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dinilai menjadi dua pendekatan penting untuk memperkuat ketahanan iklim sekaligus membangun sistem pangan yang berkelanjutan.
Isu tersebut menjadi fokus dalam penyelenggaraan The 9th Summer Course Sustainable Agrifood Management in Indonesia (SAMI) 2026 yang digelar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University.
Program internasional yang berlangsung pada 27 Juli hingga 15 Agustus 2026 itu mengangkat tema Building Climate Resilience and Sustainable Agrifood Management through ESG dan diikuti peserta dari 20 negara serta 37 universitas.
Baca juga: CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren News Avoidance
Pada sesi pembuka, Guru Besar Seoul National University (SNU) Korea Selatan, Prof. Ho Sang Kang, menekankan bahwa dampak krisis iklim semakin nyata melalui cuaca ekstrem, kebakaran hutan, hingga kenaikan muka air laut.
Menurut dia, Indonesia memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui restorasi lahan gambut, penghentian deforestasi, serta penerapan solusi berbasis alam.
Ia mengatakan, sesuai rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pemulihan ekosistem dan praktik pertanian berkelanjutan merupakan langkah paling efektif untuk menekan emisi karbon. Namun, keberhasilan upaya tersebut bergantung pada keterlibatan masyarakat lokal.
"Restorasi lahan yang terdegradasi bukan sekadar aktivitas menanam pohon. Yang terpenting adalah melibatkan masyarakat lokal sebagai inti dari upaya restorasi tersebut demi menciptakan mata pencaharian dan keberlanjutan jangka panjang," ujar Ho Sang Kang.
Selain membahas solusi berbasis alam, penyelenggara juga menyoroti pentingnya peran media dalam mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan.
CEO KG Media Andy Budiman mengatakan media memiliki tiga fungsi utama dalam isu keberlanjutan, yakni membangun kesadaran publik, menginspirasi perubahan perilaku, serta memastikan akuntabilitas pemerintah maupun dunia usaha terhadap komitmen ESG.
Menurut Andy, kebutuhan terhadap komunikasi keberlanjutan yang kredibel semakin meningkat di tengah besarnya risiko praktik *greenwashing*.
Ia mencontohkan kasus "Dieselgate Volkswagen" sebagai bukti bahwa klaim keberlanjutan yang tidak didukung praktik nyata dapat merusak reputasi perusahaan dan menimbulkan kerugian besar.
Di sisi lain, peluang ekonomi dari penerapan ESG juga terus tumbuh. Sekitar 70 persen konsumen bersedia beralih ke produk yang menerapkan prinsip ESG, sementara produk yang dipasarkan dengan pendekatan keberlanjutan tercatat tumbuh 2,3 kali lebih cepat dibandingkan produk konvensional.
Andy juga menyoroti tantangan industri media yang dihadapkan pada menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap berita serta perubahan perilaku konsumsi informasi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan media sosial.
Baca juga: Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Menurut dia, kondisi tersebut harus dijawab dengan peningkatan kualitas jurnalisme, perluasan distribusi konten lintas platform, serta pengembangan model bisnis yang tidak lagi bergantung pada pendapatan iklan semata.
Ketua Departemen Manajemen FEM IPB University Eko Ruddy Cahyadi mengatakan penyelenggaraan SAMI 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi internasional.
"Hal ini untuk memperkuat inovasi dan pertukaran pengetahuan dalam membangun sistem agrifood yang tangguh terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan berbasis ESG," kata Eko.
Program tersebut diikuti peserta dari 20 negara dan 37 universitas, dengan pelaksanaan secara luring dan daring hingga 15 Agustus 2026. Selama program berlangsung, peserta akan memperoleh materi dari akademisi, praktisi industri, dan lembaga pemerintah dari berbagai negara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya