Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim

Kompas.com, 20 Juli 2026, 18:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perubahan iklim mulai mengubah pola penyebaran penyakit yang menular lewat air di seluruh dunia, menurut sebuah penelitian menyeluruh yang diterbitkan di jurnal Nature Reviews Microbiology.

Laporan ini merupakan analisis paling baru dan lengkap yang mempelajari bagaimana perubahan iklim memengaruhi penyakit-penyakit tersebut.

Melansir Phys, Kamis (16/7/2026) laporan ini memperingatkan bahwa cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dapat merusak kemajuan yang telah dicapai bertahun-tahun dalam mengurangi penyakit menular lewat air.

Padahal, penyakit-penyakit ini masih menyebabkan hampir 1,2 juta kematian akibat diare menular setiap tahunnya.

Dipimpin oleh para peneliti dari Colorado School of Public Health di University of Colorado Anschutz dan University of Washington School of Public Health, penelitian ini menemukan bahwa perubahan iklim tidak memengaruhi semua mikroorganisme penyebab penyakit dengan cara yang sama.

Baca juga: 4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular

Sebaliknya, bakteri, virus, dan parasit masing-masing bereaksi secara berbeda terhadap perubahan lingkungan. Hal ini menunjukkan mengapa penanganan kesehatan masyarakat harus disesuaikan khusus dengan jenis kuman penyebab penyakitnya.

"Kami ingin masyarakat tahu bahwa perubahan iklim mengubah kondisi lingkungan yang membuat kuman penyakit mudah menyebar,” kata salah satu penulis laporan ini, Elizabeth Carlton, Ph.D., profesor di Colorado School of Public Health.

“Perubahan iklim membuat penyakit menular yang paling mematikan di dunia jadi makin sulit dikendalikan karena menciptakan kondisi yang mendukung penularan,” paparnya lagi.

Laporan ini menjelaskan bahwa perubahan iklim mengubah kondisi alam yang menentukan apakah kuman bisa bertahan hidup, menyebar, dan menginfeksi manusia.

Sebagai contoh, meski penyakit lewat air sering dikaitkan dengan banjir dan hujan deras yang membawa kuman ke sumber air minum, peneliti menjelaskan bahwa kekeringan juga bisa meningkatkan risiko penyakit. Kekeringan membuat akses ke air bersih berkurang dan mengubah cara orang menggunakan air yang tersisa.

Laporan ini juga menjelaskan bahwa kenaikan suhu secara umum memicu pertumbuhan bakteri. Sebaliknya, beberapa jenis virus seperti norovirus, rotavirus, dan adenovirus justru lebih mudah menyebar di cuaca yang lebih dingin dan kering, sehingga penyebarannya mungkin akan berkurang di dunia yang semakin panas.

Strategi kesehatan masyarakat untuk menekan risiko

Laporan ini kemudian mencatat langkah-langkah praktis yang dapat membantu masyarakat beradaptasi dengan meningkatnya ancaman penyakit menular lewat air akibat perubahan iklim.

Pertama, investasi pada infrastruktur air, sanitasi, dan kebersihan yang tahan iklim. Air minum yang aman, sistem sanitasi, serta kebiasaan hidup bersih tetap menjadi cara paling ampuh untuk mencegah penyakit menular lewat air. Karena banjir, badai, dan cuaca ekstrem lainnya bisa merusak fasilitas air dan sanitasi, para peneliti menekankan pentingnya membangun sistem yang kuat dan tahan terhadap bencana iklim.

Selain itu, perluas pengawasan khusus untuk setiap jenis kuman. Deteksi dini dapat membantu petugas kesehatan mengetahui jenis kuman apa yang sedang menyebar, sehingga bantuan bisa langsung diarahkan ke tempat yang paling membutuhkan.

Bakteri, virus, dan parasit merespons iklim dengan cara yang berbeda, strategi pemantauan dan penanganannya harus disesuaikan dengan jenis kumannya, tidak bisa disamaratakan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau