KOMPAS.com - Di tengah dinamika pasar, pertumbuhan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan meningkatkan penjualan. Penguatan merek, distribusi, hingga produktivitas juga menjadi bagian dari strategi menjaga momentum dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut salah satunya terlihat dari strategi yang dijalankan PT Unilever Indonesia Tbk dalam memperkuat fundamental bisnisnya.
Pendekatan tersebut menjadi fokus PT Unilever Indonesia Tbk. dan mulai tecermin pada kinerja semester pertama 2026, yang menandai empat kuartal berturut-turut pertumbuhan bagi perseroan.
Pada semester pertama 2026, penjualan bersih dari operasi berkelanjutan–tidak termasuk bisnis Teh Sariwangi–mencapai Rp 16,9 triliun atau tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan volume dasar sebesar 7,3 persen, sementara laba bersih dari operasi berkelanjutan (tidak termasuk bisnis teh SariWangi) naik 10,2 persen menjadi Rp 2,1 triliun.
Di sisi lain, margin kotor dari operasi berkelanjutan tercatat 46,6 persen, turun 168 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya. Tanpa memperhitungkan biaya transformasi, margin kotor berada di level 47,7 persen.
Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. Benjie Yap mengatakan, capaian tersebut menunjukkan hasil dari upaya perusahaan memperkuat fundamental bisnis melalui strategi yang dijalankan secara konsisten.
"Kinerja semester pertama 2026 mencerminkan hasil positif dari upaya kami memperkuat fundamental bisnis. Kami berhasil mencatatkan pertumbuhan positif baik pada penjualan maupun laba, didukung oleh pertumbuhan volume yang kuat, yang mencerminkan semakin baiknya eksekusi di pasar," ujar Benjie melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (28/7/2026)
Untuk memperkuat fundamental bisnis, Unilever menjalankan tiga fokus utama, yakni penguatan kategori dan merek, optimalisasi saluran penjualan, serta produktivitas dan pengelolaan biaya.
Perusahaan terus meningkatkan daya saing melalui inovasi dan pengembangan merek agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.
Salah satunya dilakukan melalui pendekatan Desire at Scale, yakni memperkuat daya tarik merek melalui diferensiasi berbasis sains, estetika, dan pengalaman sensorik.
Unilever juga mengandalkan penciptaan permintaan melalui kanal sosial (social-first demand creation), antara lain dengan menggandeng kreator dan membangun kemitraan yang relevan dengan budaya konsumen.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Sebanyak 18 dari 24 merek Unilever mencatatkan pertumbuhan pada semester pertama 2026.
Menurut perusahaan, bisnis inti yang sebelumnya menghadapi tantangan kembali tumbuh, sementara segmen dengan pertumbuhan tinggi terus mencatatkan pertumbuhan dua digit.
Perusahaan meningkatkan kapabilitas route-to-market di berbagai kanal penjualan.
Pada kanal perdagangan tradisional (general trade), strategi dijalankan melalui agenda More Stores dan Better Stores untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan ketersediaan produk.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya