KOMPAS.com - China baru saja meluncurkan rencana transisi energi baru. Melalui rencana ini, sumber energi bersih ditargetkan bakal menyumbang 50 persen dari total pembangkit listrik pada tahun 2030, bersamaan dengan puncaknya penggunaan bahan bakar fosil.
Melansir Edie, Senin (27/7/2026) rencana ini akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dengan cara mendorong permintaan pasar terhadap teknologi bersih, yang sekaligus memperkuat ketahanan energi negara.
Di bawah rencana tersebut, konsumsi energi terbarukan akan meningkat setara dengan 1,8 miliar ton batu bara pada tahun 2030.
Kapasitas energi angin dan surya diperkirakan akan melampaui 2,8 terawatt (TW) dan menghasilkan lebih dari 4.000 terawatt-hour (TWh) listrik setiap tahunnya. Jumlah ini mencakup lebih dari 50 persen dari total kapasitas listrik yang terpasang di China.
Sekitar 100 gigawatt (GW) proyek angin lepas pantai baru diproyeksikan akan mendapat izin resmi, dan kapasitas penyeimbang beban puncak dari sumber terbarukan sebesar lebih dari 300 GW akan diluncurkan.
Baca juga: Sempat Turun, PLTU di China Kembali Bangkit pada 2026
Di bawah rencana ini, sumber energi bersih diperkirakan menyumbang 50 persen dari total produksi listrik pada tahun 2030.
China juga memperkirakan penggunaan minyak dan batu bara akan mencapai puncaknya pada masa tersebut, dengan total kapasitas produksi energi mencapai setara 5,8 miliar ton batu bara.
Peta jalan ini juga mencakup pengembangan teknologi baru, termasuk kapasitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 570 GW pada 2030 atau naik 120 GW dari target tahun 2025 sebelumnya serta 160 GW kapasitas PLTA pompa (pumped storage hydro) pada 2030, yang naik hampir 100 GW.
Selain itu, China akan berupaya mengoptimalkan fasilitas bahan bakar fosil yang sudah ada dan memperluas jalur impor energi.
Peta jalan baru ini dirancang untuk mencapai puncak emisi karbon pada tahun 2030.
Tahun lalu, China dan Uni Eropa berjanji untuk menerbitkan rencana dekarbonisasi baru sebelum konferensi iklim COP30. Langkah ini diambil salah satunya akibat keputusan Amerika Serikat yang mundur dari Perjanjian Paris dan menghentikan pendanaan iklim publik untuk PBB.
China berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 7 hingga 10 persen dari tingkat puncaknya pada tahun 2035. Dalam rentang waktu tersebut, China juga berjanji untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dan nuklir hingga lebih dari 30 persen dari total penggunaan energi.
Pada awal tahun ini, China telah mengumumkan rencana dekarbonisasi lima tahunan yang baru. Namun, para analis menilai rencana tersebut masih belum cukup untuk memenuhi komitmen yang dibuat China dalam Perjanjian Paris.
Baca juga: China Pangkas Emisi Lebih Cepat dari Target
Rencana baru China juga mencakup target penurunan emisi karbon sebesar 17 persen per unit GDP pada tahun 2030, jika dibandingkan dengan tingkat tahun 2025.
Hal penting dari target ini terletak pada cara mengukurnya. China berfokus pada pengurangan "intensitas karbon" yaitu menekan emisi karbon untuk setiap nilai pertumbuhan ekonomi (GDP) bukan menekan total seluruh emisi secara langsung.
Lembaga pemantau Climate Action Tracker (CAT) menyimpulkan bahwa jika ekonomi China tumbuh sesuai target tahun 2026 sebesar 4,6 persen, cara perhitungan ini justru masih memungkinkan total emisi China naik sebesar 3 persen pada tahun 2030.
Padahal, menurut hitungan CAT, untuk benar-benar memenuhi porsi tanggung jawabnya dalam Perjanjian Paris, China seharusnya memotong total emisinya hingga 65 persen dari tahun 2005 ke 2030.
Laporan terbaru dari BloombergNEF juga menemukan bahwa investasi energi terbarukan di China mengalami penurunan sebesar 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya