Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030

Kompas.com, 29 Juli 2026, 10:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - China baru saja meluncurkan rencana transisi energi baru. Melalui rencana ini, sumber energi bersih ditargetkan bakal menyumbang 50 persen dari total pembangkit listrik pada tahun 2030, bersamaan dengan puncaknya penggunaan bahan bakar fosil.

Melansir Edie, Senin (27/7/2026) rencana ini akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dengan cara mendorong permintaan pasar terhadap teknologi bersih, yang sekaligus memperkuat ketahanan energi negara.

Di bawah rencana tersebut, konsumsi energi terbarukan akan meningkat setara dengan 1,8 miliar ton batu bara pada tahun 2030.

Kapasitas energi angin dan surya diperkirakan akan melampaui 2,8 terawatt (TW) dan menghasilkan lebih dari 4.000 terawatt-hour (TWh) listrik setiap tahunnya. Jumlah ini mencakup lebih dari 50 persen dari total kapasitas listrik yang terpasang di China.

Sekitar 100 gigawatt (GW) proyek angin lepas pantai baru diproyeksikan akan mendapat izin resmi, dan kapasitas penyeimbang beban puncak dari sumber terbarukan sebesar lebih dari 300 GW akan diluncurkan.

Baca juga: Sempat Turun, PLTU di China Kembali Bangkit pada 2026

Di bawah rencana ini, sumber energi bersih diperkirakan menyumbang 50 persen dari total produksi listrik pada tahun 2030.

China juga memperkirakan penggunaan minyak dan batu bara akan mencapai puncaknya pada masa tersebut, dengan total kapasitas produksi energi mencapai setara 5,8 miliar ton batu bara.

Peta jalan ini juga mencakup pengembangan teknologi baru, termasuk kapasitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 570 GW pada 2030 atau naik 120 GW dari target tahun 2025 sebelumnya serta 160 GW kapasitas PLTA pompa (pumped storage hydro) pada 2030, yang naik hampir 100 GW.

Selain itu, China akan berupaya mengoptimalkan fasilitas bahan bakar fosil yang sudah ada dan memperluas jalur impor energi.

Peta jalan dekarbonisasi

Peta jalan baru ini dirancang untuk mencapai puncak emisi karbon pada tahun 2030.

Tahun lalu, China dan Uni Eropa berjanji untuk menerbitkan rencana dekarbonisasi baru sebelum konferensi iklim COP30. Langkah ini diambil salah satunya akibat keputusan Amerika Serikat yang mundur dari Perjanjian Paris dan menghentikan pendanaan iklim publik untuk PBB.

China berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 7 hingga 10 persen dari tingkat puncaknya pada tahun 2035. Dalam rentang waktu tersebut, China juga berjanji untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dan nuklir hingga lebih dari 30 persen dari total penggunaan energi.

Pada awal tahun ini, China telah mengumumkan rencana dekarbonisasi lima tahunan yang baru. Namun, para analis menilai rencana tersebut masih belum cukup untuk memenuhi komitmen yang dibuat China dalam Perjanjian Paris.

Baca juga: China Pangkas Emisi Lebih Cepat dari Target

Rencana baru China juga mencakup target penurunan emisi karbon sebesar 17 persen per unit GDP pada tahun 2030, jika dibandingkan dengan tingkat tahun 2025.

Hal penting dari target ini terletak pada cara mengukurnya. China berfokus pada pengurangan "intensitas karbon" yaitu menekan emisi karbon untuk setiap nilai pertumbuhan ekonomi (GDP) bukan menekan total seluruh emisi secara langsung.

Lembaga pemantau Climate Action Tracker (CAT) menyimpulkan bahwa jika ekonomi China tumbuh sesuai target tahun 2026 sebesar 4,6 persen, cara perhitungan ini justru masih memungkinkan total emisi China naik sebesar 3 persen pada tahun 2030.

Padahal, menurut hitungan CAT, untuk benar-benar memenuhi porsi tanggung jawabnya dalam Perjanjian Paris, China seharusnya memotong total emisinya hingga 65 persen dari tahun 2005 ke 2030.

Laporan terbaru dari BloombergNEF juga menemukan bahwa investasi energi terbarukan di China mengalami penurunan sebesar 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau