KOMPAS.com - Pemangkasan besar-besaran pada dana bantuan HIV global mengancam keberhasilan yang telah dibangun selama berpuluh-puluh tahun.
Peringatan tersebut terungkap dalam laporan terbaru UNAIDS berjudul United to end AIDS yang dipublikasikan 27 Juli 2026 di Konferensi AIDS Internasional ke-26 di Rio de Janeiro, Brasil.
Melansir Down to Earth, Rabu (29/7/2026) laporan tersebut mencatat bahwa meskipun angka infeksi baru dan kematian akibat AIDS telah turun ke tingkat terendah dalam lebih dari 30 tahun terakhir, penanganan HIV global kini makin rapuh.
Target untuk menghentikan AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030 pun terancam gagal.
Menurut penilaian terbaru, dibutuhkan dana sekitar 21,9 miliar dolar AS setiap tahunnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk mencapai target bebas AIDS tahun 2030.
Baca juga: Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia
Namun, pada tahun 2025 lalu hanya ada dana sebesar 17,6 miliar dolar AS yang tersedia dengan 59 persen bersumber dari anggaran dalam negeri masing-masing. Artinya, terdapat kekurangan dana sebesar 4,3 miliar dolar AS yang mengancam program pencegahan, pengobatan, dan perawatan pasien.
Laporan tersebut kemudian menyoroti tahun 2025 sebagai titik balik bagi pendanaan HIV global, di mana pemangkasan bantuan internasional secara mendadak sangat mengganggu program-program penanganan HIV di banyak negara.
Ketergantungan yang tinggi pada dana asing membuat program pengobatan menjadi rentan. Pemotongan anggaran ini juga menghentikan layanan kesehatan, mengganggu pasokan obat-obatan, serta melemahkan kelompok masyarakat yang mendampingi warga terdampak, terutama kelompok yang paling rentan.
Bantuan dana internasional untuk HIV dari berbagai negara turun lebih dari 1,5 miliar dolar AS, yaitu dari 8,8 miliar dolar AS pada tahun 2024 menjadi 7,3 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Penurunan sebesar 18 persen ini merupakan tingkat pendanaan terendah dalam hampir dua dekade terakhir.
Kekurangan dana ini membuat penanganan HIV makin rapuh, terutama di wilayah Afrika Sub-Sahara yang program pencegahannya sangat bergantung pada bantuan donor asing.
Pemotongan anggaran secara tajam menurunkan akses terhadap sarana pencegahan HIV, seperti obat pencegah (PrEP), kondom, dan layanan tes kesehatan di beberapa negara.
Kamerun, Nigeria, dan Zambia sama-sama mencatat penurunan penggunaan PrEP hingga lebih dari 50 persen antara tahun 2024 dan 2025, sementara bantuan dana untuk program kondom dari salah satu donor utama anjlok hingga 93 persen.
Meski begitu, beberapa negara seperti Ethiopia, Uganda, Afrika Selatan, dan Brasil berhasil mempertahankan atau memperluas upaya pencegahan dengan mengandalkan dana mandiri serta sumber bantuan lain.
Sementara itu tujuh negara Benin, Eswatini, Kenya, Lesotho, Nepal, Rwanda, dan Zimbabwe, telah memangkas angka infeksi baru HIV setidaknya 78 persen sejak tahun 2010, membuat mereka tetap berada di jalur yang benar untuk mencapai target 2030.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya