Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perkuat Ekonomi Inklusif Papua, 1.700 Rumah Tangga Dapat Pendampingan Literasi Keuangan

Kompas.com, 30 Juli 2026, 17:31 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Pembangunan ekonomi berkelanjutan di Tanah Papua tidak semata-mata diukur dari infrastruktur fisik atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi makro.

Lebih dari itu, fondasi utama keberlanjutan terletak pada ketahanan dan kemandirian ekonomi keluarga di tingkat kampung. Tanpa literasi keuangan kuat dan akses permodalan tepat sasaran, peluang pertumbuhan ekonomi rentan meninggalkan masyarakat lokal di pinggiran.

Menjawab tantangan tersebut, pendekatan pemberdayaan berbasis rumah tangga kini mulai memperkuat kapasitas masyarakat adat dan pelaku usaha mikro di pelosok Papua.

Melalui kolaborasi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), International Fund for Agricultural Development (IFAD), dan Kitong Bisa Foundation, sebanyak 1.700 rumah tangga di 79 kampung meliputi Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, hingga Kepulauan Yapen didampingi untuk mengelola potensi ekonomi lokal secara mandiri dan berkelanjutan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Provinsi Papua tumbuh 3,97 persen pada 2025, didorong antara lain oleh konsumsi rumah tangga. Namun, pertumbuhan tersebut masih menghadapi tantangan pemerataan.

Di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Kepulauan Yapen, sebagian besar masyarakat masih menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan usaha mikro berbasis keluarga.

Keterbatasan akses permodalan, rendahnya literasi keuangan, minimnya pendampingan usaha, serta terbatasnya akses pasar masih menjadi tantangan dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah ekonomi masyarakat.

Sejalan dengan arah tersebut, Kemendes PDT melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi unggulan desa, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan ekonomi desa, serta perluasan akses terhadap pembiayaan dan pendampingan usaha.

Salah satu implementasinya dilakukan melalui Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu Perencanaan Berbasis Rumah Tangga (Tekad PBRT) (tekad) yang dikembangkan bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD) untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa melalui pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan.

TEKAD PBRT menggabungkan pelatihan literasi keuangan, pengembangan kewirausahaan, pendampingan usaha, dan akses permodalan melalui pendekatan Household Management System (HMS) atau Perencanaan Berbasis Rumah Tangga (PBRT).

Setiap keluarga didampingi menyusun perencanaan ekonomi berdasarkan kondisi riil rumah tangga, mulai dari pemetaan pendapatan, pengeluaran, aset, kebutuhan pendidikan anak, hingga penyusunan rencana pengembangan usaha.

Pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap permodalan, tetapi juga membangun kemampuan mengelola arus kas, menyusun target keuangan, memisahkan keuangan rumah tangga dan usaha, serta mengembangkan usaha sesuai potensi ekonomi lokal.

Dengan demikian, bantuan yang diterima diharapkan mampu berkembang menjadi aset produktif yang memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Pelatihan dilaksanakan secara interaktif melalui diskusi, simulasi pengelolaan keuangan, penyusunan rencana usaha, serta identifikasi potensi ekonomi keluarga.

Para peserta juga didorong menyampaikan tantangan yang dihadapi sehingga pendampingan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing kampung.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau