Namun, ada 21 negara termasuk Filipina, Brasil, Pakistan, dan Mesir yang justru terus mencatatkan kenaikan kasus infeksi baru.
Kaum perempuan dan anak perempuan masih menjadi kelompok yang paling berdampak, terutama di wilayah Afrika Sub-Sahara, di mana perempuan menyumbang 60 persen dari kasus baru HIV.
Sekitar 160.000 remaja putri dan wanita muda tertular HIV pada tahun 2025 artinya ada sekitar 3.000 penularan baru setiap minggunya. Di wilayah ini, tingkat penularan pada remaja putri dan wanita muda tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki seusia mereka.
Baca juga: Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Anak-anak juga masih kurang mendapatkan perhatian. Hanya 55 persen anak penderita HIV yang menerima terapi obat penghambat virus (ARV), sehingga lebih dari 570.000 anak lainnya sama sekali belum mendapatkan pengobatan.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, laporan ini menunjukkan adanya komitmen global yang diperbarui melalui deklarasi tentang HIV dan AIDS tahun 2026 yang disetujui oleh 149 negara anggota PBB.
Deklarasi ini menetapkan target besar untuk tahun 2030, termasuk memberikan pengobatan bagi 40 juta orang, menyediakan akses pencegahan berbasis obat bagi 20 juta orang, serta menekan secara tajam diskriminasi, ketidaksetaraan gender, dan hukum yang bersifat menghukum.
Jika target ini tercapai, UNAIDS memperkirakan dapat mencegah 3,2 juta penularan baru HIV dan 1,3 juta kematian akibat AIDS hingga tahun 2030.
UNAIDS mengingatkan bahwa penambahan investasi, penguatan dana mandiri dari pemerintah tiap negara, serta perlindungan hak asasi manusia sangat penting untuk menjaga keberhasilan ini dan mencapai target penghentian AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya