JAKARTA, KOMPAS.com – Raut wajah Kadek Seina Maputra tampak sedikit tegang saat berdiri di hadapan dewan juri Starbucks Barista Championship 2026 di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Beberapa menit kemudian, kegugupan itu menghilang. Seina menyapa para juri, lalu mulai menyeduh kopi satu per satu. Tangannya bergerak lincah menyiapkan kopi dengan metode pour over, minuman berbasis espresso dengan latte art berbentuk tulip, hingga signature beverage bertajuk “The Plot Twist”.
Seina tidak sekadar meracik kopi. Di sela-sela penyeduhan, ia menceritakan alasan memilih biji kopi, karakter rasa yang ingin dihadirkan, hingga perjalanan panjang kopi sebelum akhirnya tersaji di hadapan pelanggan.
Presentasi itu pun mengantarkannya menjadi juara Starbucks Barista Championship 2026, mengungguli delapan finalis lain dari berbagai wilayah Indonesia.
Bagi industri kopi, penampilan Seina menunjukkan perubahan lanskap yang lebih besar. Barista kini tak lagi hanya dituntut piawai meracik kopi, tetapi juga memahami keseluruhan perjalanan kopi, mulai dari kebun hingga dinikmati pelanggan. Perubahan peran itu muncul seiring perkembangan industri kopi Indonesia.
Ketua Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Daryanto Witarsa mengatakan, pertumbuhan industri kopi dalam satu dekade terakhir menghadirkan tantangan baru, yakni menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjaga keberlanjutan industri dari hulu hingga hilir.
Baca juga: 9 Barista Muda Bertanding di Starbucks Championship 2026
Regenerasi, lanjutnya, menjadi isu penting, terutama untuk menarik lebih banyak generasi muda agar tertarik berkarier di sektor kopi. Meski demikian, Daryanto melihat perkembangan positif mulai bermunculan.
"Mulai banyak petani muda yang berinovasi. Mereka ikut kompetisi, menjual kopi langsung ke kafe, dan mulai melihat kopi sebagai sesuatu yang bernilai tambah," ujar Daryanto kepada Kompas.com pada hari pertama Starbucks Barista Championship 2026, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, masa depan kopi Indonesia tidak hanya bergantung pada kualitas hasil panen. Seluruh mata rantai industri, mulai dari petani, penyangrai, pelaku usaha, hingga barista, memegang peran penting dalam menjaga nilai kopi Indonesia.
Salah satu peserta, Iklil Fadhly dari Starbucks Terminal 3 International Landside Tangerang, mempresentasikan kopi racikannya di hadapan dewan juri pada ajang Starbucks Barista Championship 2026. Kompetisi tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi barista untuk mengasah keterampilan menyeduh kopi, memperdalam pengetahuan, serta meningkatkan kemampuan menyampaikan cerita di balik secangkir kopi.Perubahan tersebut juga dirasakan di hilir. Head of Learning and Development Starbucks Indonesia Mirza Luqman Effendy mengatakan, kompetensi barista saat ini berkembang jauh melampaui kemampuan menyeduh kopi.
Jika dahulu fokus utama berada pada teknik brewing, kini seorang barista juga dituntut memahami bagaimana kopi dibudidayakan, diproses, disangrai, hingga akhirnya sampai ke tangan pelanggan.
"Kita tidak bisa hanya fokus pada kopinya, tetapi juga ekosistemnya," kata Mirza kepada Kompas.com, Jumat.
Pemahaman tersebut membantu barista melihat bahwa secangkir kopi merupakan hasil kerja panjang yang melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, pengolah, penyangrai, distributor, hingga akhirnya disajikan kepada pelanggan.
Cara itu pun menjadi dasar pertimbangan Starbucks Barista Championship 2026 mengusung tema "Ensuring a Sustainable Future of Coffee for All".
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya