CEO Starbucks Indonesia Anthony Mc Evoy mengatakan, peserta tidak lagi cukup menunjukkan kemampuan teknis dalam menyeduh kopi. Mereka juga harus memahami perjalanan kopi secara utuh, mulai dari proses budi daya hingga akhirnya menjadi pengalaman yang bermakna bagi pelanggan.
"Peserta harus menunjukkan pengetahuan kopi yang lebih holistik. Tidak hanya memahami penyeduhan, tetapi juga perjalanan kopi sejak ditanam hingga menjadi secangkir kopi," ujar Anthony kepada awak media, termasuk Kompas.com, Jumat.
Bagi Starbucks, pengetahuan tersebut baru memiliki nilai ketika mampu diteruskan kepada pelanggan. Oleh karena itu, kemampuan storytelling kini menjadi salah satu kompetensi yang mendapat perhatian dalam pengembangan barista atau partner di Starbucks.
Anthony mengatakan, alih-alih hanya menjelaskan aspek teknis seperti tekanan mesin espresso atau suhu air, barista didorong mampu menceritakan asal-usul kopi, karakter tiap daerah penghasil, hingga perjalanan panjang yang dilalui biji kopi sebelum tersaji di meja pelanggan.
"Storytelling membantu orang memahami perjalanan kopi dengan cara yang lebih mudah," katanya.
Kemampuan itu ditunjukkan Seina di hadapan para juri. Berbeda dari presentasi kopi pada umumnya, Seina mengangkat tema "Intention" yang terinspirasi dari pengalamannya membuat film pendek.
Baginya, film dan kopi memiliki kesamaan. Keduanya lahir melalui serangkaian keputusan yang dilakukan dengan tujuan tertentu.
Baca juga: Rayakan 2 Dekade Perjalanan, Gerai Pertama Starbucks Indonesia Bersolek
Dalam film, pemilihan sudut kamera, pencahayaan, musik, hingga dialog menentukan pengalaman penonton. Begitu pula dengan kopi. Pemilihan biji kopi, metode penyeduhan, komposisi bahan, hingga urutan penyajian menentukan pengalaman yang dirasakan pelanggan.
Gagasan tersebut pun ia tuangkan melalui signature beverage berjudul “The Plot Twist”. Menggunakan perpaduan kopi Rwanda dengan sentuhan kopi Gunung Batur, Bali, Seina ingin menghadirkan pengalaman rasa yang berubah secara bertahap, selayaknya alur cerita sebuah film.
"Storytelling sangat penting karena tugas kami adalah menyampaikan pesan," ujar Seina kepada Kompas.com, Minggu (19/7/2026) seusai kompetisi.
Menurutnya, pelanggan tidak hanya menikmati rasa kopi, tetapi juga berhak mengetahui asal-usul kopi, cara pengolahannya, hingga orang-orang yang bekerja di balik setiap cangkir.
Starbucks Barista Championship sendiri bukan sekadar ajang mencari pemenang. Anthony menjelaskan, pengembangan kompetensi partner dilakukan secara bertahap.
Barista baru memulai perjalanan sebagai green bean, kemudian mempelajari dasar-dasar kopi, memperdalam pengetahuan mengenai karakter berbagai daerah penghasil kopi, hingga mengembangkan spesialisasi sebagai Coffee Master
Dalam proses tersebut, kompetisi menjadi ruang belajar untuk mengasah keterampilan teknis serta kemampuan komunikasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya