KOMPAS.com - Fenomena El Nino dan musim kemarau panjang diperkirakan tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan, tetapi juga mempercepat penurunan muka tanah (*land subsidence*) di berbagai wilayah Indonesia.
Penyebab utamanya adalah meningkatnya eksploitasi air tanah ketika sumber air permukaan semakin terbatas selama musim kemarau.
Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, mengatakan kebutuhan air untuk sektor pertanian, industri, hingga permukiman berpotensi mendorong pengambilan air tanah secara lebih masif selama El Nino berlangsung.
"Kalau melihat pernyataan pemerintah mengenai penyiapan puluhan ribu pompa bor untuk sektor pertanian, berarti akan ada eksploitasi air tanah yang semakin besar. Karena ketika air permukaan tidak tersedia, masyarakat maupun pemerintah pasti mengambil air tanah. Ini berpotensi memperparah penurunan muka tanah," ujar Heri kepada Kompas.com, Senin (3/8/2026).
Baca juga: Puncak El Nino Diprediksi Antara Akhir September atau Awal Oktober 2026
Menurut Heri, indikasi tersebut terlihat dari berbagai program pemerintah untuk menghadapi kekeringan, seperti Irigasi Berbasis Pompa (IRPOM) dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dikembangkan Kementerian Pertanian bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Meski mengakui dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui kajian lapangan, ia menilai arah kebijakan saat ini menunjukkan kecenderungan meningkatnya eksploitasi air tanah selama El Nino.
"Meskipun masih hipotesis dan harus dibuktikan di lapangan, berbagai kebijakan pemerintah mengindikasikan bahwa eksploitasi air tanah akan semakin dimasifkan selama periode El Nino," katanya.
Heri menambahkan, tekanan terhadap air tanah tidak hanya berasal dari sektor pertanian. Industri maupun kawasan permukiman juga diperkirakan meningkatkan penyedotan air tanah karena keterbatasan pasokan air bersih dari perusahaan daerah air minum (PDAM).
Menurut dia, kondisi tersebut telah mendorong banyak masyarakat mengeksploitasi air tanah, baik secara individu maupun komunal. Bahkan, tidak sedikit pengambilan air tanah dilakukan untuk kepentingan bisnis penyedia air bersih.
Ia menilai pemerintah masih bersifat reaktif dalam menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino. Padahal, fenomena tersebut merupakan siklus iklim yang berulang dan dapat diprediksi, sehingga semestinya menjadi dasar penyusunan strategi jangka panjang.
"Kalau jujur, responsnya masih gagap. Solusinya lebih bersifat sesaat. Padahal, kita sudah mengalami El Nino sebelumnya sehingga seharusnya ada evaluasi dan persiapan yang lebih matang," ujarnya.
Heri juga mengkritik pendekatan yang hanya berorientasi pada pencapaian target jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak teknis terhadap penurunan muka tanah.
Ia mencontohkan rencana penerapan water farming yang dinilai belum menyentuh akar persoalan.
"Kalau sumber penurunan muka tanah berasal dari pengambilan air tanah dalam, mengapa solusi yang ditawarkan hanya mengisi kembali air tanah dangkal? Itu tidak langsung menyelesaikan sumber masalahnya," kata Heri.
Menurut Heri, pengalaman sejumlah negara seperti Singapura, Jepang, China, dan Thailand menunjukkan bahwa pembenahan sistem pengelolaan air memerlukan waktu panjang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya