Ia memperkirakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 15 tahun untuk membangun sistem manajemen air yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.
Tahap pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki sistem sanitasi agar limbah tidak lagi dibuang langsung ke sungai melalui pembangunan jaringan pengolahan air limbah (sewerage system).
Setelah kualitas air permukaan membaik, langkah berikutnya ialah memperluas jaringan perpipaan agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat dipenuhi dari sungai maupun waduk.
Dengan tersedianya pasokan air perpipaan secara memadai, eksploitasi air tanah dapat dihentikan secara bertahap sehingga penurunan muka tanah dapat dikendalikan.
Baca juga: Bersiap Menghadapi Fase El Nino Kuat...
Menurut Heri, Jakarta menjadi salah satu contoh daerah yang mulai bergerak ke arah tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan sistem pengolahan air limbah terus berjalan, sementara pasokan air perpipaan dari Waduk Jatiluhur dan Karian mulai mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap air tanah.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan tersebut belum terjadi di sebagian besar kota di Indonesia.
"Jakarta sudah mulai menunjukkan progres. Tetapi di luar Jakarta masih ada ratusan kota yang persoalan pengelolaan airnya masih sangat kompleks," ujar Heri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya