Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 19:20 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perdagangan dunia tumbuh sekitar 4 persen pada tiga bulan pertama (Q1) tahun 2026, meskipun ada ketegangan politik antarnegara dan kekhawatiran soal rantai pasokan barang. Hal ini disampaikan dalam laporan terbaru PBB.

Laporan dari Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) tersebut mencatat bahwa perdagangan barang naik 4,8 persen dibanding kuartal sebelumnya, sementara perdagangan jasa tumbuh 1,6 persen.

Melansir Down to Earth, Kamis (23/72/2026) perkiraan UNCTAD menunjukkan perdagangan masih akan terus tumbuh pada kuartal kedua, terutama untuk perdagangan barang.

Namun, UNCTAD menyebut sebagian besar kenaikan ini lebih dipicu oleh harga barang yang makin mahal, bukan karena jumlah barang yang diperjualbelikan makin banyak.

Penyebab utama naiknya inflasi harga perdagangan pada awal 2026 ini adalah membengkaknya biaya energi, transportasi, logistik, dan produksi. Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa perdagangan dunia masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, perubahan aturan perdagangan, dan gangguan rantai pasokan.

Baca juga: Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan

Prospek ekonomi ini muncul di tengah ketidakpastian yang makin tinggi akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini kembali memicu kekhawatiran soal kelancaran pasokan barang dan keamanan energi dunia.

Meskipun pertempuran aktif sudah mereda, ketegangan yang ada masih mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur sangat penting bagi perdagangan minyak dan gas alam dunia.

UNCTAD menyebutkan bahwa gangguan pada logistik, jalur pelayaran, dan rantai pasokan barang dapat menekan perdagangan global, kepercayaaan bisnis, investasi, dan pertumbuhan ekonomi, sekaligus memicu kenaikan harga serta perpecahan blok perdagangan.

Asia Timur jadi pendorong utama

Asia Timur menjadi pendorong utama pertumbuhan perdagangan dunia pada tiga bulan pertama tahun ini. China dan Korea Selatan mencatatkan kenaikan tertinggi dalam perdagangan barang.

Negara-negara berkembang dan perdagangan antarnegara berkembang (Selatan-Selatan) juga mencatat pertumbuhan dua digit selama 12 bulan terakhir jika memperhitungkan ekonomi Asia Timur.

Namun, jika kawasan Asia Timur tidak dihitung, perdagangan barang di negara-negara berkembang secara keseluruhan justru mengalami penurunan. Hal ini terutama disebabkan oleh merosotnya kegiatan ekspor dan impor di wilayah Asia Barat dan Asia Selatan.

Di antara negara-negara ekonomi besar, Korea Selatan mencatatkan rekor pertumbuhan ekspor tertinggi dalam tiga bulan, yaitu naik 20 persen, disusul oleh China sebesar 11 persen. Impor China juga naik 13 persen, menjadi kenaikan tertinggi di antara negara-negara besar.

Di sisi lain, ekspor barang India turun 8 persen dibanding kuartal sebelumnya, sementara impornya turun 1 persen. Secara wilayah, Asia Timur mencatatkan pertumbuhan perdagangan barang sebesar dua digit, sedangkan Afrika dan Eropa mengalami pertumbuhan impor yang kuat selama 12 bulan terakhir.

Permintaan AI dan mobil listrik dongkrak perdagangan

UNCTAD menyampaikan bahwa tingginya permintaan untuk produk terkait kecerdasan buatan (AI), chip semikonduktor, baterai, mineral penting, dan kendaraan listrik diperkirakan akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan perdagangan dunia hingga akhir tahun 2026.

Pada tiga bulan pertama tahun ini, perdagangan mineral penting mencatatkan pertumbuhan tercepat, yaitu melonjak hingga 38 persen. Perdagangan chip semikonduktor tumbuh 25 persen, barang elektronik 18 persen, baterai 15 persen, produk teknologi informasi dan komunikasi 14 persen, serta mobil listrik 11 persen.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau