Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir

Kompas.com, 7 Agustus 2026, 16:10 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pendekatan berbasis alam (Nature-based Solutions/NbS), seperti penanaman mangrove, dinilai tidak selalu mampu menyelamatkan kawasan pesisir yang mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) secara ekstrem.

Di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, laju amblesan tanah yang tinggi membuat mangrove gagal tumbuh sehingga diperlukan kombinasi antara solusi alami dan rekayasa teknik.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Heru Santosa, mengatakan keberhasilan solusi berbasis alam sangat bergantung pada kondisi fisik wilayah.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pengelolaan Mangrove Nasional hingga 2055

Mangrove, misalnya, hanya dapat tumbuh optimal pada kawasan dengan siklus pasang surut yang masih normal.

"Kalau kita berbicara tentang green measures atau Nature-based Solutions, ada mangrove dan lamun. Namun, keduanya memerlukan kondisi lingkungan yang mendukung untuk tumbuh secara optimal. Dalam banyak kasus, mangrove tidak lagi dapat tumbuh ketika laju land subsidence sangat tinggi seperti di Sayung," ujar Budi dalam webinar, Jumat (7/8/2026).

Menurut dia, kegagalan rehabilitasi mangrove di Sayung terjadi karena kawasan tersebut telah mengalami genangan air laut permanen akibat penurunan muka tanah.

Wilayah yang sebelumnya merupakan zona pasang surut berubah menjadi perairan yang terus tergenang sehingga syarat tumbuh mangrove tidak lagi terpenuhi.

Akibatnya, penanaman mangrove tanpa diikuti upaya memperbaiki kondisi fisik kawasan hanya akan berakhir gagal.

Budi menjelaskan, sebelum melakukan rehabilitasi pesisir, diperlukan intervensi teknis untuk menstabilkan elevasi daratan atau menangkap sedimen agar terbentuk kembali habitat yang sesuai bagi mangrove.

Solusi disesuaikan kondisi wilayah

Dalam pengamanan kawasan pesisir, Budi menilai tidak ada satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk seluruh wilayah. Pilihan antara solusi berbasis alam, rekayasa lunak (soft measures), maupun infrastruktur keras harus disesuaikan dengan karakteristik geologi dan tingkat kerusakan masing-masing kawasan.

Pada wilayah dengan penurunan muka tanah yang masih rendah, rehabilitasi mangrove masih dapat menjadi pilihan utama.

Baca juga: Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak

Namun, di kawasan yang selisih elevasi daratan dan permukaan air laut sudah mencapai kondisi kritis, seperti Ancol hingga Pantai Mutiara di Jakarta, pendekatan berbasis alam tidak lagi memadai jika diterapkan sendiri.

Di kawasan seperti itu, pembangunan tanggul pantai, sheet pile, pintu air, hingga stasiun pompa menjadi kebutuhan untuk melindungi permukiman, kawasan industri, pelabuhan, dan aktivitas ekonomi lainnya dari ancaman banjir rob.

Sebagai alternatif, BRIN mendorong penerapan pendekatan hibrida yang menggabungkan infrastruktur teknik dengan solusi berbasis alam.

Dalam skema ini, pemecah gelombang dibangun di bagian depan pantai untuk memperlambat arus dan menangkap sedimen. Sedimen yang terakumulasi secara bertahap membentuk daratan baru sehingga mangrove dapat ditanam pada area yang kembali memenuhi syarat tumbuh.

"Pendekatan ini memungkinkan struktur keras dan ekosistem mangrove saling melengkapi," kata Budi.

Dari sisi ekonomi, penanaman mangrove membutuhkan biaya investasi yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangunan tanggul beton. Namun, manfaat perlindungan pesisir baru akan dirasakan setelah ekosistem berkembang selama bertahun-tahun.

Sebaliknya, infrastruktur keras membutuhkan investasi besar, tetapi mampu memberikan perlindungan dalam waktu relatif singkat. Konsekuensinya, manfaat ekologis yang dihasilkan sangat terbatas.

"Wilayah metropolitan, kawasan industri, pelabuhan, atau kawasan ekonomi khusus memang membutuhkan perlindungan melalui rekayasa teknik karena aktivitas ekonominya sangat tinggi," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau