Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat

Kompas.com, 7 Agustus 2026, 08:09 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengelolaan hutan secara lestari dinilai menjadi kunci untuk menjaga kelestarian ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan.

Karena itu, penguatan kapasitas kelompok pengelola hutan sosial terus didorong melalui pendampingan, edukasi, hingga pengembangan sistem agroforestri.

Upaya tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University yang bertugas di Desa Cisero, Kec. Cisurupan, Kab. Garut Jawa Barat melalui kegiatan sosialisasi perhutanan sosial, pelatihan pembuatan pupuk organik, serta pembagian bibit tanaman produktif kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanariksa, Senin (3/8/2026).

Koordinator KKNT IPB mengatakan kehadiran mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat pengelola hutan sosial sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan yang menjadi kewajiban kelompok perhutanan sosial, termasuk pemasangan pal batas kawasan.

Baca juga: Perhutanan Sosial di Sikka Hasilkan Produk Kopi Unggulan

Sementara itu, Ketua KTH Wanariksa Tedi Lesmana menjelaskan bahwa perhutanan sosial merupakan instrumen penting untuk mewujudkan keseimbangan antara pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Perhutanan sosial merupakan pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan oleh masyarakat dan harus mampu mewujudkan kesejahteraan sekaligus menjaga kelestarian hutan. Di dalamnya terdapat hak, kewajiban, dan larangan yang harus dipatuhi," ujar Tedi dalam keterangan resmi dikutip Jumat (7/8/2026).

Pelatihan agroforestri

Selain sosialisasi mengenai tata kelola perhutanan sosial, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai penerapan sistem agroforestri sebagai salah satu model pengelolaan hutan yang produktif dan berkelanjutan.

Alumni IPB University, Yayat Nurkholid, menjelaskan bahwa pemilihan jenis tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi iklim setempat sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Menurut dia, pola tanam agroforestri ideal dilakukan berdasarkan stratifikasi vegetasi. Lapisan bawah dimanfaatkan untuk tanaman pangan maupun tanaman obat, lapisan tengah ditanami tanaman produktif seperti kopi, kakao, atau jeruk yang dapat dipanen berulang kali, sedangkan lapisan atas ditanami pohon bernilai ekonomi tinggi seperti alpukat.

"Jika pola ini diterapkan dengan baik, masyarakat dapat memperoleh peningkatan pendapatan tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan hutan," ujar Yayat.

Baca juga: Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial

Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan pupuk organik berbasis bioenzim yang memanfaatkan bahan-bahan alami. Mahasiswa KKNT IPB juga membagikan bibit tanaman produktif kepada para petani penggarap di kawasan perhutanan sosial KTH Wanariksa.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, KKNT IPB University berharap pengelolaan perhutanan sosial di Desa Cisero dapat semakin memperkuat praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, kelestarian hutan tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau