Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Pengelolaan hutan secara lestari dinilai menjadi kunci untuk menjaga kelestarian ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan.
Karena itu, penguatan kapasitas kelompok pengelola hutan sosial terus didorong melalui pendampingan, edukasi, hingga pengembangan sistem agroforestri.
Upaya tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University yang bertugas di Desa Cisero, Kec. Cisurupan, Kab. Garut Jawa Barat melalui kegiatan sosialisasi perhutanan sosial, pelatihan pembuatan pupuk organik, serta pembagian bibit tanaman produktif kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanariksa, Senin (3/8/2026).
Koordinator KKNT IPB mengatakan kehadiran mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat pengelola hutan sosial sekaligus mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan yang menjadi kewajiban kelompok perhutanan sosial, termasuk pemasangan pal batas kawasan.
Baca juga: Perhutanan Sosial di Sikka Hasilkan Produk Kopi Unggulan
Sementara itu, Ketua KTH Wanariksa Tedi Lesmana menjelaskan bahwa perhutanan sosial merupakan instrumen penting untuk mewujudkan keseimbangan antara pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Perhutanan sosial merupakan pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan oleh masyarakat dan harus mampu mewujudkan kesejahteraan sekaligus menjaga kelestarian hutan. Di dalamnya terdapat hak, kewajiban, dan larangan yang harus dipatuhi," ujar Tedi dalam keterangan resmi dikutip Jumat (7/8/2026).
Selain sosialisasi mengenai tata kelola perhutanan sosial, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai penerapan sistem agroforestri sebagai salah satu model pengelolaan hutan yang produktif dan berkelanjutan.
Alumni IPB University, Yayat Nurkholid, menjelaskan bahwa pemilihan jenis tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi iklim setempat sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurut dia, pola tanam agroforestri ideal dilakukan berdasarkan stratifikasi vegetasi. Lapisan bawah dimanfaatkan untuk tanaman pangan maupun tanaman obat, lapisan tengah ditanami tanaman produktif seperti kopi, kakao, atau jeruk yang dapat dipanen berulang kali, sedangkan lapisan atas ditanami pohon bernilai ekonomi tinggi seperti alpukat.
"Jika pola ini diterapkan dengan baik, masyarakat dapat memperoleh peningkatan pendapatan tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan hutan," ujar Yayat.
Baca juga: Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan pupuk organik berbasis bioenzim yang memanfaatkan bahan-bahan alami. Mahasiswa KKNT IPB juga membagikan bibit tanaman produktif kepada para petani penggarap di kawasan perhutanan sosial KTH Wanariksa.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, KKNT IPB University berharap pengelolaan perhutanan sosial di Desa Cisero dapat semakin memperkuat praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, kelestarian hutan tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya