Adi mengatakan, kolaborasi diperlukan karena keberhasilan penanaman tidak cukup hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.
"Memilih lokasi ini selain karena mangrove di TWA Teluk Kupang, juga tempat lain yang menjadi areal-areal kritis. Dan memang di dalam kegiatan penanaman ini tentunya selain penanaman, kita juga harus berupaya bagaimana memastikan tanaman itu tetap tumbuh, dengan kegiatan perawatan dan pemeliharaan," jelasnya.
BBKSDA NTT berjanji aksi penanaman tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Menurut Adi, keberhasilan rehabilitasi kawasan konservasi justru sangat ditentukan oleh perawatan, pemeliharaan, dan monitoring setelah bibit ditanam.
Karena itu, masyarakat yang selama ini berinteraksi langsung dengan kawasan konservasi dilibatkan dalam proses pemeliharaan.
Petugas BBKSDA NTT akan melakukan pembinaan dan monitoring secara rutin bersama masyarakat untuk memastikan tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
"Yang paling banyak berinteraksi dengan kawasan itu kan masyarakat. Tentunya petugas kita melakukan pembinaan dan monitoring secara rutin kepada masyarakat untuk tetap melakukan kegiatan monitoring dan perawatan," ujarnya.
Selain pemantauan, evaluasi terhadap pertumbuhan tanaman juga dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penanaman.
"Termasuk kegiatan evaluasi. Di monitoring tadi kita lihat pertumbuhannya. Tentunya seremonial penting, tapi ada hal yang lebih penting adalah perawatan terhadap tanaman itu sendiri. Itu yang menjadi target dari kegiatan penanaman ini," tegas Adi.
Adi berharap aksi penanaman tersebut dapat membantu memulihkan kawasan-kawasan kritis sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem alam.
"Pertama tentunya kita mengembalikan areal-areal yang kritis bisa menjadi hijau kembali. Kemudian yang kedua, mudah-mudahan ini bisa menjadi media kolaborasi antar pihak, menyampaikan bahwa penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem sumber daya alam, khususnya di ekosistem mangrove," katanya.
TWA Teluk Kupang memiliki nilai penting bagi ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati di Pulau Timor.
Ekosistem mangrove di kawasan tersebut berfungsi sebagai pelindung wilayah pesisir sekaligus habitat berbagai jenis satwa dan kawasan persinggahan burung-burung migran.
Karena itu, rehabilitasi mangrove dinilai tidak hanya berkaitan dengan penanaman pohon, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
"Melalui kegiatan penanaman tersebut, kami berharap rehabilitasi kawasan konservasi dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, terutama masyarakat yang berada di sekitar kawasan," pungkas Adi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya