Editor
KOMPAS.com – Tumpukan sampah organik dari aktivitas pasar tradisional di Desa Sumbersari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, mulai diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sampah organik yang sebelumnya berpotensi menumpuk dan menimbulkan persoalan lingkungan kini diolah menjadi pupuk kompos menggunakan teknologi large-scale compost tumbler system.
Hal yang menarik, fasilitas pengolahan tersebut tidak berhenti sebagai bantuan peralatan. Pengelolaannya diserahkan kepada kelompok pemuda Karang Taruna setempat agar pengolahan sampah dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
Baca juga: Limbah Pertanian di Lampung Berpotensi Jadi Investasi Hijau dan Ekonomi Sirkular
Sebagai informasi, inisiatif tersebut merupakan bagian dari program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026 yang diinisiasi tim dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Telkom University (Tel-U), dengan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dalam program tersebut, sejumlah sarana pengolahan sampah diserahkan kepada masyarakat, mulai dari compost tumbler, mesin pemotong, hingga mesin pencacah sampah.
Ketua tim program dari Program Studi Geofisika Unpad, Kusnahadi Susanto, PhD, mengatakan, penyediaan fasilitas tersebut diarahkan agar material dari sampah tetap memiliki nilai dan dapat berputar di tingkat desa.
Baca juga: Ubah Sampah Jadi Nilai: Saat Sekolah Menjadi Motor Ekonomi Sirkular
Menurut dia, keberadaan alat perlu dibarengi dengan pelatihan dan pendampingan agar teknologi yang diberikan benar-benar dapat digunakan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Pelatihan dan pendampingan menjadi bagian penting agar sistem pengolahan sampah ini berjalan sesuai kebutuhan lapangan,” ujar Kusnahadi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (11/8/2026).
Pendekatan tersebut menjadi penting karena tujuan program bukan sekadar menyerahkan fasilitas kepada masyarakat. Pengelolaan diharapkan dapat terus berjalan setelah program selesai sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Baca juga: Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
Gagasan pengolahan sampah ini bermula dari penjajakan yang dilakukan pada akhir 2025. Saat itu, tim menemukan bahwa limbah pasar di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum belum terkelola secara optimal.
Sampah yang tidak tertangani berpotensi ditumpuk atau dibuang begitu saja. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan persoalan bau, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, Desa Sumbersari sebenarnya telah memiliki alur dasar pengelolaan sampah. Namun, kualitas pengomposan sebelumnya belum memiliki standar yang konsisten sehingga hasilnya belum optimal untuk dikembangkan sebagai produk yang dapat dipasarkan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, compost tumbler digunakan sebagai salah satu teknologi pengolahan. Sistem ini menggunakan drum horizontal tertutup yang dapat diputar secara mekanis dan dilengkapi ventilasi pasif.
Baca juga: Dukung Ekonomi Sirkular, Peruri Sulap Limbah Produksi Jadi Paving Block
Mekanisme tersebut membantu proses pencampuran bahan baku agar lebih merata sehingga pembusukan alami dapat berlangsung secara lebih terkontrol.
Dari proses tersebut, sampah organik diharapkan menghasilkan kompos berkualitas yang tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lingkungan, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi bagi pengelola.
Karang Taruna Bina Bakti kemudian menjadi salah satu aktor penting dalam keberlanjutan program. Para pemuda telah mendapatkan pelatihan teknis serta pendampingan terkait Standar Operasional Prosedur (SOP).
Pelatihan mencakup cara mengoperasikan sistem, melakukan pencatatan harian, hingga menangani kemungkinan kendala teknis pada mesin.
Baca juga: Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Selain aspek teknis, pendampingan juga dilakukan dari sisi kelembagaan. Hal ini dilakukan agar pengelolaan fasilitas dapat terus berjalan dengan melibatkan pemerintah desa.
Program tersebut juga melibatkan sejumlah akademisi dari berbagai bidang. Dr Kartika Hajar Kirana dari Unpad berfokus pada aspek lingkungan dan praktik pengomposan.
Sementara itu, Husneni Mukhtar, PhD dari Tel-U menangani aspek kelistrikan, mekanisme pendukung alat, serta kelayakan teknologi tepat guna.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyelesaikan persoalan sampah di Desa Sumbersari. Program juga menjadi ruang bagi mahasiswa dari kedua perguruan tinggi untuk belajar sekaligus terlibat dalam penyelesaian persoalan lingkungan yang terjadi di masyarakat.
Baca juga: Ekonomi Sirkular dari Pesisir Jakarta...
Ke depan, tim gabungan akan melakukan pemantauan rutin terhadap pengoperasian fasilitas pengolahan sampah tersebut. Data operasional harian akan digunakan untuk melihat jumlah sampah yang berhasil direduksi sekaligus memantau konsistensi kualitas kompos.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti pada upaya mengurangi limbah. Lebih jauh, sampah dapat masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan dan membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat Desa Sumbersari.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya