Menurut dia, pola sosialisasi yang selama ini dilakukan masih cenderung menempatkan remaja sebagai penerima program, bukan sebagai subjek yang memahami kebutuhan kesehatan mereka sendiri.
"Tugas ini buat Bu (Maria) Endang (Sumiwi, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan), banyak dari mereka yang tidak mengerti sehingga merasa jadi objek saja. Dikasih, ya dikasih gitu saja. Anak-anaknya tidak dilibatkan secara inklusif," ucap Budi.
Budi mengatakan, program TTD terutama ditujukan untuk mencegah anemia pada remaja putri. Kondisi anemia ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) di bawah 12 gram per desiliter (g/dL).
Menurut dia, pencegahan anemia pada remaja putri juga berkaitan dengan kesehatan generasi berikutnya ketika mereka memasuki usia reproduksi.
"Kalau anemia, nanti saat menikah dan punya anak, kemungkinan besar anaknya stunting. Dan tahu tidak apa masalah anak stunting? Bukan hanya pendek, tapi perkembangan intelektualnya jauh di bawah normal," ujar Budi.
Karena itu, Budi menilai intervensi kesehatan untuk mencegah stunting perlu dilakukan jauh sebelum kehamilan, salah satunya dengan memastikan calon ibu tidak mengalami anemia.
Ia mendorong pembentukan Posyandu Remaja serta optimalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) agar edukasi mengenai anemia dapat dilakukan secara lebih dekat dengan kehidupan remaja.
Baca juga: Temuan BFA: Konsumsi Ikan Tinggi, Stunting Tak Turun, Salah Kaprah Gizi Sebabnya
Dengan pendekatan tersebut, remaja putri diharapkan tidak sekadar mengonsumsi TTD karena menerima instruksi, tetapi memahami manfaatnya bagi kesehatan mereka sendiri.
"Mereka harus jadi subjek. Mereka tahu kalau nanti menikah, mereka mau anaknya pintar-pintar, tidak mau yang intelektualnya rendah. Oleh karena itu, mereka sadar sendiri tidak boleh anemia," tutur Budi.
Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora menilai tingginya angka anemia pada remaja putra dan putri menjadi indikasi bahwa program pencegahan anemia, termasuk pemberian TTD, masih perlu diperkuat.
Menurut Angelina, cakupan pendaftaran CKG memang sudah besar. Namun, masih terdapat kesenjangan antara jumlah anak yang terdaftar dengan jumlah anak yang menjalani pemeriksaan dasar secara lengkap.
Selain itu, manfaat deteksi dini melalui CKG juga belum optimal apabila hasil pemeriksaan tidak diikuti dengan penanganan medis yang memadai.
"Penguatan tindak lanjut CKG Anak juga sejalan dengan upaya pencapaian visi Indonesia Emas 2045 serta Asta Cita ke-4 yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan produktif," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya