Ia menganggap, pemahaman karakteristik api dan ekosistem yang terbakar dapat menentukan respons maupun strategi pemulihan kawasan TNBTS.
Secara ekologis, kata dia, terjadinya kebakaran bergantung pada tiga unsur utama. Yaitu, bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di kawasan alam, seperti TNBTS, bahan bakar tersebut berasal dari biomassa yang terdapat di permukaan tanah, seperti daun, bunga, buah, atau kayu.
Selama musim kemarau, biomassa tersebut menjadi lebih kering, sehingga semakin mudah terbakar. Apalagi, ekosistem savana memiliki karakteristik terbuka dengan paparan panasnya tinggi dan angin bisa menyebar sangat cepat, meski biomassa-nya tergolong sedikit dibandingkan hutan lebat.
Kondisi ini membuat api dapat menyebar dengan cepat ketika percikan api mengenai vegetasi yang kering. Oleh karena itu, karakteristik lanskap dan kondisi vegetasi perlu menjadi pertimbangan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.
Dalam perspektif ekologi, api merupakan salah satu bentuk gangguan (disturbance) terhadap dinamika ekosistem. Ketika terjadi gangguan, ekosistem pada dasarnya memiliki kemampuan untuk merespons dan memulihkan diri.
Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap memberikan dampak langsung terhadap komponen ekosistem, terutama tumbuhan yang tidak dapat berpindah untuk menghindari api.
Baca juga: Bromo Ditutup, Omzet Pengusaha Jeep Wisata di Malang Turun hingga 40 Persen
Hilangnya vegetasi akibat kebakaran dapat mengurangi tempat berlindung sekaligus sumber pakan bagi satwa liar. Imbasnya, satwa liar terdorong untuk berpindah mencari ruang yang lebih aman.
“Apabila satwa liar memiliki waktu yang cukup, mereka akan berupaya melarikan diri. Persoalannya adalah, apakah masih tersedia ruang aman bagi mereka untuk berlindung? Jika tidak, mereka terpaksa memasuki kawasan pemukiman penduduk,” ucapnya.
Migrasi satwa ke kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia berpotensi memicu kenaikan risiko konflik antara manusia dan satwa. Ini memperparah dampak karhutla yang dapat mengancam fasilitas pariwisata dan permukiman warga yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya