KOMPAS.com - Satelit yang lebih canggih, perangkat lunak pelacak yang lebih pintar, serta puluhan tahun perjanjian dan aturan, semuanya belum mampu menghentikan maraknya praktik illegal fishing skala besar.
Melansir Earth, Senin (17/8/2026) sebuah analisis baru yang luas menunjukkan bahwa hal ini bukanlah kebetulan atau kegagalan teknologi. Penyebab utamanya adalah seluruh sistem perikanan global saat ini secara tidak langsung memang membuat bisnis praktik ikan ilegal tetap menguntungkan.
Riset tersebut dipimpin oleh Philippe Le Billon dan Rashid Sumaila dari University of British Columbia (UBC).
“Praktik illegal fishing bukanlah kegiatan pinggiran biasa, melainkan bagian dari sistem ekonomi perikanan dunia. Hal ini terjadi karena lemahnya pengawasan, subsidi yang merusak, struktur perusahaan yang tidak transparan, serta rantai pasok internasional yang rumit,” kata Le Billon.
“Praktik illegal fishing tetap menguntungkan karena risikonya rendah sedangkan hasilnya sangat besar,” tambahnya.
Baca juga: BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
“Meskipun teknologi pendeteksi makin canggih, penegakan hukum dan pertanggungjawabannya masih sangat tertinggal, terutama bagi armada kapal industri besar yang beroperasi jauh dari jangkauan publik,” terangnya lagi.
Angka di balik keuntungan bisnis tersebut sangat fantastis.
Praktik penangkapan ikan skala industri yang ilegal dan tidak dilaporkan menyumbang sekitar 8 hingga 15 persen dari total tangkapan laut dunia yang bernilai 6,2 miliar hingga 12,2 miliar dolar AS setiap tahunnya.
Meskipun kegiatan ini terjadi di mana-mana, dampaknya sama sekali tidak merata. Sekitar dua pertiga dari nilai perdagangan ilegal tersebut berasal dari Afrika Barat, Asia Timur, dan Asia Tenggara.
Wilayah-wilayah ini adalah tempat di mana penegakan hukum cenderung paling lemah, padahal sektor perikanan bukan sekadar industri sampingan, melainkan tumpuan utama pangan dan lapangan kerja warga lokal.
Sementara itu, sebagian besar hasil laut yang ditangkap secara ilegal tersebut justru berakhir di meja makan masyarakat Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur, pasar-pasar terkaya di dunia.
“Dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat sebagian besar ditanggung oleh negara-negara berkembang di kawasan pesisir, sementara keuntungan ekonominya mengalir ke tempat lain,” jelas Sumaila.
Ikan hasil tangkapan ilegal tidak hanya hilang begitu saja di pasar gelap. Ikan-ikan ini sengaja "dicuci" agar bisa masuk ke dalam rantai pasok yang sama dengan ikan yang ditangkap secara sah.
Baca juga: Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir
Praktik memindahkan hasil tangkapan antar kapal di tengah laut, memalsukan dokumen, memalsukan label jenis ikan, dan mencampur ikan ilegal dengan ikan legal membuat ikan curian dengan mudah lolos melewati pelabuhan, pabrik pengolahan, hingga penjual eceran tanpa ada yang menyadarinya.
Pengawasan pelabuhan yang lemah, penegakan aturan internasional yang tidak merata, serta ketiadaan transparansi mengenai pemilik asli kapal membuat praktik curang ini menjadi sangat mudah dilakukan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya