Dana jumbo ini diraih untuk memperkuat model dasar kecerdasan buatan dan platform pembuatan video berbasis AI milik mereka.
Besarnya nilai investasi tersebut memperlihatkan bahwa persaingan AI makin membutuhkan modal yang sangat raksasa. Perusahaan harus saling senggol untuk membuat model AI dan membeli kapasitas komputer yang kuat untuk melatih serta menjalankannya.
Infrastruktur AI menjadi sektor yang paling banyak mendapat kucuran dana, yaitu mencapai 4,3 miliar dolar AS dari 56 transaksi. Angka ini dipimpin oleh investasi untuk Kling AI serta MiniMax (1,2 miliar dolar AS), disusul perusahaan lain seperti PixVerse, Zelostech, dan SiliconFlow.
Sektor fasilitas pusat data berada di urutan berikutnya dengan raihan 2,2 miliar dolar AS dari empat transaksi, yang semuanya dikumpulkan oleh Princeton Digital Group. Jika digabungkan, sektor infrastruktur AI dan pusat data menyerap lebih dari 65 persen dari total seluruh dana investasi yang ada.
Pusat pendanaan ini terjadi karena melonjaknya kebutuhan akan komputer canggih untuk mengembangkan AI generative. Singapura sendiri terus berusaha menambah kapasitas komputer ini sambil tetap menghemat listrik, salah satunya lewat Peta Jalan Pusat Data Hijau yang diluncurkan pada 2024.
Baca juga: Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Investasi AI juga mulai menyebar ke sektor teknologi industri lainnya. Sektor teknologi logistik berhasil menarik dana 940 juta dolar AS dari 19 transaksi, kendaraan otonom 900 juta dolar AS dari 9 transaksi, dan teknologi regulasi 562 juta dolar AS dari 23 transaksi.
Tracxn menyebutkan bahwa tren ini menunjukkan minat investor yang makin luas. Investor tidak lagi hanya melirik riset produk, tetapi mulai menyuntikkan modal ke platform dan aplikasi AI yang siap pakai untuk kebutuhan bisnis harian.
“Seiring ekosistem AI yang makin matang, fase pertumbuhan berikutnya akan ditentukan oleh makin banyaknya perusahaan yang mampu berkembang pesat, menarik investasi lanjutan, serta meluaskan penggunaan AI di berbagai sektor industri,” tulis laporan Tracxn.
Ke depannya, investasi diprediksi akan bertahap menyebar ke negara-negara Asia Tenggara lainnya seiring berkembangnya pasar modal ventura di wilayah tersebut. Walau begitu, Singapura diperkirakan akan tetap mempertahankan posisinya sebagai pusat pencarian dana paling utama di kawasan ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya