Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keanekaragaman Hayati Jadi Modal Ekonomi Baru Indonesia

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 13:45 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Environmental, Social, and Governance (ESG) perlu ditempatkan lebih dari sekadar sebagai instrumen kepatuhan atau label bisnis. ESG harus diposisikan sebagai kerangka untuk mengintegrasikan risiko lingkungan dan sosial ke dalam keputusan bisnis dan investasi.

‎Implementasi ESG perlu didukung indikator yang terukur, transparansi, dan akuntabilitas untuk menghindari greenwashing atau praktik manipulasi dengan menciptakan citra ramah lingkungan secara tidak jujur.

‎"KEHATI terus secara aktif mendorong perusahaan dan juga investor untuk membangun investasi berbasis ESG untuk pembangunan dan pengembangan ekonomi berbasiskan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan dan terus memberikan pengetahuan dan mendukung lokal community," ujar Direktur Yayasan KEHATI Riki Frindos dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).

Baca juga: Saatnya Fasilitas Kesehatan Memimpin ESG

‎Ia menggarisbawahi pentingnya ESG untuk pembangunan berbasis keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

Menurutnya, cara memandang keanekaragaman hayati perlu diubah, dari sekadar aset konservasi, menjadi modal alam (natural capital) untuk sumber pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan daya saing Indonesia di masa depan.

Selama ini, konservasi dan bisnis kerap diposisikan sebagai dua kepentingan yang berlawanan. Konservasi dianggap membatasi kegiatan ekonomi. Sedangkan bisnis identik dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk menghasilkan keuntungan.

‎"Konservasi dan pertumbuhan ekonomi tidak harus ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan.

‎Sebaliknya, kekayaan alam yang dikelola secara berkelanjutan dapat menjadi sumber inovasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus keunggulan kompetitif Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi global," ucapnya.

‎Padahal, pergeseran kondisi ekonomi global menunjukkan bahwa keberlanjutan bisnis semakin bergantung pada keberlanjutan alam.

Krisis iklim, kehilangan biodiversitas, degradasi tanah, pencemaran air, sampai gangguan rantai pasok, telah berkembang menjadi risiko bisnis dan investasi.

‎'The New Economy of Nature' menawarkan perubahan paradigma bahwa alam bukan hanya sumber daya yang diekstraksi. Namun, alam merupakan fondasi yang memungkinkan kegiatan ekonomi berlangsung dalam jangka panjang.

Model ekonomi baru

‎Indonesia masih menghadapi tantangan untuk bergerak dari pola pemanfaatan komoditas mentah menuju model ekonomi yang mengandalkan riset, teknologi, inovasi, pengolahan, dan diferensiasi berbasis keberlanjutan.

Salah satu peluangnya, bioekonomi atau pengembangan sumber daya biologis secara berkelanjutan menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Di antaranya, pangan, farmasi, kosmetik, biomaterial, dan energi.

‎"Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya bagaimana melindungi hutan dan spesies, tetapi juga bagaimana menjadikan konservasi sebagai bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi," tutur Riki.

‎Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menekankan pentingnya melihat peluang bioekonomi, nature-based solutions, investasi hijau, dan ESG sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Ia menganggap, Indonesia saat ini harus melakukan langkah perbaikan model ekonomi. 

Baca juga: Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis

‎"Salah satu yang cocok adalah model ekonomi yang bisa mempertahankan alam dan memberikan nilai tambah untuk lokal community yang mengelola alam di lapangan, tidak lagi mengenai pengembangan dengan model ekstraktif," ujar Bhima.

‎Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat mengatakan, penguatan regulasi, investasi hijau, penerapan bioekonomi, dan mekanisme yang memastikan manfaat ekonomi diterima secara adil oleh masyarakat lokal menjadi bagian penting dari strategi nilai tambah dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.

‎Nilai bagi lingkungan 

‎Pendiri PT Mahorahora Bumi Nusantara Slamet Sudijono mengatakan, ethical sourcing, keterlacakan produk, dan penguatan kapasitas sangat penting agar masyarakat lokal dapat menjadi bagian yang setara dalam rantai pasok bioekonomi.

‎“Melalui gula aren kita mencoba untuk mempraktikan ekonomi of nature, menjaga manisnya tradisi, warisan berkah nusantara dari hutan dan petani Indonesia untuk dunia dan kelestarian hutan.” ujar Slamet.

‎Senada, Director of Corporate Affairs PT Paragon Technology and Innovation, Astri Wahyuni menegaskan pentingnya rantai pasok berkelanjutan, ketelusuran bahan baku, keterlibatan masyarakat, serta kolaborasi antara industri dan peneliti. 

‎Menurut Astri, bahan-bahan berbasis biodiversitas dapat menjadi sumber inovasi dan diferensiasi produk industri.

‎"Perjalanan untuk Sustainability tidak akan menemukan garis finish, sehingga kami juga terus melakukan inovasi-inovasi untuk mengembangkan nature resource," tutur Astri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau