KOMPAS.com - Environmental, Social, and Governance (ESG) perlu ditempatkan lebih dari sekadar sebagai instrumen kepatuhan atau label bisnis. ESG harus diposisikan sebagai kerangka untuk mengintegrasikan risiko lingkungan dan sosial ke dalam keputusan bisnis dan investasi.
Implementasi ESG perlu didukung indikator yang terukur, transparansi, dan akuntabilitas untuk menghindari greenwashing atau praktik manipulasi dengan menciptakan citra ramah lingkungan secara tidak jujur.
"KEHATI terus secara aktif mendorong perusahaan dan juga investor untuk membangun investasi berbasis ESG untuk pembangunan dan pengembangan ekonomi berbasiskan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan dan terus memberikan pengetahuan dan mendukung lokal community," ujar Direktur Yayasan KEHATI Riki Frindos dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Baca juga: Saatnya Fasilitas Kesehatan Memimpin ESG
Ia menggarisbawahi pentingnya ESG untuk pembangunan berbasis keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.
Menurutnya, cara memandang keanekaragaman hayati perlu diubah, dari sekadar aset konservasi, menjadi modal alam (natural capital) untuk sumber pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan daya saing Indonesia di masa depan.
Selama ini, konservasi dan bisnis kerap diposisikan sebagai dua kepentingan yang berlawanan. Konservasi dianggap membatasi kegiatan ekonomi. Sedangkan bisnis identik dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk menghasilkan keuntungan.
"Konservasi dan pertumbuhan ekonomi tidak harus ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan.
Sebaliknya, kekayaan alam yang dikelola secara berkelanjutan dapat menjadi sumber inovasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus keunggulan kompetitif Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi global," ucapnya.
Padahal, pergeseran kondisi ekonomi global menunjukkan bahwa keberlanjutan bisnis semakin bergantung pada keberlanjutan alam.
Krisis iklim, kehilangan biodiversitas, degradasi tanah, pencemaran air, sampai gangguan rantai pasok, telah berkembang menjadi risiko bisnis dan investasi.
'The New Economy of Nature' menawarkan perubahan paradigma bahwa alam bukan hanya sumber daya yang diekstraksi. Namun, alam merupakan fondasi yang memungkinkan kegiatan ekonomi berlangsung dalam jangka panjang.
Indonesia masih menghadapi tantangan untuk bergerak dari pola pemanfaatan komoditas mentah menuju model ekonomi yang mengandalkan riset, teknologi, inovasi, pengolahan, dan diferensiasi berbasis keberlanjutan.
Salah satu peluangnya, bioekonomi atau pengembangan sumber daya biologis secara berkelanjutan menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Di antaranya, pangan, farmasi, kosmetik, biomaterial, dan energi.
"Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya bagaimana melindungi hutan dan spesies, tetapi juga bagaimana menjadikan konservasi sebagai bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi," tutur Riki.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menekankan pentingnya melihat peluang bioekonomi, nature-based solutions, investasi hijau, dan ESG sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Ia menganggap, Indonesia saat ini harus melakukan langkah perbaikan model ekonomi.
Baca juga: Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
"Salah satu yang cocok adalah model ekonomi yang bisa mempertahankan alam dan memberikan nilai tambah untuk lokal community yang mengelola alam di lapangan, tidak lagi mengenai pengembangan dengan model ekstraktif," ujar Bhima.
Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat mengatakan, penguatan regulasi, investasi hijau, penerapan bioekonomi, dan mekanisme yang memastikan manfaat ekonomi diterima secara adil oleh masyarakat lokal menjadi bagian penting dari strategi nilai tambah dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.
Pendiri PT Mahorahora Bumi Nusantara Slamet Sudijono mengatakan, ethical sourcing, keterlacakan produk, dan penguatan kapasitas sangat penting agar masyarakat lokal dapat menjadi bagian yang setara dalam rantai pasok bioekonomi.
“Melalui gula aren kita mencoba untuk mempraktikan ekonomi of nature, menjaga manisnya tradisi, warisan berkah nusantara dari hutan dan petani Indonesia untuk dunia dan kelestarian hutan.” ujar Slamet.
Senada, Director of Corporate Affairs PT Paragon Technology and Innovation, Astri Wahyuni menegaskan pentingnya rantai pasok berkelanjutan, ketelusuran bahan baku, keterlibatan masyarakat, serta kolaborasi antara industri dan peneliti.
Menurut Astri, bahan-bahan berbasis biodiversitas dapat menjadi sumber inovasi dan diferensiasi produk industri.
"Perjalanan untuk Sustainability tidak akan menemukan garis finish, sehingga kami juga terus melakukan inovasi-inovasi untuk mengembangkan nature resource," tutur Astri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya