Penulis
KOMPAS.com - Salah satu hambatan terbesar dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat bukanlah keengganan memilah, melainkan ketiadaan kepastian pasar di tingkat hilir.
Banyak fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) dan bank sampah yang akhirnya gulung tikar karena material terpilah masyarakat gagal diserap oleh industri akibat standar spesifikasi yang tidak cocok atau ketiadaan pembeli.
Keberadaan pembeli dari sektor swasta merupakan "rantai yang hilang" (missing link) dalam mewujudkan ekonomi sirkular yang utuh. Tanpa kepastian penyerapan industri, aktivitas pemilahan dari rumah tangga hingga TPS3R akan berujung pada darurat penumpukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Menjawab tantangan darurat sampah nasional ini, model integrasi hulu-hilir yang menghubungkan kelompok masyarakat pengelola sampah langsung dengan manufaktur sebagai pengguna bahan baku daur ulang mulai diterapkan secara konkret di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Inisiatif kemitraan strategis ini menghubungkan TPS3R Baraya Runtah Desa Sukaluyu dengan PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills Karawang (unit usaha APP Group) yang bertindak langsung sebagai penampung (off-taker) material daur ulang kertas dan karton.
PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills Karawang bersama KSM Sahabat Lingkungan meluncurkan "Program Kemitraan Strategis Ekonomi Sirkular Pengelolaan Sampah di TPS3R Baraya Runtah", Perumnas Telukjambe, Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang.
Didukung Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karawang, program ini mendorong pengelolaan sampah terintegrasi dari masyarakat hingga industri.
Peluncuran program ditandai pelepasan pengiriman perdana dua kendaraan pikap berisi material hasil pemilahan dari TPS3R menuju industri.
Dalam kemitraan ini, Pindo Deli Karawang berperan sebagai off-taker untuk menyerap karton dan kertas putih hasil pemilahan yang memenuhi spesifikasi serta kebutuhan teknis perusahaan.
Kehadiran off-taker diharapkan memberikan jalur penyerapan yang lebih jelas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah yang telah dipilah masyarakat.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH/ BPLH, Agus Rusly mengatakan kolaborasi antara masyarakat, pengelola sampah, pemerintah, dan sektor swasta menjadi penting dalam menjawab persoalan pengelolaan sampah di Indonesia.
Menurutnya, kepastian pasar menjadi salah satu faktor yang dibutuhkan agar kegiatan pemilahan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat terus berkembang.
"Yang sedang kita hadapi bersama di Indonesia saat ini adalah darurat sampah. Tidak satu pun daerah sekarang yang tidak bermasalah dengan urusan sampahnya," ungkap Agus Rusly.
"Inisiatif kerja sama antara kelompok masyarakat, TPS3R, dan pihak swasta seperti Pindo Deli ini dapat menjadi salah satu model bagaimana swasta dapat menyerap atau menjadi off-taker dari produk hasil pemilahan sampah, sehingga dapat menjadi sumber alternatif bahan baku bagi industri,” ujarnya.
Baca juga: Warga Cibodas Tangerang Ubah Sampah Jadi Dana untuk Fasilitas dan Kegiatan Sosial
Agus menambahkan, keberadaan off-taker memberikan kepastian penyerapan bagi material yang dikumpulkan masyarakat melalui TPS3R maupun bank sampah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya