Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat

Kompas.com, 23 Agustus 2026, 19:12 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Anomali cuaca dan lonjakan titik panas (hotspot) kembali menempatkan wilayah lahan gambut dan vegetasi kering di Sumatra Selatan dalam ancaman kritis kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketika lonjakan hotspot menembus angka hingga 80 persen dalam kurun beberapa pekan, pemadaman udara (water bombing) maupun pengerahan helikopter tak lagi cukup jika tidak diimbangi dengan benteng pertahanan paling awal yakni deteksi dini di tingkat komunitas lokal.

Pembukaan lahan secara tradisional dengan cara membakar (sonor) serta kelalaian kecil seperti buangan puntung rokok di atas vegetasi kering  kerap menjadi pemicu utama kebakaran masif yang sulit dikendalikan.

Di wilayah rawan seperti lanskap lahan gambut Cengal, jarak tempuh lokasi yang terisolasi menjadikan keterlambatan laporan beberapa jam saja berampak fatal bagi meluasnya kobaran api.

Menjawab tantangan tersebut, efektivitas penanganan karhutla kini bertumpu pada pergeseran paradigma dari tindakan responsif menuju kedaulatan pencegahan berbasis partisipasi warga (community-based fire prevention).

Sinergi lintas sektor antara aparat keamanan, pemerintah desa, Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) industri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) dihadirkan untuk mengunci potensi api dari sumber terkecil.

Langkah konsolidasi dan pencegahan dini ini diterapkan secara terpadu di Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI, guna meredam lonjakan hotspot dan mengejar target wilayah bebas api melalui kolaborasi lintas sektor melibatkan kepolisian, TNI, pemerintah desa, masyarakat, dan perusahaan.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan silaturahmi dan sosialisasi pencegahan karhutla yang berlangsung di Balai Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, OKI, Sabtu (22/8/2026).

Bhabinkamtibmas Polsek Cengal, Brigpol Raden Hidayat, mewakili Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan peningkatan titik panas menjadi perhatian bersama, terutama karena kebakaran yang tidak segera ditangani dapat dengan cepat meluas.

“Pada kesempatan ini seyogianya pesan ini disampaikan langsung oleh Kapolres OKI, namun beliau berhalangan hadir. Kami menyampaikan kepada masyarakat bahwa dalam beberapa minggu terakhir titik hotspot di wilayah ini meningkat hampir 80 persen. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dan kewaspadaan kita bersama,” ujar Raden Hidayat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur TNI, perwakilan pimpinan dari delapan desa di Kecamatan Cengal, yakni Desa Ulak Kedondong, Sungai Jeruju, Kuala Sungai Jeruju, Sungai Pasir, Kuala Sungai Pasir, Balam Jeruju, Somor, dan Kebun Cabe.

Turut hadir perwakilan PT Bumi Mekar Hijau, PT RPP, PT Sampoerna, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK), serta tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Raden Hidayat mengajak masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran di lingkungan sekitar.

“Kami mengajak masyarakat untuk segera melaporkan apabila melihat titik api atau kebakaran. Jika memungkinkan, lakukan penanganan awal dan jangan menunggu api membesar karena dapat dengan cepat meluas,” katanya.

Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan praktik sonor karena berisiko menimbulkan kebakaran dan memiliki konsekuensi hukum.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau