KOMPAS.com - Selain memasukkan materi perubahan iklim dan keanekaragaman hayati ke dalam kurikulum, para peneliti menilai sudut pandang etika yaitu cara kita menggambarkan hubungan manusia dengan alam juga sangat penting untuk mengajarkan anak-anak agar peduli pada lingkungan.
Melansir Phys, Jumat (21/8/2026) menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Ecological Economics, siswa sekolah dasar merespons lebih kuat ketika alam dijelaskan berdasarkan manfaatnya bagi manusia, bukan nilai alam itu sendiri.
"Secara umum, para pendidik sering menjelaskan isu lingkungan melalui dua sudut pandang etika yang berbeda yakni antroposentrisme yang berfokus pada manfaat bagi manusia, dan ekosentrisme yang menekankan nilai alami lingkungan itu sendiri," kata Akinori Kitsuki, profesor di Kyushu University.
Contoh antroposentrisme ini misalnya saja menjelaskan manfaat hutan mangrove bagi manusia. Hutan itu penting agar pemukiman warga di pesisir tidak terkena bencana abrasi dan gelombang tsunami.
Baca juga: Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Sementara sebagai perbandingan, ekosentrisme menjelaskan pohon dan tumbuhan di hutan bagian dari jaring-jaring kehidupan, terlepas apakah berguna bagi manusia atau tidak.
"Kita tahu sudut pandang ini memengaruhi cara anak-anak belajar dan peduli pada lingkungan, tetapi selama ini buktinya masih sangat sedikit. Celah itulah yang ingin kami teliti," paparnya lagi.
Untuk menelitinya, tim peneliti berangkat ke Kushiro, kawasan rawa-rawa terbesar di Jepang sekaligus lokasi cagar alam pertamanya.
Meskipun dilindungi sebagai taman nasional, lahan basah ini menghadapi ancaman dari pembangunan di sekitarnya, termasuk perluasan ladang panel surya yang sangat cepat. Menyeimbangkan antara pembangunan dan pelestarian alam membutuhkan keterlibatan aktif dari warga setempat.
Para peneliti mengadakan uji coba di seluruh 21 sekolah dasar di Kota Kushiro. Mereka menguji dua versi program edukasi lingkungan berdurasi 45 menit. Semua isi pelajarannya sama persis, kecuali bagian pembukaannya yang mengajukan satu pertanyaan: Mengapa kita harus melindungi Kushiro?
Versi pertama menjawab dari sudut pandang manfaat lahan basah tersebut bagi manusia, seperti penyedia air minum, pencegah banjir, hingga tempat rekreasi.
Versi kedua menjelaskan bagaimana lahan basah dijaga oleh rantai kehidupan antar-makhluk hidup mulai dari salamander hingga burung bangau serta alasan mengapa jaring kehidupan tersebut sangat berharga.
Survei susulan yang dilakukan seminggu kemudian menemukan bahwa hanya siswa yang menerima versi jawaban pertama yakni penjelasan manfaat alam bagi manusia lah yang menunjukkan peningkatan kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara siswa yang menerima versi kedua tidak mengalami perubahan sama sekali. Sepanjang pengetahuan para peneliti, ini adalah studi pertama yang membuktikan secara nyata bahwa perbedaan sudut pandang cerita dalam edukasi lingkungan menghasilkan dampak belajar yang berbeda.
"Jujur, saya tidak menyangka perbedaan kecil dalam cara bercerita bisa menghasilkan hasil yang begitu berbeda," terang Kitsuki.
"Salah satu alasannya mungkin karena cerita yang berfokus pada manfaat manusia terasa lebih dekat dengan kehidupan anak-anak sehari-hari, sehingga memangkas jarak psikologis antara mereka dan lingkungan," paparnya lagi.
Para peneliti juga menguji apakah efek pelajaran di kelas ini menular ke para orang tua.
Meskipun perbedaan sudut pandang cerita tidak begitu berpengaruh pada orang tua, kepedulian orang tua terhadap lingkungan tetap meningkat setelah anak mereka mengikuti kelas tersebut. Ini menunjukkan adanya proses belajar antar generasi, di mana apa yang dipelajari anak di sekolah ikut memengaruhi sikap keluarga di rumah.
Baca juga: Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Ke depannya, tim peneliti berencana menguji penelitian ini ke kelompok usia lain, termasuk orang dewasa, serta mengumpulkan lebih banyak bukti tentang bagaimana sudut pandang etika memengaruhi cara belajar. Pada akhirnya, mereka berharap hasil temuan ini dapat memberikan masukan bagi kebijakan lingkungan maupun penyusunan kurikulum sekolah.
Kitsuki menegaskan bahwa hasil penelitian ini bukan berarti sudut pandang yang berfokus pada manusia (antroposentris) lebih baik daripada sudut pandang kelestarian alam (ekosentris).
Walaupun pendekatan manfaat manusia bisa meningkatkan minat jangka pendek murid, memahami nilai alami lingkungan itu sendiri tetap sangat penting untuk menjaga kelestarian jangka panjang dan menciptakan masyarakat yang berkelanjutan. Tantangannya, menurut dia, terletak pada bagaimana para pendidik menyampaikan gagasan-gagasan tersebut.
Khusus untuk pesan yang berfokus pada kelestarian alam, pengalaman langsung seperti kegiatan lapangan dapat membantu murid terhubung dengan alam secara lebih pribadi dan bertahan lama.
"Edukasi lingkungan perlu melihat lebih jauh dari sekadar materi teknis," tutup Kitsuki.
"Etika lingkungan jarang sekali dibahas dalam pelatihan guru, padahal sudut pandang etika yang dipilih pendidik adalah bagian penting dari cara mereka merancang pelajaran. Kami berharap penelitian ini mendorong para pendidik untuk lebih memikirkan pilihan tersebut," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya