Julinton mengatakan, komposisi setiap bahan akan dioptimalkan melalui penelitian. Parameter yang diuji antara lain viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, kemampuan kembali tercampur (redispersibility), tegangan permukaan, pembentukan droplet, kompatibilitas material, hingga kinerja pemadaman.
“Komposisi masing-masing komponen tidak ditetapkan secara arbitrer, tetapi akan dioptimalkan berdasarkan viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, redispersibilitas, tegangan permukaan, pembentukan droplet, kompatibilitas material, dan kinerja pemadaman,” ucapnya.
Dalam penggunaannya, bahan tersebut dirancang agar dapat dicampurkan ke dalam tangki air sebelum penyemprotan.
Namun, konsentrasi optimum CASSA-P belum ditetapkan. Peneliti masih perlu menentukan formulasi yang memiliki kemampuan retensi baik tanpa menyebabkan viskositas terlalu tinggi, sedimentasi, maupun penyumbatan pada pompa dan nozzle.
Secara taktis, bahan retardant berbasis pati singkong dan APP tersebut berpotensi digunakan melalui operasi udara maupun darat.
Baca juga: Karhutla dan El Niño Sebabkan Penurunan Produksi Sawit, Program B50 Perlu Ditinjau Ulang
Untuk penyemprotan dari udara, formulasi harus memiliki karakteristik viskositas dan distribusi ukuran droplet yang sesuai. Hal tersebut diperlukan untuk mengurangi kehilangan akibat drift dan penguapan sekaligus menjaga kemampuan pompa dan nozzle.
Sementara itu, penggunaan drone dapat diarahkan untuk penyemprotan secara presisi pada titik awal kebakaran, sisi atau flank kebakaran, spot fire, maupun pembentukan jalur retardant pada vegetasi yang belum terbakar.
Kamera termal juga dapat digunakan untuk membantu menemukan titik panas dan mengevaluasi kemungkinan api kembali menyala setelah penyemprotan.
Adapun dalam operasi darat, cairan dapat disemprotkan langsung pada bahan bakar vegetasi di sekitar titik api atau area yang perlu dilindungi.
Bahan tersebut juga dapat digunakan untuk membentuk retardant line, yakni jalur vegetasi yang telah dilapisi bahan retardant untuk memperlambat perambatan api.
Meski demikian, teknologi CASSA-P tidak ditujukan untuk menggantikan seluruh metode pemadaman yang telah tersedia.
Pada kebakaran dengan intensitas tinggi, teknologi tersebut lebih diarahkan untuk mendukung respons awal, mengendalikan penyebaran api, melindungi area strategis, dan menangani *spot fire.
Penggunaannya tetap perlu diintegrasikan dengan personel di lapangan dan sistem pemadaman lainnya.
Julinton mengatakan, penggunaan bahan berbasis pati singkong juga perlu mempertimbangkan aspek keselamatan lingkungan.
Menurut dia, meskipun pati singkong berasal dari biomassa terbarukan, formulasi CASSA-P belum dapat langsung diklaim sebagai bahan yang 100 persen dapat terurai secara hayati (biodegradable) atau tidak beracun.
Karena itu, dampak lingkungan menjadi salah satu parameter utama yang masih perlu diuji dalam pengembangan teknologi tersebut.
Pengujian antara lain mencakup biodegradabilitas, fitotoksisitas, dampak terhadap organisme tanah dan air, kandungan serta pelepasan fosfat dan nitrogen, hingga karakteristik residu setelah pembakaran.
Julinton menegaskan, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungan teknologi berbasis pati singkong tersebut masih harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur.
Dengan demikian, pengembangan CASSA-P saat ini masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan, sebelum dapat diterapkan secara lebih luas sebagai teknologi pendukung penanganan karhutla.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya