Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Peringatkan Kerugian Akibat Kerusakan Lahan Jauh Melampaui Biaya Restorasi

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 22:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banyak negara mengeluarkan terlalu sedikit uang untuk memulihkan tanah yang rusak, padahal kerugian ekonomi akibat membiarkannya bisa menembus hampir 1 triliun dollar AS per tahun.

Peringatan itu disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBB Amina Mohammed dalam konferensi tanah PBB di Mongolia.

Melansir laman resmi United Nations, Selasa (25/8/2026) dalam kesempatan tersebut Mohammed meminta pemerintah tidak lagi sekadar membuat proyek pemulihan lahan kecil-kecilan.

Ia mendesak mereka segera menjalankan rencana nasional yang didukung dana pasti serta memberikan hak suara lebih besar kepada masyarakat yang hidup dari mengolah tanah.

Baca juga: Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia

Di seluruh dunia, hingga 40 persen tanah telah mengalami kerusakan sehingga mengganggu produksi pangan dan mata pencaharian, sementara bencana kekeringan melonjak 29 persen lebih sering dan lebih lama sejak tahun 2000.

Pada tahun 2050, sebanyak tiga dari empat orang di dunia diperkirakan akan terkena dampak kekeringan.

Lebih dari 70 negara telah menyusun rencana penanganan kekeringan tingkat nasional dengan bantuan UNCCD. Namun tantangannya saat ini, menurut Mohammed adalah memastikan negara-negara tersebut memiliki dana dan sumber daya untuk menjalankannya.

“Negara-negara tidak boleh diminta membuat rencana nasional lalu dibiarkan mencari sendiri cara mewujudkannya. Dukungan dana harus siap untuk didanai sesuai prioritas yang telah ditetapkan oleh masing-masing negara,” katanya.

Mohammed juga mengungkapkan adanya jarak yang sangat besar antara dana yang dibutuhkan untuk memulihkan tanah dengan dana yang benar-benar disalurkan saat ini.

“Jika menggunakan tren saat ini, kita hanya akan menginvestasikan sekitar 77 miliar dolar AS per tahun dari total 355 miliar dolar AS yang dibutuhkan setiap tahunnya,” katanya.

Sedangkan biaya akibat membiarkan lahan jauh lebih mahal, yakni setidaknya 878 miliar dolar AS per tahun.

Sementara itu, memulihkan lahan yang rusak bisa menghasilkan keuntungan sekitar 1,8 triliun dolar AS setiap tahun, di mana setiap 1 dolar yang diinvestasikan diperkirakan akan memberikan hasil kembali antara 7 hingga 30 dolar.

“Lahan yang sehat bukanlah barang mewah untuk lingkungan. Lahan sehat adalah modal yang produktif. Tanah adalah infrastruktur, daerah aliran sungai adalah infrastruktur dan padang rumput adalah aset yang menghasilkan,” ujar Mohammed.

Kerusakan lahan merusak pendapatan para petani dan peternak, memicu kenaikan harga pangan, menurunkan hasil pertanian, serta memberi beban yang makin berat pada pasokan air dan energi.

Di sisi lain, bencana kekeringan makin memperberat beban ekonomi, memaksa pemerintah mengeluarkan lebih banyak uang untuk bantuan darurat, subsidi, dan perbaikan fasilitas. Di saat yang sama, negara kehilangan pendapatan dari pajak dan, dalam beberapa kasus, terpaksa menambah utang baru.

Baca juga: Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian

Mohammed mendesak negara-negara untuk memasukkan ketahanan lahan dan antisipasi kekeringan ke dalam rencana pembangunan serta anggaran belanja negara, mengubah subsidi yang merusak lingkungan, dan memanfaatkan skema baru seperti obligasi hijau hingga asuransi kekeringan.

Ia juga meminta bank-bank pembangunan dunia untuk menyediakan pinjaman murah dan jaminan dana guna menarik lebih banyak investasi swasta, khususnya bagi para petani kecil dan usaha lokal.

Mohammed juga menekankan bahwa para petani, peternak, dan warga lokal yang mengelola tanah harus diberi hak suara dalam menentukan bagaimana dana pemulihan digunakan, serta mendapatkan kepastian hak atas tanah yang mereka pulihkan.

“Lahan yang sehat memberikan sesuatu yang paling mendasar bagi warga yakni kemampuan untuk membangun masa depan di tanah kelahiran mereka sendiri dan hidup dengan sejahtera,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau