BLITAR, KOMPAS.com – Mobil Toyota Hiace Premio terparkir di halaman bangunan joglo di Dusun Ngade, Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada Kamis (27/8/2026) pagi.
Pintu belakang dan samping kiri mobil terbuka penuh sehingga terlihat isi di dalamnya yang menyerupai sebuah laboratorium mini. Dua mikroskop berada di atas meja kecil yang berdiri persis di bagian dalam pintu samping.
Pada lambung kiri dan kanan mobil terdapat tulisan yang berbunyi “Klinik Tanaman Terpadu. Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian – IPB University, Bogor”.
“Ini Mobil Klinik Tanaman yang dibawa tim dosen dan mahasiswa IPB dari Bogor. Nanti petani yang ikut acara bisa konsultasi masalah hama dan penyakit tanaman yang mereka hadapi di sini,” ujar Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Kabupaten Blitar, Choirul Anam.
Baca juga: IPB Kembangkan Sorgum Varietas Unggul, Potensi Produksi 5,79 Ton Per Hektare
Acara yang dimaksud Choirul adalah bagian dari program bertajuk Dosen Pulang Kampung dan Safari Klinik Tanaman 2026, sebuah program pengabdian masyarakat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University. Dalam kegiatan itu, P4S Kabupaten Blitar berperan sebagai mitra lokal.
Kehadiran Mobil Klinik Tanaman menjadi bagian dari program Dosen Pulang Kampung di Blitar. Di dalam mobil tersebut terdapat peralatan laboratorium portabel seperti mikroskop, alat uji tanah PH tanah, alat uji kemanisan buah, alat uji kandungan air, alat ukur agen hayati dan lain sebagainya.
Mobil Klinik Tanaman dari Fakultas Pertanian IPB sudah ada sejak lebih dari 15 tahun lalu.
Sekitar pukul 08.00 WIB, puluhan peserta petani, laki-laki dan perempuan, mulai berdatangan ke lokasi. Beberapa dari mereka terlihat membawa ranting tanaman yang masih segar dengan daun yang masih terlihat hijau.
Mereka menyerahkan potongan ranting tanaman itu kepada mahasiswa perempuan yang duduk di belakang meja mikroskop di dalam ruang penumpang mobil.
Peserta lainnya terlihat sedang mengonsultasikan masalah tanaman pertaniannya kepada seorang mahasiswa laki-laki yang mengenakan rompi bertuliskan “Dokter Tanaman”.
“Sejauh ini sudah ada 9 kasus gangguan pada tanaman yang kami terima di Mobil Klinik Tanaman ini. Nanti akan kami identifikasi jenis gangguannya, hama dan penyakitnya apa,” ujar Bonjok Istiadi, dosen Fakultas Pertanian IPB yang menjadi pengawas Mobil Klinik Tanaman tersebut.
Hasil identifikasi gangguan pada tanaman yang disampaikan para peserta serta cara mengatasi gangguan tersebut disampaikan dalam sesi terakhir acara yang juga menjadi sesi paling menyedot antusiasme para petani dan sekaligus sesi paling lama.
Pada sesi itu, terjadi dialog interaktif yang dinamis saat satu per satu persoalan tanaman yang disampaikan sebelumnya di Mobil Klinik dibahas oleh “tim Dokter Tanaman” yang dipimpin Bonjok. Dalam setiap persoalan yang dipresentasikan tim, peserta selalu antusias memberikan umpan balik dan pertanyaan.
“Sesi seperti ini memang selalu menarik bagi para petani karena membahas cukup detail persoalan yang sedang mereka hadapi dengan tanaman mereka,” kata Bonjok.
Baca juga: IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Beberapa persoalan gangguan pada tanaman yang disampaikan para petani, antara lain, serangan hama pada tanaman alpukat, penyakit pada tanaman kelapa, penyakit pada tanaman pepaya, penyakit pada tanaman kacang tanah, dan lain sebagainya.
Selain menjadi bagian dari pengabdian masyarakat, kata Bonjok, program itu juga menjadi instrumen untuk terus memperkuat keterhubungan antara dunia riset keilmuan di perguruan tinggi dengan dinamika persoalan pertanian yang dihadapi masyarakat.
M Walid, salah satu peserta, mengungkapkan besarnya manfaat yang ia dapatkan dari acara tersebut.
“Dari acara ini saya baru tahu kalau ada penyakit cendawan pada pohon kelapa. Saya kira ancaman pada kelapa itu hanya kwangwung (kumbang badak),” ujar pria alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) itu.
Padahal, dia sedang memulai perkebunan agroforestry di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar dimana telah tertanam ratusan pohon kelapa. Pada sesi itu, Walid juga menyampaikan penyakit pada ratusan tanaman pepaya miliknya.
“Bertani itu gampang-gampang susah. Selain harus mengikuti perkembangan teknologi yang relevan, kita juga harus memahami ilmu tanaman yang cukup kompleks. Apalagi dengan ekosistem saat ini yang sudah rusak,” ujar Walid.
Sebelum sesi pemaparan persoalan hama dan penyakit tanaman, tiga orang mahasiswa memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR) berbasis mikroba.
Setelah pelatihan pembuatan pupuk organik cair, tim memaparkan alat deteksi cuaca yang dapat memberikan panduan bagi petani untuk menentukan langkah apa saja dalam berbudi daya di bidang pertanian dan perkebunan.
Ketua Tim Blitar Program Dosen Pulang Kampung, Ruly Anwar, mengatakan bahwa acara tersebut merupakan salah satu dari 170 acara dalam bingkai Program Dosen Pulang Kampung dari IPB untuk tahun 2026.
“Ini seperti KKN-nya mahasiswa. Selain bentuk pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari upaya membangun relevansi dunia akademis dengan dinamika sosial dalam hal ini di bidang pertanian di masyarakat,” ujar doktor pengajar ilmu proteksi tanaman pada Fakultas Pertanian IPB itu.
Tim Blitar, kata dia, terdiri dari tiga dosen dan empat mahasiswa, termasuk mahasiswa paska-sarjana.
Selain memberikan pelatihan dan menyediakan fasilitas konsultasi persoalan budi daya tanaman pertanian, tim juga akan memasang alat deteksi cuaca di sekitar Sekretariat P4S di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar yang menjadi tuan rumah kegiatan.
Alat yang disebut Automatic Weather Station (AWS) itu dapat memberikan panduan bermanfaat tentang kondisi cuaca hingga 14 hari ke depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya