Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RI Didorong Perkuat Daur Hidup Mineral Kritis

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 08:05 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia perlu memperkuat ketersediaan data penilaian daur hidup atau Life Cycle Assessment (LCA) mineral kritis sebagai dasar pengambilan keputusan sekaligus mendukung pengembangan industri baterai yang berkelanjutan.

Kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya tuntutan transparansi jejak karbon dalam perdagangan global, termasuk melalui Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan Regulasi Baterai Uni Eropa (EU Battery Regulation).

Regulasi tersebut mendorong transparansi mengenai jejak karbon produk, termasuk melalui skema battery passport.

Baca juga: Daerah Penghasil Nikel Tanggung Kerugian Ekologi yang Besar

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PR SIMB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Adi Sasongko mengatakan, Indonesia sebagai negara dengan sumber daya mineral besar memiliki peluang menjadi pemain utama dalam industri baterai.

Namun, peluang tersebut harus diikuti kemampuan membangun ekosistem industri yang kompetitif, rendah karbon, dan bertanggung jawab. Salah satu fondasinya adalah ketersediaan data dan sistem pengukuran yang kredibel.

"Kita tidak dapat mengelola apa yang tidak kita teliti dan kita tidak dapat mengklaim keberlanjutan tanpa memahami seluruh daur hidupnya," ujar Nugroho, dilansir dari laman resmi BRIN, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Nugroho, label hijau yang melekat pada suatu produk atau teknologi tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh rantai pasoknya telah berkelanjutan.

Hal ini terutama penting pada industri baterai kendaraan listrik yang memiliki rantai nilai panjang, mulai dari penambangan dan pengolahan mineral, pemurnian, produksi material, manufaktur baterai, penggunaan, hingga proses daur ulang.

Karena itu, setiap tahapan dalam rantai nilai tersebut perlu diperhitungkan untuk mengetahui besarnya emisi maupun dampak lingkungan yang dihasilkan.

Indonesia butuh data sendiri

Nugroho mengatakan, kebutuhan terhadap data yang merepresentasikan kondisi Indonesia menjadi semakin penting. Pasalnya, industri dalam negeri masih banyak bergantung pada basis data sekunder global atau *global generic databases*.

Basis data tersebut belum tentu menggambarkan kondisi produksi di Indonesia, termasuk karakteristik teknologi, tingkat efisiensi energi, serta bauran kelistrikan yang digunakan.

Padahal, perbedaan teknologi dan sumber energi dapat menghasilkan profil emisi yang berbeda meski menghasilkan produk yang sama.

Karena itu, Indonesia perlu memiliki basis data LCA yang mencerminkan karakteristik industri dan kondisi domestik.

Dalam pengembangannya, BRIN bersama Minviro mengembangkan pendekatan yang mengombinasikan LCA konvensional dengan big data dan kecerdasan artifisial (AI).

Integrasi tersebut diarahkan untuk menghasilkan data daur hidup yang lebih representatif sekaligus memperkuat kedaulatan data Indonesia dalam pengambilan keputusan di sektor mineral kritis dan energi transisi.

Baca juga: Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek

"LCA konvensional harus kita kombinasikan dengan big data, supercomputing, dan AI," tutur Nugroho.

Meski demikian, Nugroho menegaskan penggunaan AI tidak berarti seluruh proses penilaian dapat diserahkan kepada teknologi.

Sejumlah aspek mendasar dalam LCA, seperti penentuan batas sistem, alokasi, verifikasi, serta pertanggungjawaban terhadap hasil penilaian, tetap membutuhkan keahlian dan tanggung jawab manusia.

Tuntutan pasar semakin terukur

Menurut Nugroho, penguatan kemampuan pengukuran juga diperlukan karena arah regulasi global semakin menuntut informasi keberlanjutan yang berbasis angka, menggunakan metodologi yang konsisten, serta dapat diverifikasi.

Dengan demikian, perusahaan tidak cukup hanya menyampaikan klaim bahwa produk mereka ramah lingkungan atau rendah karbon.

Indonesia perlu membangun sistem pengukuran dan basis data yang kredibel, dapat dipertanggungjawabkan, serta memiliki peluang untuk diakui dan distandardisasi secara internasional.

"Pesannya sangat jelas, bukan hanya janji hijau, tetapi juga angka yang terkuantifikasi, metodologi, dan verifikator," ucapnya.

Senior Sustainability Scientist Minviro, Irdanto Saputra Lase mengatakan, transparansi profil emisi perlu dilakukan dari sektor hulu hingga hilir dalam rantai pasok mineral kritis.

Hal tersebut mencakup berbagai komoditas strategis, seperti nikel dan bahan baku baterai lithium-ion.

Menurut Irdanto, penghitungan jejak lingkungan mineral kritis memiliki kompleksitas tinggi karena setiap komoditas memiliki jalur produksi dan karakteristik emisi yang berbeda.

Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah

"Setiap mineral kritis memiliki rute produksi yang berbeda dan juga profil emisi karbon yang berbeda," ucapnya.

Ia mencontohkan, perbedaan tersebut dapat dilihat dalam rantai produksi baja, stainless steel, nikel, hingga baterai lithium-ion.

Karena itu, penguatan LCA dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan pengembangan industri mineral kritis dan baterai Indonesia tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memenuhi tuntutan keberlanjutan dan transparansi pasar global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika  Bagi Iklim Global
Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika Bagi Iklim Global
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Larangan Greenwashing, Laporan Keberlanjutan Wajib Diverifikasi
OJK Siapkan Aturan Larangan Greenwashing, Laporan Keberlanjutan Wajib Diverifikasi
Pemerintah
RI Didorong Perkuat  Daur Hidup Mineral Kritis
RI Didorong Perkuat Daur Hidup Mineral Kritis
Pemerintah
Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan
Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan
Swasta
Berhasil Kembangkan Potensi Wisata dan Ekonomi Warga, Desa Sejahtera Astra Bugisan Dikunjungi Wamen PPPA
Berhasil Kembangkan Potensi Wisata dan Ekonomi Warga, Desa Sejahtera Astra Bugisan Dikunjungi Wamen PPPA
Desa Sejahtera Astra
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Pemerintah
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Swasta
Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik
Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik
Pemerintah
Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun
Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun
Pemerintah
Pakar IPB Sebut Karhutla Bisa 'Ubah' Matahari Jadi 'Merah', Ingatkan Bahayanya
Pakar IPB Sebut Karhutla Bisa "Ubah" Matahari Jadi "Merah", Ingatkan Bahayanya
LSM/Figur
OJK Siapkan RPOJK Baru, Verifikasi Laporan Keberlanjutan Wajib Dilakukan
OJK Siapkan RPOJK Baru, Verifikasi Laporan Keberlanjutan Wajib Dilakukan
Pemerintah
Jejak Karbon 'Fast Fashion Bisa Dikurangi' di Seluruh Siklus, Begini Caranya
Jejak Karbon "Fast Fashion Bisa Dikurangi" di Seluruh Siklus, Begini Caranya
Pemerintah
Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim
Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
ADB Targetkan Rp 35 Triliun untuk Pemulihan Lahan di Asia-Pasifik
ADB Targetkan Rp 35 Triliun untuk Pemulihan Lahan di Asia-Pasifik
Pemerintah
Perkuat Fondasi Bisnis, Langkah UMKM Medan Menuju Usaha Berkelanjutan
Perkuat Fondasi Bisnis, Langkah UMKM Medan Menuju Usaha Berkelanjutan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau