Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada 2030

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 14:54 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konsumsi air pusat data secara global diperkirakan dapat membengkak hampir tiga kali lipat, dari 222 miliar liter pada tahun 2025 menjadi 644 miliar liter per tahun pada 2030 jika tidak ada perbaikan efisiensi yang nyata.

Melansir Down to Earth, Jumat (28/8/2026) menurut lembaga riset Rystad Energy, lonjakan kapasitas ini didorong terutama oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pendinginan ekstra besar.

Kendati demikian, lembaga riset energi tersebut memperkirakan bahwa langkah hemat air yang aktif dapat menekan konsumsi air pendingin tahunan menjadi 543 miliar liter dalam skenario sedang dan 388 miliar liter dalam skenario hemat air yang agresif pada tahun 2030.

"Memperkirakan dampak konsumsi air pada pusat data tidaklah sederhana. Penggunaannya sangat bervariasi tergantung pada teknologi pendingin yang dipakai, kondisi iklim, serta apakah kita mengukur air yang diambil atau air yang benar-benar terpakai," ujar Minh Khoi Le, Kepala Riset Data Center & Hydrogen di Rystad Energy.

Baca juga: AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman

Berdasarkan perkiraan Rystad Energy, pusat data telah mengonsumsi 222 miliar liter air secara langsung untuk pendinginan pada tahun 2025. Namun, angka tersebut bisa melonjak hampir tiga kali lipat hingga mendekati 644 miliar liter pada tahun 2030 jika menggunakan skenario utama yang berisiko.

"Penerapan teknologi yang lebih hemat air dapat menekan angka ini menjadi 543 billion liter dalam skenario sedang, atau turun hingga 388 miliar liter dalam skenario hemat air yang agresif. Angka-angka ini hanya menghitung penggunaan air pendingin secara langsung, padahal ada jejak penggunaan air tersembunyi dari pembangkit listrik yang membuat permasalahannya semakin rumit," ujar Le.

Pilihan sistem pendingin tentukan kebutuhan air

Pusat data menggunakan air terutama untuk membuang panas yang dihasilkan oleh perangkat komputer, tetapi jumlah konsumsinya sangat bervariasi tergantung pada teknologi pendingin yang digunakan dan lokasi fasilitas tersebut.

Teknologi pendingin cair langsung pada rak server dapat mengurangi beban panas pada sistem pendingin utama gedung, sekaligus memungkinkan penggunaan sistem pendingin kering yang lebih hemat air.

Beberapa teknologi memang berhasil menghemat penggunaan air di lokasi pusat data, tetapi justru menambah kebutuhan listrik.

Sebagai contoh, pendingin kering dapat menghemat sekitar 2,15 liter air untuk setiap kilowatt-jam (kWh) beban energi komputer, tetapi membutuhkan tambahan listrik sebesar 0,30 hingga 0,74 kWh.

Oleh karena itu, jejak penggunaan air secara tidak langsung bisa sangat besar dan tergantung pada seberapa banyak air yang dipakai oleh pembangkit listrik di wilayah tersebut.

Misalnya saja, di Amerika Serikat, penggunaan air tidak langsung oleh pusat data bahkan bisa mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding penggunaan air secara langsung di lokasi.

Aturan pemerintah belum maksimal

Peraturan pemerintah mengenai penggunaan air oleh pusat data pun mulai bermunculan.

Namun, aturan saat ini baru sebatas mewajibkan perusahaan untuk melaporkan penggunaan air mereka, belum sampai memberikan batas maksimal penggunaan air yang mengikat.

Sebagai gambaran, Komisi Eropa sedang merencanakan paket kebijakan efisiensi energi untuk pusat data yang akan menerapkan sistem label dan standar kinerja.

Baca juga: Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau