
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SELAMA bertahun-tahun, perdebatan mengenai energi di Indonesia hampir selalu berkisar pada harga bahan bakar minyak (BBM), subsidi energi, dan tarif listrik. Energi dipandang sebagai sektor pendukung pembangunan yang tugas utamanya memastikan listrik tetap menyala dan bahan bakar tetap tersedia. Cara pandang tersebut kini tidak lagi memadai.
Energi semakin menentukan di mana investasi dilakukan, bagaimana industri tumbuh, dan seberapa kompetitif produk Indonesia di pasar global. Bagi dunia usaha, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah energi tersedia, tetapi apakah energi tersebut andal, kompetitif, dan semakin rendah emisi.
Perubahan ini terjadi ketika sistem energi global menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Geopolitik, gangguan rantai pasok, dan volatilitas harga komoditas menunjukkan bahwa ketahanan energi tidak dapat dipisahkan dari ketahanan ekonomi.
Indonesia sendiri masih memiliki ketergantungan terhadap energi impor, dengan sekitar 32 persen BBM dan 80 persen LPG berasal dari impor. Sementara itu, produksi minyak domestik terus menurun, hanya sebesar 580.000 barrel per hari, jauh di bawah kebutuhan yang mencapai sekitar 1,8 juta barrel per hari. Gejolak harga energi global pada akhirnya dapat memengaruhi inflasi, anggaran negara, dan biaya produksi dunia usaha.
Di sisi lain, Indonesia memiliki keunggulan struktural. Batu bara masih menjadi sumber utama pembangkitan listrik nasional dan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) membantu menjaga keterjangkauan pasokan serta biaya listrik yang relatif rendah. Model ini selama beberapa dekade turut mendukung industrialisasi dengan menyediakan listrik yang relatif kompetitif.
Namun, kebutuhan industri mulai berubah.
Bagi perusahaan yang berorientasi ekspor dan perusahaan multinasional, akses terhadap energi rendah karbon kini semakin menjadi bagian dari pertimbangan investasi. Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang tidak hanya konsisten tetapi juga semakin rendah karbon. Industri kendaraan listrik, baterai, baja, petrokimia, elektronik, dan berbagai sektor manufaktur menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk mengurangi emisi di sepanjang rantai pasok.
Standar perdagangan global juga semakin memperkuat tren tersebut. Mekanisme seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang diterapkan oleh Uni Eropa meningkatkan pentingnya transparansi emisi dan kinerja karbon dalam perdagangan internasional.
Artinya, energi mulai menjadi bagian dari proposisi daya saing industri Indonesia.
Karena itu, elektrifikasi perlu dilihat bukan hanya sebagai strategi sektor energi, tetapi sebagai bagian dari strategi industrialisasi. Pertumbuhan kendaraan listrik, pengolahan mineral, pusat data, kecerdasan buatan (AI), dan manufaktur bernilai tambah akan meningkatkan kebutuhan listrik secara signifikan.
Di sinilah energi terbarukan memperoleh makna yang lebih strategis. Pengembangannya bukan sekadar untuk memenuhi target emisi, tetapi untuk menyediakan fondasi energi bagi pertumbuhan industri generasi berikutnya.
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mencapai sekitar 3.687 GW. Namun hingga kini kapasitas terpasang baru sekitar 13,8 GW, atau kurang dari 0,5 persen dari total potensinya. Kesenjangan yang lebar menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan lagi soal ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi proyek dan infrastruktur yang dapat dibangun, terhubung ke jaringan, dan dibiayai.
Ini membawa kita pada aspek yang sering kali kurang mendapat perhatian, yakni bankability, atau kelayakan sebuah proyek untuk memperoleh pendanaan. Tantangan transisi energi bukan sekadar mencari modal. Modal untuk infrastruktur dan investasi berkelanjutan semakin tersedia secara global. Tantangan yang lebih mendasar adalah menciptakan proyek yang cukup bankable untuk menarik modal tersebut dalam jangka panjang.
Dalam praktiknya, sebuah proyek energi terbarukan bisa saja secara teknis sudah matang, namun tetap sulit mendapatkan pendanaan karena skema pembelian listriknya belum memberikan kepastian pendapatan yang dapat diterima oleh pemberi pinjaman. Di titik inilah banyak proyek berhenti, bukan di tahap teknologi, melainkan di tahap struktur komersial dan pembagian risiko.
Bagi investor dan pemberi pembiayaan, potensi energi yang besar belum dengan sendirinya membuat sebuah proyek layak investasi. Yang menentukan adalah apakah risiko dan arus kas proyek dapat dipahami dan dikelola dalam jangka panjang.
Kebutuhan energi dan kebutuhan investasi industri semakin tidak dapat dipisahkan. Pembiayaan menjadi salah satu penghubung yang memungkinkan keseluruhan ekosistem energi berkembang.
Pertumbuhan ekonomi digital menciptakan kebutuhan listrik baru, sementara tuntutan terhadap efisiensi dan energi yang lebih rendah emisi mendorong investasi pada infrastruktur yang lebih berkelanjutan. Pembangunan pembangkit energi terbarukan dan jaringan transmisi harus diperluas agar mampu mengintegrasikan sumber energi terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mengalirkannya ke sumber-sumber pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, peran perbankan dalam transisi energi tidak berhenti pada penyediaan modal. Perbankan juga dapat membantu perusahaan memahami kebutuhan investasi, menilai risiko, dan merancang struktur pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik proyek serta strategi bisnis. Kesiapan pembiayaan perlu menjadi bagian dari perencanaan transisi sejak awal, bukan dipikirkan setelah proyek dirancang.
Dari situ, setidaknya ada tiga hal yang perlu berjalan bersamaan agar potensi energi terbarukan Indonesia benar-benar berubah menjadi proyek yang bankable: kepastian pendapatan melalui struktur pembelian listrik yang jelas, instrumen pembiayaan yang mampu menjembatani risiko di tahap awal proyek, dan konsistensi regulasi serta perizinan dari waktu ke waktu. Ketiganya bukan hal baru, tetapi jarang berjalan serentak, dan di situlah banyak proyek kehilangan momentum.
Pada akhirnya, energi bukan lagi sekadar soal menjaga lampu tetap menyala. Energi menentukan industri apa yang dapat tumbuh, investasi apa yang dapat masuk, dan seberapa kompetitif Indonesia dalam ekonomi global.
Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengambil peluang tersebut. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut diterjemahkan menjadi proyek yang layak, investasi yang dapat dibiayai, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya