KOLOM BIZ
Konten ini merupakan Kerjasama Kompas.com dengan Tenggara Strategics
Anthonius Sehonamin
Head of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia

Anthonius Sehonamin merupkaan praktisi perbankan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di industri jasa keuangan Indonesia. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia dengan fokus pada pengembangan bisnis korporasi dan dukungan terhadap ekspansi perusahaan. Sebelum menempati posisi tersebut, ia menghabiskan lebih dari dua dekade di Citibank dan memegang berbagai peran kepemimpinan di bidang corporate banking, manajemen risiko, dan capital market. Anthon meraih gelar Master of Business Administration dari Melbourne Business School, Universitas of Melbourne, Australia.

Energi Bukan Lagi Sekadar Menjaga Lampu Tetap Menyala

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 21:56 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SELAMA bertahun-tahun, perdebatan mengenai energi di Indonesia hampir selalu berkisar pada harga bahan bakar minyak (BBM), subsidi energi, dan tarif listrik. Energi dipandang sebagai sektor pendukung pembangunan yang tugas utamanya memastikan listrik tetap menyala dan bahan bakar tetap tersedia. Cara pandang tersebut kini tidak lagi memadai.

Energi semakin menentukan di mana investasi dilakukan, bagaimana industri tumbuh, dan seberapa kompetitif produk Indonesia di pasar global. Bagi dunia usaha, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah energi tersedia, tetapi apakah energi tersebut andal, kompetitif, dan semakin rendah emisi.

Perubahan ini terjadi ketika sistem energi global menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Geopolitik, gangguan rantai pasok, dan volatilitas harga komoditas menunjukkan bahwa ketahanan energi tidak dapat dipisahkan dari ketahanan ekonomi. 

Indonesia sendiri masih memiliki ketergantungan terhadap energi impor, dengan sekitar 32 persen BBM dan 80 persen LPG berasal dari impor. Sementara itu, produksi minyak domestik terus menurun, hanya sebesar 580.000 barrel per hari, jauh di bawah kebutuhan yang mencapai sekitar 1,8 juta barrel per hari. Gejolak harga energi global pada akhirnya dapat memengaruhi inflasi, anggaran negara, dan biaya produksi dunia usaha.

Di sisi lain, Indonesia memiliki keunggulan struktural. Batu bara masih menjadi sumber utama pembangkitan listrik nasional dan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) membantu menjaga keterjangkauan pasokan serta biaya listrik yang relatif rendah. Model ini selama beberapa dekade turut mendukung industrialisasi dengan menyediakan listrik yang relatif kompetitif.

Namun, kebutuhan industri mulai berubah.

Bagi perusahaan yang berorientasi ekspor dan perusahaan multinasional, akses terhadap energi rendah karbon kini semakin menjadi bagian dari pertimbangan investasi. Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang tidak hanya konsisten tetapi juga semakin rendah karbon. Industri kendaraan listrik, baterai, baja, petrokimia, elektronik, dan berbagai sektor manufaktur menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk mengurangi emisi di sepanjang rantai pasok.

Standar perdagangan global juga semakin memperkuat tren tersebut. Mekanisme seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang diterapkan oleh Uni Eropa meningkatkan pentingnya transparansi emisi dan kinerja karbon dalam perdagangan internasional.

Artinya, energi mulai menjadi bagian dari proposisi daya saing industri Indonesia.

Karena itu, elektrifikasi perlu dilihat bukan hanya sebagai strategi sektor energi, tetapi sebagai bagian dari strategi industrialisasi. Pertumbuhan kendaraan listrik, pengolahan mineral, pusat data, kecerdasan buatan (AI), dan manufaktur bernilai tambah akan meningkatkan kebutuhan listrik secara signifikan.

Di sinilah energi terbarukan memperoleh makna yang lebih strategis. Pengembangannya bukan sekadar untuk memenuhi target emisi, tetapi untuk menyediakan fondasi energi bagi pertumbuhan industri generasi berikutnya.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mencapai sekitar 3.687 GW. Namun hingga kini kapasitas terpasang baru sekitar 13,8 GW, atau kurang dari 0,5 persen dari total potensinya. Kesenjangan yang lebar menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan lagi soal ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi proyek dan infrastruktur yang dapat dibangun, terhubung ke jaringan, dan dibiayai.

Ini membawa kita pada aspek yang sering kali kurang mendapat perhatian, yakni bankability, atau kelayakan sebuah proyek untuk memperoleh pendanaan. Tantangan transisi energi bukan sekadar mencari modal. Modal untuk infrastruktur dan investasi berkelanjutan semakin tersedia secara global. Tantangan yang lebih mendasar adalah menciptakan proyek yang cukup bankable untuk menarik modal tersebut dalam jangka panjang.

Dalam praktiknya, sebuah proyek energi terbarukan bisa saja secara teknis sudah matang, namun tetap sulit mendapatkan pendanaan karena skema pembelian listriknya belum memberikan kepastian pendapatan yang dapat diterima oleh pemberi pinjaman. Di titik inilah banyak proyek berhenti, bukan di tahap teknologi, melainkan di tahap struktur komersial dan pembagian risiko.

Bagi investor dan pemberi pembiayaan, potensi energi yang besar belum dengan sendirinya membuat sebuah proyek layak investasi. Yang menentukan adalah apakah risiko dan arus kas proyek dapat dipahami dan dikelola dalam jangka panjang. 

Kebutuhan energi dan kebutuhan investasi industri semakin tidak dapat dipisahkan. Pembiayaan menjadi salah satu penghubung yang memungkinkan keseluruhan ekosistem energi berkembang. 

Pertumbuhan ekonomi digital menciptakan kebutuhan listrik baru, sementara tuntutan terhadap efisiensi dan energi yang lebih rendah emisi mendorong investasi pada infrastruktur yang lebih berkelanjutan. Pembangunan pembangkit energi terbarukan dan jaringan transmisi harus diperluas agar mampu mengintegrasikan sumber energi terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mengalirkannya ke sumber-sumber pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, peran perbankan dalam transisi energi tidak berhenti pada penyediaan modal. Perbankan juga dapat membantu perusahaan memahami kebutuhan investasi, menilai risiko, dan merancang struktur pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik proyek serta strategi bisnis. Kesiapan pembiayaan perlu menjadi bagian dari perencanaan transisi sejak awal, bukan dipikirkan setelah proyek dirancang.

Dari situ, setidaknya ada tiga hal yang perlu berjalan bersamaan agar potensi energi terbarukan Indonesia benar-benar berubah menjadi proyek yang bankable: kepastian pendapatan melalui struktur pembelian listrik yang jelas, instrumen pembiayaan yang mampu menjembatani risiko di tahap awal proyek, dan konsistensi regulasi serta perizinan dari waktu ke waktu. Ketiganya bukan hal baru, tetapi jarang berjalan serentak, dan di situlah banyak proyek kehilangan momentum.

Pada akhirnya, energi bukan lagi sekadar soal menjaga lampu tetap menyala. Energi menentukan industri apa yang dapat tumbuh, investasi apa yang dapat masuk, dan seberapa kompetitif Indonesia dalam ekonomi global.

Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengambil peluang tersebut. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut diterjemahkan menjadi proyek yang layak, investasi yang dapat dibiayai, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
Listrik dari Laut, Potensi Energi Baru di Filipina
Listrik dari Laut, Potensi Energi Baru di Filipina
LSM/Figur
Energi Bukan Lagi Sekadar Menjaga Lampu Tetap Menyala
Energi Bukan Lagi Sekadar Menjaga Lampu Tetap Menyala
Pemerintah
Mengubah Kebiasaan Makan Anak, dari Bekal di Sekolah hingga Meja Makan di Rumah
Mengubah Kebiasaan Makan Anak, dari Bekal di Sekolah hingga Meja Makan di Rumah
Swasta
Pohon di Hutan Sulit Beradaptasi saat Hadapi Kekeringan Panjang
Pohon di Hutan Sulit Beradaptasi saat Hadapi Kekeringan Panjang
Pemerintah
BEI Luncurkan Label Saham Hijau, Dorong Modal Masuk ke Perusahaan Rendah Karbon
BEI Luncurkan Label Saham Hijau, Dorong Modal Masuk ke Perusahaan Rendah Karbon
Swasta
Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai
Studi Ungkap Potensi Bahaya Mikroplastik dari Gelas Kopi Sekali Pakai
Pemerintah
Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada  2030
Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada 2030
LSM/Figur
Polusi Berbahaya Di Balik Keindahan Kembang Api
Polusi Berbahaya Di Balik Keindahan Kembang Api
Pemerintah
Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika  Bagi Iklim Global
Peneliti Tegaskan Pentingnya Peran Antarktika Bagi Iklim Global
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Larangan Greenwashing, Laporan Keberlanjutan Wajib Diverifikasi
OJK Siapkan Aturan Larangan Greenwashing, Laporan Keberlanjutan Wajib Diverifikasi
Pemerintah
RI Didorong Perkuat  Daur Hidup Mineral Kritis
RI Didorong Perkuat Daur Hidup Mineral Kritis
Pemerintah
Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan
Tak Cukup Hanya Hemat Energi, Teknologi Cerdas Kini Jadi Kunci Efisiensi Bangunan Berkelanjutan
Swasta
Berhasil Kembangkan Potensi Wisata dan Ekonomi Warga, Desa Sejahtera Astra Bugisan Dikunjungi Wamen PPPA
Berhasil Kembangkan Potensi Wisata dan Ekonomi Warga, Desa Sejahtera Astra Bugisan Dikunjungi Wamen PPPA
Desa Sejahtera Astra
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Pemerintah
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Swasta
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau