JAKARTA, KOMPAS.com – “Mbak Tamara, Mbak Debora.”
Sapaan itu kini hampir selalu terdengar ketika Tamara Karent dan Debora Intan datang ke sekolah-sekolah di Lampung Selatan. Dua fasilitator program JAPFA for Kids tersebut awalnya sempat khawatir kehadiran mereka tidak mendapat respons dari anak-anak.
Nyatanya, anak-anak justru menyambut antusias. Setelah hampir dua bulan mendampingi, keduanya mulai akrab dengan siswa, guru, hingga kepala sekolah.
Dari kedekatan itu, Tamara dan Debora mulai melihat kebiasaan yang masih perlu dibenahi. Ada anak yang lebih banyak jajan, bekal yang belum beragam, hingga kebiasaan hidup bersih yang belum terbentuk.
“Pola kebiasaan itu enggak bisa semudah itu diubah,” cerita Tamara kepada Kompas.com, Sabtu (29/8/2026).
Temuan itu kemudian menjadi bagian dari pendampingan mereka. Saat melakukan monitoring, Tamara dan Debora tidak sekadar memeriksa makanan. Mereka juga mengingatkan anak untuk mendahulukan makan sebelum jajan, menghabiskan nasi, sayur, dan lauk, serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Selama hampir dua dekade, PT Japfa Comfeed Indonesia melalui JAPFA for Kids mengajak sekolah dan keluarga memperhatikan persoalan gizi anak.
Baca juga: Menitipkan Harapan pada 7 Butir Telur Tiap Pekan
Dalam implementasinya, program yang dimulai sejak 2008 itu menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA.
Hingga 2025, JAPFA for Kids tercatat telah menjangkau lebih dari 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
Apa yang dilihat Tamara dan Debora di sekolah menunjukkan bahwa kebiasaan makan anak tidak berdiri sendiri. Pilihan jajanan, kebersihan, aktivitas fisik, serta pola yang dibentuk keluarga di rumah ikut membentuk keseharian anak.
Tamara Karent dan Debora Intan, dua fasilitator JAPFA for Kids di Lampung Selatan.Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, 11 persen anak berusia 5-12 tahun berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Persoalannya bukan hanya soal kecukupan asupan, tetapi juga kualitas dan keberagaman makanan. Sebanyak 96,7 persen penduduk usia 5 tahun ke atas masih kurang mengonsumsi sayur dan buah sesuai rekomendasi. Sebanyak 67,5 persen di antaranya hanya mengonsumsi buah dan/atau sayur sekitar satu hingga dua porsi per hari.
Baca juga: Telur, Si Sederhana yang Punya Peran Penting untuk Masa Depan Anak
Angka tersebut menunjukkan tantangan membangun pola makan beragam masih besar, termasuk pada anak.
Ahli gizi (dietitian) Leona Victoria Djajadi, BSc, MND, menjelaskan bahwa gizi anak tidak dapat dilihat hanya dari makanan yang tersaji pada satu waktu. Bahkan, makanan di piring merupakan hasil dari rangkaian proses panjang, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga penyimpanan.
Pilihan camilan dan kebiasaan hidup bersih juga perlu diperhatikan. Sebab, pemenuhan gizi bukan sesuatu yang berlangsung dalam satu kali makan.
“Gizi anak pun tidak bisa dilihat dari satu piring dalam satu waktu saja, tapi dari usaha konsisten orangtuanya setiap hari,” ujar perempuan yang karib disapa Ria itu saat dihubungi Kompas.com, Senin (31/8/2026).
Artinya, pemenuhan gizi berjalan bersama dengan kebiasaan yang dibangun di rumah. Sementara itu, sekolah dapat menjadi tempat untuk memperkenalkan sekaligus mengulang perilaku sehat.
Ria menambahkan, guru dapat membantu dengan konsisten mengedukasi anak dan orangtua agar membawa makanan yang bergizi, berimbang, dan beragam.
Baca juga: Kemerdekaan dalam Sepiring Makanan Anak...
Kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan sebelum makan, membawa bekal, serta menyertakan sayur atau buah, juga perlu dilakukan berulang hingga menjadi kebiasaan.
Hal tersebut juga menjadi pendekatan dalam Hari Sehat JAPFA yang dilakukan di sekolah dampingan. Anak tidak hanya diberi tahu mengenai perilaku sehat, tetapi langsung mempraktikkannya.
Menurut Ria, perubahan perilaku dapat menjadi tanda awal bahwa edukasi mulai berjalan. Misalnya, anak mulai mencuci tangan tanpa diingatkan, menyadari ketika sabun habis, lebih sering membawa bekal, atau mulai memasukkan protein, sayur, dan buah ke dalam makanannya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya