Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Reaktor Nuklir Skala Kecil Berpotensi Dukung Penyediaan Air Bersih di Daerah Terpencil

Kompas.com, 1 September 2026, 13:50 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Karakteristik Indonesia yang memiliki banyak daerah terpencil membuka peluang pemanfaatan reaktor nuklir skala kecil atau menengah untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mendukung penyediaan air bersih.

Salah satu penerapannya adalah mengintegrasikan reaktor nuklir dengan sistem desalinasi air laut.

Guru Besar bidang Fisika Nuklir FMIPA ITB, Zaki Su'ud mengatakan, energi dari reaktor nuklir dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk mengolah air laut menjadi air bersih.

Baca juga: NEPIO Berpotensi Terlalu Gemuk, ITB Ingatkan Birokrasi Bikin Capaian Target PLTN Bergerak Lambat

Menurut dia, pemanfaatan tersebut dapat dilakukan dengan mengalihkan energi reaktor untuk proses desalinasi ketika kebutuhan listrik sedang rendah. Misalnya, pada siang hari ketika aktivitas masyarakat menurun atau ketika pasokan energi surya sedang melimpah.

"Meskipun rencana utamanya adalah untuk pembangkitan listrik, terdapat berbagai aplikasi lain seperti desalinasi, peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery), gasifikasi batu bara, serta penyediaan energi untuk proses industri," ujar Zaki dalam sebuah webinar, Senin (31/8/2026).

Menurut Zaki, integrasi nuklir dengan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, juga dapat menjadi bagian dari sistem energi yang lebih stabil.

Nuklir dapat berperan sebagai compensator bagi karakter energi surya yang bersifat intermiten karena bergantung pada kondisi cuaca. Dengan kombinasi tersebut, kebutuhan penyimpanan energi dalam baterai skala besar dapat ditekan.

Berpotensi hasilkan hidrogen

Selain pembangkitan listrik dan desalinasi, Zaki mengatakan, reaktor nuklir juga berpotensi dimanfaatkan untuk menghasilkan panas yang kemudian digunakan dalam berbagai proses industri.

Dalam jangka panjang, panas dari reaktor dapat diarahkan untuk mendukung produksi hidrogen hijau. Hidrogen tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan bakar untuk mendukung proses dekarbonisasi, termasuk pada sektor transportasi dan industri berat.

Karena itu, menurut Zaki, pengembangan reaktor nuklir di Indonesia tidak hanya perlu dilihat dari sisi kemampuannya menghasilkan listrik, tetapi juga dari berbagai pemanfaatan lain yang dapat diintegrasikan dengan kebutuhan di suatu wilayah.

Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus mempertimbangkan aspek keselamatan dan karakteristik lokasi pembangunan reaktor.

Zaki mengatakan, keselamatan merupakan aspek utama dalam pengembangan pembangkit nuklir. Karena memiliki risiko tinggi, pembangunan dan pengoperasian reaktor harus mengikuti prosedur serta standar keselamatan yang ketat.

Dalam menentukan lokasi atau tapak reaktor, terdapat sedikitnya 19 aspek yang perlu diperhitungkan. Evaluasi tersebut mencakup berbagai kemungkinan gangguan dari lingkungan sekitar.

Baca juga: Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah Fondasi Tak Kasatmata Keselamatan PLTN

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah keberadaan jalur kereta api di sekitar lokasi. Analisis dilakukan untuk memperhitungkan risiko apabila terjadi kecelakaan kereta yang membawa bahan kimia berbahaya.

Kedekatan lokasi dengan bandara juga perlu diperhitungkan untuk mengantisipasi potensi kecelakaan pesawat yang dapat berdampak terhadap fasilitas reaktor.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau