KOMPAS.com - Masyarakat pesisir di seluruh dunia kini menghadapi ancaman banjir yang makin parah dari dua arah sekaligus. Permukaan air laut terus meningkat, sementara di banyak daerah padat penduduk, permukaan tanahnya justru makin tenggelam.
Melansir Science Daily, Minggu (2/8/2026) para peneliti dari Technical University of Munich (TUM) dan Tulane University menemukan bahwa penurunan tanah ini memperparah tingkat kenaikan air laut yang dirasakan oleh jutaan warga pesisir.
Lebih dari setengah miliar orang tinggal di kawasan pesisir yang rendah. Hal ini menempatkan mereka di garis depan dalam menghadapi salah satu tantangan paling serius dari perubahan iklim.
Tim peneliti dari Institut Penelitian Geodesi Jerman di TUM (DGFI-TUM) dan Tulane University di New Orleans melaporkan dalam jurnal Nature Communications bahwa orang-orang yang tinggal di daerah pesisir padat penduduk mengalami kenaikan air laut rata-rata sekitar 6 milimeter per tahun.
Baca juga: Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Kecepatan tersebut hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari rata-rata global di garis pantai dunia yaitu 2,1 milimeter per tahun. Angka ini juga hampir dua kali lipat lebih cepat dibanding kenaikan air laut murni akibat perubahan iklim yang berkisar 3,15 milimeter per tahun.
Penyebab utama dari perbedaan ini adalah penurunan tanah, yaitu amblesnya permukaan tanah secara bertahap di bawah kota-kota dan pemukiman pesisir.
Penyebab pasti amblesnya tanah tidak selalu mudah ditentukan karena beberapa faktor bisa terjadi secara bersamaan.
Beberapa penyebab utamanya adalah penyedotan air tanah secara berlebihan, penambangan minyak dan gas, pemadatan endapan lumpur muda di muara sungai, serta beban berat dari pembangunan kota-kota yang makin besar.
Proses alam juga ikut berpengaruh, seperti pergeseran lempeng bumi dan penyesuaian kerak bumi setelah mencairnya lapisan es purba.
"Beban berat bangunan kota, ditambah proses geologi jangka panjang, makin memperparah amblesnya tanah. Akibatnya, kita sendiri yang memperbesar dampak dari kenaikan air laut yang dipicu perubahan iklim," ujar Dr. Julius Oelsmann, penulis utama penelitian dan peneliti di DGFI-TUM.
Baca juga: Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Beberapa kota tenggelam sangat cepat
Thailand, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Tiongkok, dan Indonesia termasuk di antara negara-negara yang mengalami kenaikan air laut relatif paling tinggi. Rata-rata kenaikan di wilayah pesisir berpenduduk mereka berkisar antara 7 hingga 10 milimeter per tahun.
Amerika Serikat, Belanda, dan Italia juga mengalami peningkatan yang tinggi, dengan rata-rata sekitar 4 hingga 5 milimeter per tahun.
Beberapa kota besar di pesisir menjadi titik terparah amblesnya tanah. Rata-rata kecepatan tenggelamnya meliputi Jakarta (13,7 mm/tahun), Tianjin (13,5 mm/tahun), Bangkok (8,5 mm/tahun), Lagos (6,7 mm/tahun), dan Alexandria (4 mm/tahun).
Kondisinya bisa sangat berbeda bahkan di dalam satu kota yang sama. Di Jakarta, beberapa titik tanahnya ambles hingga 42 milimeter per tahun, sementara di bagian kota lainnya permukaan tanah justru mengalami kenaikan pada saat yang sama.
Tidak semua garis pantai mengalami penurunan tanah. Di Swedia dan Finlandia, permukaan tanah yang justru makin naik membuat air laut di beberapa bagian pantainya tampak makin surut.
Tanah di wilayah-wilayah tersebut masih terus terangkat akibat efek pelepasan beban es purba setelah Zaman Es terakhir dan kecepatan naiknya tanah ini jauh lebih cepat daripada kenaikan air laut.
Meskipun sebagian penyebab amblesnya tanah terjadi secara alami, penggunaan air tanah adalah salah satu faktor yang dapat dikendalikan langsung oleh pemerintah dan masyarakat.
Baca juga: Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam
"Pengelolaan air tanah yang lebih baik, aturan penyedotan yang lebih ketat, atau pengisian kembali cadangan air bawah tanah setidaknya bisa memperlambat laju penurunan tanah, dan dalam beberapa kasus bahkan dapat menghentikannya," kata Florian Seitz, Profesor Geodetik Geodinamika dan Direktur Institut Penelitian Geodesi Jerman di TUM (DGFI-TUM).
Tokyo menjadi contoh nyata bagaimana aturan pemerintah bisa menekan masalah ini. Kota ini dulunya mengalami penurunan tanah lebih dari 10 sentimeter per tahun, bahkan titik terparahnya sempat tenggelam sekitar 24 sentimeter per tahun.
Tindakan tegas dari pemerintah serta penyediaan sumber air alternatif akhirnya berhasil menurunkan angka penurunan tanah tersebut secara drastis.
Langkah serupa juga dilakukan di wilayah Harris-Galveston di Texas, tempat penyedotan air tanah secara besar-besaran pernah menjadi penyebab utama amblesnya tanah.
Pemerintah setempat membentuk Badan Penurunan Tanah Harris-Galveston pada tahun 1975 untuk mengatur pemakaian air tanah, mendorong penggunaan sumber air alternatif, serta mengampanyekan penghematan air.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya