Eropa bahkan mencatat penurunan impor termal sebesar 11,1 persen secara tahunan, meskipun kawasan tersebut menghadapi gangguan pasokan gas alam cair (LNG) dari Qatar.
Kondisi itu menunjukkan bahwa gangguan pada pasokan energi tidak secara otomatis mendorong negara-negara kembali menggunakan batu bara termal.
Pada Juni 2026, total perdagangan batu bara global meningkat 8,9 juta ton. Indonesia menyumbang 6,1 juta ton dari tambahan tersebut, sedangkan Australia menyumbang 2,5 juta ton.
Kedua negara tersebut menyumbang sekitar 97,6 persen dari total kenaikan volume.
Namun, Public Policy and Communications Professional Bombay Strategy Vishad Sharma menilai kenaikan tersebut lebih mencerminkan pemulihan dari rendahnya volume pengapalan pada 2025, bukan lonjakan permintaan baru.
Dengan demikian, peningkatan volume perdagangan pada periode tersebut belum dapat dibaca sebagai tanda pemulihan kuat pasar batu bara global.
Vishad memperkirakan permintaan batu bara global akan cenderung stagnan hingga akhir 2026. Kontraksi pasar China diperkirakan berlanjut seiring pemulihan produksi domestik negara tersebut pada semester II-2026.
Di sisi lain, Vietnam dan India dinilai masih memiliki potensi untuk meningkatkan impor batu bara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya