KOMPAS.com - Harita Nickel mendokumentasikan keanekaragaman ikan karang di perairan pesisir barat Pulau Obi, Maluku Utara, lengkap dengan informasi mengenai karakteristik, sebaran, habitat, serta perannya dalam ekosistem.
Direktur Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny H. Gultom mengatakan, dokumentasi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mengenali sekaligus menjaga kekayaan alam di sekitar wilayah operasionalnya.
Dokumentasi itu tertuang dalam buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi – Seri I Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.
Baca juga: Harita Nickel Bagikan Dividen Rp 2,7 Triliun, Pemegang Saham Terima Rp 42,64 per Saham
Publikasi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mengembangkan pengelolaan lingkungan berbasis data dan pengetahuan.
“Laut Pesisir Barat Pulau Obi menyimpan potensi hayati luar biasa. Keanekaragaman organisme yang hidup di dalamnya tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menyimpan nilai edukatif dan sosial yang tinggi,” ujar Tonny dalam peluncuran dan bedah buku 'Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi' di Kompas Institute, Palmerah, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada dokumentasi visual yang berasal dari hasil pengamatan langsung di lapangan.
Keragaman yang terekam dalam buku menunjukkan berbagai karakter ikan karang dan perannya dalam ekosistem.
Dokumentasi juga mencakup surgeonfish dari famili Acanthuridae yang turut berperan dalam menjaga keseimbangan kehidupan di terumbu karang. Kemudian, kelompok trevally atau Carangidae, termasuk bobara, yang memiliki karakteristik ikan pelagis dengan kemampuan adaptasi untuk bergerak aktif di perairan terbuka.
Di perairan sekitar Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, tersimpan kekayaan ekosistem bawah laut yang indah.Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba menyambut baik penerbitan buku tersebut. Ia menganggap, dokumentasi kekayaan bahari dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi lingkungan laut Halmahera Selatan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat demi menjaga laut sekaligus memastikan pembangunan daerah berjalan berkelanjutan,” tutur Bassam.
Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun, Muh. Aris menilai, dokumentasi keanekaragaman hayati bisa menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan lingkungan yang berbasis pengetahuan dan data.
Baca juga: Harita Nickel (NCKL) Catat Pendapatan Rp 6,81 triliun di Kuartal I 2026
"Praktik pertambangan yang baik perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem," ucapnya.
Sementara itu, ahli genetika ikan Universitas Sam Ratulangi, Ari Berty Rondonuwu mengatakan, publikasi mengenai ikan karang memiliki nilai edukasi yang penting bagi generasi muda, terutama untuk mengenalkan kekayaan hayati yang berada di lingkungan mereka sendiri.
“Saat anak-anak di Pulau Obi mulai bisa menyapa nama dan mengenali rupa ikan di halaman rumah mereka sendiri, di situlah benih rasa memiliki dan kesadaran menjaga alam tumbuh paling kuat,” ujar Ari.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya