KOMPAS.com - Kebakaran hutan di Kalimantan telah berdampak pada sekitar 60 persen habitat orang utan, menurut hasil analisis dari organisasi kampanye lingkungan dan satwa liar, Geopix.
Melansir Down to Earth, Selasa (8/9/2026) organisasi tersebut merilis laporannya pada 3 September 2026 untuk menilai dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap habitat orang utan di Kalimantan.
Menggunakan data resmi pemerintah dari 1 Juni hingga 28 Agustus 2026, Geopix mendeteksi 17.865 titik panas kebakaran hutan di dalam kawasan habitat orang utan. Sebagian besar kebakaran terjadi tepat di area yang dihuni oleh orang utan Borneo yang berstatus terancam kritis (Pongo pygmaeus) beserta tiga subspesiesnya yakni P. p. pygmaeus, P. p. wurmbii, dan P. p. morio.
Orang utan masuk dalam daftar spesies terancam kritis (critically endangered) oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Populasi mereka saat ini diperkirakan tinggal sekitar 57.350 ekor.
Baca juga: IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
Kelompok-kelompok konservasi menyatakan bahwa spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat parah.
Borneo Orangutan Survival Foundation menyebutkan bahwa hampir 80 persen dari total populasi orang utan telah lenyap dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun, merosot tajam dari perkiraan 288.500 ekor pada tahun 1973.
Menurut Geopix, terdapat 22.744 titik panas yang terdeteksi di seluruh Kalimantan selama periode penelitian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.865 titik panas atau 78,5 persen berada tepat di dalam wilayah habitat orang utan.
Geopix menyatakan bahwa analisisnya menunjukkan dari total area yang terdampak seluas 42,8 juta hektar antara bulan Juni hingga Agustus, hampir 25,8 juta hektar atau 60,2 persen di antaranya berada di dalam kawasan habitat orang utan.
Organisasi tersebut menambahkan bahwa situasi ini makin diperparah oleh krisis iklim dan fenomena El Niño yang kuat, yang diperkirakan akan bertahan hingga Januari 2027.
Kebakaran tersebut menempatkan habitat orang utan dalam tingkat risiko yang sangat tinggi. Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya tutupan hutan, tetapi juga mengancam sumber makanan, pohon tempat bersarang, jalur penghubung antar-habitat, serta kelangsungan hidup jangka panjang populasi orang utan, ungkap Geopix dalam sebuah pernyataan.
Organisasi tersebut juga melakukan analisis matriks kerentanan orang utan dengan membandingkan jumlah populasi dan intensitas titik panas untuk menentukan prioritas konservasi di setiap wilayah.
Hasilnya mengidentifikasi wilayah Muller-Schwaner, Schwaner Barat, dan Seruyan-Sampit sebagai area yang paling kritis, di mana populasi orang utan yang kecil harus menghadapi tingkat titik panas yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan kebakaran darurat.
Baca juga: Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Sementara itu, Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau dinilai sebagai wilayah dengan tingkat ancaman yang relatif lebih rendah, di mana pemantauan dan pemulihan hutan harus diprioritaskan.
Adapun Sungai Rungan, Katingan, dan Gunung Palung diidentifikasi sebagai kantong populasi penting yang membutuhkan pencegahan kebakaran serta perlindungan habitat yang lebih ketat.
Geopix menyatakan bahwa kategori risiko tertinggi saat ini belum terisi, tetapi memperingatkan bahwa kategori itu menggambarkan skenario terburuk jika titik panas melonjak tajam di area-area yang menjadi pusat konsentrasi populasi orang utan tersisa.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya