JAKARTA, KOMPAS.com - Harita Nickel menurunkan sebanyak 2.600 unit reef cube atau terumbu karang buatan ke dasar laut perairan wilayah operasionalnya.
Reef cube yang dirancang khusus untuk memulihkan ekosistem laut itu berbahan baku slag nikel yang merupakan produk sisa dari operasional industri.
"Jadi, slag nikel bisa dimanfaatkan, karena non-B3 (bahan beracun dan berbahaya) dan memang sudah melalui uji toksisitas dan sebagainya, ini sudah aman. Ini kami coba menjadi media bagi koral untuk tumbuh dan memang hasil cukup bagus," ujar penulis dan editor buku, tim enviromental marine HSE Harita Nickel, Windy Prayogo, dalam peluncuran dan bedah buku 'Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi' di Kompas Institute, Selasa (8/9/2026).
Baca juga: Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Terumbu karang, yang sangat sensitif terhadap lingkungan sekitarnya, ternyata mampu tumbuh dan menempel dengan baik pada struktur tersebut.
"Kalau dia (terumbu karang) tidak cocok, dia tidak mau tumbuh di sana. Nah, ternyata media yang kita buat dengan by product ini cocok. Dan memang dari hasil pantauan kita, monitoring kita, ini pertumbuhan karang bagus," tutur Windy.
Selain reef cube, Harita Nickel juga mulai melakukan perbaikan ekosistem pesisir dengan rehabilitasi hutan mangrove dan padang lamun. Sebagai habitat ikan, ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang merupakan ekosistem penting untuk menjaga persediaan ikan bagi masyarakat setempat.
Salah satu pendekatan paling menonjol dari inisiatif ini adalah transformasi masalah limbah industri menjadi solusi ekologis (enrichment dan enhancement). Material slag atau sisa produk peleburan nikel, yang umumnya menjadi beban pengelolaan perusahaan, kini dikonversi menjadi unit terumbu buatan (Reef Cube).
Akademisi Kelautan Universitas Padjadjaran, Candra Wirawan mengatakan, langkah ini menciptakan ruang hidup baru di dasar laut. Media Reef Cube memiliki fungsi vital untuk menarik berbagai spesies laut agar datang dan berdiam di area tersebut.
Kunci utama dari inovasi ini adalah kecocokan substrat; apabila suatu media terumbu buatan sesuai dengan karakteristik lingkungan, kumpulan ikan spesifik akan menetap dan secara alami mengundang spesies lain untuk menciptakan satu kesatuan habitat yang unik dan saling terikat.
Seiring dengan penambahan kubus-kubus terumbu buatan di dasar laut, jenis spesies ikan yang mendiami kawasan tersebut diproyeksikan akan terus bertambah.
Di perairan sekitar Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, tersimpan kekayaan ekosistem bawah laut yang indah.Kondisi lingkungan yang sehat ditandai dengan semakin tingginya indeks keanekaragaman hayati. Menurut Candra, perairan Obi telah membuktikan hal tersebut melalui kehadiran berbagai biota yang saat ini menjadi fokus konservasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kehadiran ikan-ikan ini menjadi tolok ukur penting bagi perusahaan untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kesehatan terumbu karang di masa mendatang.
Berdasarkan buku 'Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi', terdapat beberapa penemuan jenis ikan yang menjadi indikasi kuat dari pulihnya ekosistem tersebut.
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Beginer Subhan, mengatakan potensi penemuan fauna endemik di area Obi masih sangat terbuka lebar.
Terdapat kemungkinan besar untuk menemukan spesies unik seperti hiu berjalan, yang sebarannya baru-baru ini telah dipublikasikan.
Baca juga: Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Spesies hiu memiliki keterikatan habitat yang sangat erat dengan ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan area mangrove. Upaya penemuan spesies nokturnal tersebut umumnya memerlukan aktivitas penyelaman di malam hari.
"Spesies endemik ini sebenarnya mungkin kemungkinan besar itu ada ya, salah satunya tadi dari penelitian kami ya tentang hiu berjalan ya. Informasinya itu memang harus menyelamnya malam," ujar Beginer.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya