Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak

Kompas.com, 10 September 2026, 08:40 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kebakaran hutan di Kalimantan telah berdampak pada sekitar 60 persen habitat orang utan, menurut hasil analisis dari organisasi kampanye lingkungan dan satwa liar, Geopix.

Melansir Down to Earth, Selasa (8/9/2026) organisasi tersebut merilis laporannya pada 3 September 2026 untuk menilai dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap habitat orang utan di Kalimantan.

Menggunakan data resmi pemerintah dari 1 Juni hingga 28 Agustus 2026, Geopix mendeteksi 17.865 titik panas kebakaran hutan di dalam kawasan habitat orang utan. Sebagian besar kebakaran terjadi tepat di area yang dihuni oleh orang utan Borneo yang berstatus terancam kritis (Pongo pygmaeus) beserta tiga subspesiesnya yakni P. p. pygmaeus, P. p. wurmbii, dan P. p. morio.

Spesies terancam kritis

Orang utan masuk dalam daftar spesies terancam kritis (critically endangered) oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Populasi mereka saat ini diperkirakan tinggal sekitar 57.350 ekor.

Baca juga: IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi

Kelompok-kelompok konservasi menyatakan bahwa spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat parah.

Borneo Orangutan Survival Foundation menyebutkan bahwa hampir 80 persen dari total populasi orang utan telah lenyap dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun, merosot tajam dari perkiraan 288.500 ekor pada tahun 1973.

Menurut Geopix, terdapat 22.744 titik panas yang terdeteksi di seluruh Kalimantan selama periode penelitian. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.865 titik panas atau 78,5 persen berada tepat di dalam wilayah habitat orang utan.

Geopix menyatakan bahwa analisisnya menunjukkan dari total area yang terdampak seluas 42,8 juta hektar antara bulan Juni hingga Agustus, hampir 25,8 juta hektar atau 60,2 persen di antaranya berada di dalam kawasan habitat orang utan.

Organisasi tersebut menambahkan bahwa situasi ini makin diperparah oleh krisis iklim dan fenomena El Niño yang kuat, yang diperkirakan akan bertahan hingga Januari 2027.

Habitat dalam tekanan

Kebakaran tersebut menempatkan habitat orang utan dalam tingkat risiko yang sangat tinggi. Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya tutupan hutan, tetapi juga mengancam sumber makanan, pohon tempat bersarang, jalur penghubung antar-habitat, serta kelangsungan hidup jangka panjang populasi orang utan, ungkap Geopix dalam sebuah pernyataan.

Organisasi tersebut juga melakukan analisis matriks kerentanan orang utan dengan membandingkan jumlah populasi dan intensitas titik panas untuk menentukan prioritas konservasi di setiap wilayah.

Hasilnya mengidentifikasi wilayah Muller-Schwaner, Schwaner Barat, dan Seruyan-Sampit sebagai area yang paling kritis, di mana populasi orang utan yang kecil harus menghadapi tingkat titik panas yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan kebakaran darurat.

Baca juga: Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah

Sementara itu, Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau dinilai sebagai wilayah dengan tingkat ancaman yang relatif lebih rendah, di mana pemantauan dan pemulihan hutan harus diprioritaskan.

Adapun Sungai Rungan, Katingan, dan Gunung Palung diidentifikasi sebagai kantong populasi penting yang membutuhkan pencegahan kebakaran serta perlindungan habitat yang lebih ketat.

Geopix menyatakan bahwa kategori risiko tertinggi saat ini belum terisi, tetapi memperingatkan bahwa kategori itu menggambarkan skenario terburuk jika titik panas melonjak tajam di area-area yang menjadi pusat konsentrasi populasi orang utan tersisa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau