KOMPAS.com - Seiring meningkatnya beban kerja kecerdasan buatan (AI) dan kapasitas pusat data, kebutuhan listrik di seluruh Asia melonjak tajam. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan ini memiliki cara yang berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Menurut analisis terbaru dari JLL, ekspansi AI dan komputasi dapat melipatgandakan kapasitas pusat data di Asia-Pasifik hingga hampir dua kali lipat pada tahun 2030, naik dari 32 gigawatt (GW) menjadi 57GW.
Melansir Edie, Selasa (8/9/2026) pertumbuhan di Asia Tenggara bahkan jauh lebih pesat, di mana kapasitas pusat data diperkirakan melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 2,8GW saat ini menjadi 9,4GW pada tahun 2035. Kebutuhan listrik pun akan melonjak seirama, dari 17 terawatt-jam (TWh) menjadi 57TWh.
Lonjakan permintaan yang masif ini menuntut peningkatan kapasitas pasokan listrik secara besar-besaran.
Baca juga: Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada 2030
"Saya pikir kita sedang berada di dunia baru yang penuh tantangan," ujar Matt Eastwick, direktur pengelola senior US Energy & Infrastructure Advisory di JLL.
"Kebutuhan listrik meningkat lebih cepat daripada kemampuan jaringan listrik yang ada. Modal investasi memang tersedia, tetapi kepastian pasokan justru makin sulit ditemukan," katanya lagi.
"Kita sedang menyaksikan pergeseran generasi dalam kebutuhan listrik sebagai dampak dari pusat data dan AI," tambah Kepala Energy & Infrastructure Advisory kawasan EMEA, Steven Jack.
Kendati demikian negara-negara di seluruh Asia mengambil langkah yang berbeda-beda dalam memenuhi lonjakan kebutuhan tersebut.
Karena pusat data membutuhkan pasokan listrik yang andal dan beroperasi terus-menerus 24 jam sehari, pembangkit listrik tenaga gas (CCGT) menjadi cara yang paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Sementara itu, penyimpanan energi skala besar untuk energi terbarukan yang tidak stabil masih relatif belum matang di kawasan ini.
Menurut riset lain dari Wood Mackenzie, ekspansi pusat data skala raksasa mendorong kenaikan permintaan gas alam cair (LNG) hingga 16 persen setiap tahunnya di seluruh Asia Tenggara.
Di Singapura, contohnya, jaringan listrik nasional menggunakan 95 persen gas, di mana hampir seluruh kebutuhan pusat data dalam waktu dekat akan dipenuhi oleh LNG. Sementara itu, dengan kapasitas pusat data sebesar hampir 4GW yang sedang dibangun, Malaysia kini membangun terminal regasifikasi baru demi memenuhi kebutuhan energi tersebut.
Baca juga: Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Dua pertiga dari jaringan listrik Thailand saat ini mengandalkan gas, dan porsi LNG di dalamnya diproyeksikan melampaui 50 persen pada tahun 2035 seiring menurunnya produksi domestik dan impor pipa dari Myanmar.
"Malaysia dan Thailand sedang berada di titik balik. Investasi pusat data tumbuh pesat tepat saat produksi gas domestik mencapai puncaknya dan mulai menurun," ujar analis utama Wood Mackenzie, Md Fadhlullah Omarall.
"Infrastruktur impor baru sedang dibangun, dan basis pengimpor kian meluas. Bagi pemasok LNG yang memiliki pasokan, momentum ini sangat penting," terangnya lagi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya