Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim

Kompas.com, 10 September 2026, 11:27 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perubahan iklim memicu penurunan drastis pada hutan rumput laut (kelp) di seluruh dunia. Bahkan laju kerusakannya melampaui berbagai upaya pemulihan, sekaligus melemahkan peran pemulihan rumput laut sebagai strategi efektif untuk menyerap karbon dioksida.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah artikel ilmiah oleh Karen Filbee-Dexter dari University of Western Australia bersama rekan-rekannya, yang diterbitkan pada 8 September di jurnal PLOS Biology.

Melansir Phys, Selasa (8/9/2026) selama satu abad terakhir, ekosistem alami telah berperan penting dalam meredam emisi gas rumah kaca dengan cara menyerap karbon dioksida dari atmosfer.

Namun, perubahan iklim itu sendiri kini justru mengancam kemampuan alami ekosistem tersebut.

Salah satunya adalah rumput laut. Menanam dan memulihkan kembali hutan rumput laut kerap dikampanyekan sebagai solusi iklim alami karena kemampuannya menyerap karbon dan menyimpannya di laut dalam. Kendati demikian, penurunan luas hutan rumput laut secara global berisiko menggagalkan berbagai upaya pemulihan tersebut.

Baca juga: Petani Rumput Laut di Indonesia Belum Ramah Lingkungan, Masih Terhalang Biaya

Para peneliti menganalisis data publikasi tentang berkurang dan bertambahnya hutan rumput laut secara global untuk mengukur dampak bersihnya terhadap penyerapan karbon.

Mereka menemukan bahwa penurunan hutan kelp atau ekosistem rumput laut yang paling luas dan produktif dapat mengurangi kemampuan penyerapan karbon alami sebesar 1,5 juta hingga 30 juta ton per tahun.

Kehilangan kemampuan menyerap karbon ini nilainya 1.000 hingga 10.000 kali lebih besar daripada penambahan penyerapan karbon yang berhasil dicapai oleh seluruh proyek pemulihan hutan kelp hingga saat ini.

Diperkirakan seluas 25 juta hektar hutan kelp liar akan musnah pada tahun 2050 akibat perubahan iklim. Angka ini 6.000 kali lebih luas dibandingkan total area yang berhasil dipulihkan sejak tahun 1958.

Sementara proyek pemulihan kelp berskala besar membutuhkan investasi waktu, uang, dan tenaga yang sangat besar. Misalnya saja proyek pemulihan kelp di Norwegia dan California. Puluhan ribu proyek serupa masih akan dibutuhkan hanya untuk menggantikan kerugian hutan kelp yang rusak akibat perubahan iklim, dengan biaya mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar AS.

Mencegah kerusakan ekosistem lebih efektif

Penyerapan karbon oleh ekosistem alami selama ini dinilai sangat andal, sehingga secara tidak langsung dijadikan landasan dalam proyeksi iklim dan perencanaan target bebas emisi. Namun, perubahan iklim kini justru merusak fungsi alami ekosistem tersebut.

Baca juga: IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan

Lebih lanjut, para penulis menyimpulkan bahwa fokus saat ini pada pemulihan hutan rumput laut sebagai solusi iklim alami dapat mengalihkan perhatian para konservasionis dari upaya melindungi habitat yang terancam. Padahal, mencegah kerusakan habitat jauh lebih murah dan efektif dalam meredam perubahan iklim.

Para penulis juga memperingatkan bahwa mengampanyekan pemulihan rumput laut sebagai metode penyerapan karbon dioksida dapat memberi harapan palsu, yang berisiko menunda penghentian penggunaan bahan bakar fosil.

"Upaya melindungi dan memulihkan hutan rumput laut memang tetap berharga, tetapi kita harus realistis mengenai apa yang bisa dicapainya dalam hal mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon dioksida. Saat ini, skala kerusakan hutan rumput laut akibat perubahan iklim jauh lebih besar dibanding hasil yang didapat dari upaya pemulihan," tulis peneliti dalam laporannya.

"Kami menegaskan bahwa pemulihan hutan rumput laut tidak akan mampu memberikan hasil mitigasi perubahan iklim yang berarti pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan untuk mengimbangi emisi kita yang terus meningkat," tambah peneliti.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau