KOMPAS.com - Perubahan iklim memicu penurunan drastis pada hutan rumput laut (kelp) di seluruh dunia. Bahkan laju kerusakannya melampaui berbagai upaya pemulihan, sekaligus melemahkan peran pemulihan rumput laut sebagai strategi efektif untuk menyerap karbon dioksida.
Hal ini diungkapkan dalam sebuah artikel ilmiah oleh Karen Filbee-Dexter dari University of Western Australia bersama rekan-rekannya, yang diterbitkan pada 8 September di jurnal PLOS Biology.
Melansir Phys, Selasa (8/9/2026) selama satu abad terakhir, ekosistem alami telah berperan penting dalam meredam emisi gas rumah kaca dengan cara menyerap karbon dioksida dari atmosfer.
Namun, perubahan iklim itu sendiri kini justru mengancam kemampuan alami ekosistem tersebut.
Salah satunya adalah rumput laut. Menanam dan memulihkan kembali hutan rumput laut kerap dikampanyekan sebagai solusi iklim alami karena kemampuannya menyerap karbon dan menyimpannya di laut dalam. Kendati demikian, penurunan luas hutan rumput laut secara global berisiko menggagalkan berbagai upaya pemulihan tersebut.
Baca juga: Petani Rumput Laut di Indonesia Belum Ramah Lingkungan, Masih Terhalang Biaya
Para peneliti menganalisis data publikasi tentang berkurang dan bertambahnya hutan rumput laut secara global untuk mengukur dampak bersihnya terhadap penyerapan karbon.
Mereka menemukan bahwa penurunan hutan kelp atau ekosistem rumput laut yang paling luas dan produktif dapat mengurangi kemampuan penyerapan karbon alami sebesar 1,5 juta hingga 30 juta ton per tahun.
Kehilangan kemampuan menyerap karbon ini nilainya 1.000 hingga 10.000 kali lebih besar daripada penambahan penyerapan karbon yang berhasil dicapai oleh seluruh proyek pemulihan hutan kelp hingga saat ini.
Diperkirakan seluas 25 juta hektar hutan kelp liar akan musnah pada tahun 2050 akibat perubahan iklim. Angka ini 6.000 kali lebih luas dibandingkan total area yang berhasil dipulihkan sejak tahun 1958.
Sementara proyek pemulihan kelp berskala besar membutuhkan investasi waktu, uang, dan tenaga yang sangat besar. Misalnya saja proyek pemulihan kelp di Norwegia dan California. Puluhan ribu proyek serupa masih akan dibutuhkan hanya untuk menggantikan kerugian hutan kelp yang rusak akibat perubahan iklim, dengan biaya mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar AS.
Penyerapan karbon oleh ekosistem alami selama ini dinilai sangat andal, sehingga secara tidak langsung dijadikan landasan dalam proyeksi iklim dan perencanaan target bebas emisi. Namun, perubahan iklim kini justru merusak fungsi alami ekosistem tersebut.
Baca juga: IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan
Lebih lanjut, para penulis menyimpulkan bahwa fokus saat ini pada pemulihan hutan rumput laut sebagai solusi iklim alami dapat mengalihkan perhatian para konservasionis dari upaya melindungi habitat yang terancam. Padahal, mencegah kerusakan habitat jauh lebih murah dan efektif dalam meredam perubahan iklim.
Para penulis juga memperingatkan bahwa mengampanyekan pemulihan rumput laut sebagai metode penyerapan karbon dioksida dapat memberi harapan palsu, yang berisiko menunda penghentian penggunaan bahan bakar fosil.
"Upaya melindungi dan memulihkan hutan rumput laut memang tetap berharga, tetapi kita harus realistis mengenai apa yang bisa dicapainya dalam hal mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon dioksida. Saat ini, skala kerusakan hutan rumput laut akibat perubahan iklim jauh lebih besar dibanding hasil yang didapat dari upaya pemulihan," tulis peneliti dalam laporannya.
"Kami menegaskan bahwa pemulihan hutan rumput laut tidak akan mampu memberikan hasil mitigasi perubahan iklim yang berarti pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan untuk mengimbangi emisi kita yang terus meningkat," tambah peneliti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya