Pekan ini, Pemerintah Thailand mengajukan draf rencana yang menargetkan sekurang-kurangnya 65 persen kebutuhan energi negara dipenuhi oleh energi bersih. Skenario lain yang diajukan untuk konsultasi publik bahkan menargetkan energi terbarukan dapat memenuhi hingga 89 persen kebutuhan listrik.
Di bawah rencana tersebut, sebanyak 51.000 megawatt (MW) kapasitas energi terbarukan baru terutama tenaga surya, angin, dan penyimpanan baterai akan ditambahkan pada tahun 2037 untuk menopang pertumbuhan permintaan listrik.
"Mencapai target bebas emisi adalah tantangan utama karena perdagangan dan investasi global makin berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Energi Thailand, Prasert Sinsukprasert.
"Perusahaan-perusahaan besar dunia, khususnya pengelola pusat data, memilih Thailand sebagai pusat investasi karena mereka percaya pada kebijakan energi negara ini dan komitmennya terhadap energi bersih," katanya.
Di India, pasar pusat data diprediksi melonjak hingga hampir lima kali lipat menjadi 12GW pada tahun 2035, yang akan menjadikannya pasar terbesar kedua di Asia-Pasifik.
Gas saat ini menyumbang kurang dari 2 persen dari total pasokan listrik India. Karena biaya pembangkit listrik berbasis LNG di India dua hingga tiga kali lebih mahal dibandingkan sistem yang menggabungkan energi terbarukan dengan penyimpanan baterai, gas tidak menjadi pilihan untuk memenuhi lonjakan beban pusat data. Keterbatasan jaringan pipa gas juga menjadi hambatan lain bagi pasokan gas di sana.
Baca juga: Riset Ungkap Mayoritas Penggunaa Air di PUsat Data untuk Produksi Listrik
Wood Mackenzie mencatat bahwa tidak ada perusahaan pusat data skala raksasa di India yang menggunakan kesepakatan pasokan listrik berbasis gas, sementara pasar perjanjian pembelian tenaga listrik (PPA) berbasis energi terbarukan telah menembus kapasitas 33GW.
Sementara itu menurut lembaga riset Ember, energi bersih berhasil memenuhi seluruh pertumbuhan kebutuhan listrik di Cina tahun lalu, di sisi lain penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara menurun untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Di 16 dari 26 wilayah yang dianalisis, penggunaan batu bara mulai terhenti selama beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini terjadi di tengah pesatnya pertumbuhan beban kerja AI di seluruh negeri, yang diperkirakan akan melipatgandakan pangsa konsumsi listrik pusat data hingga menjadi 6 persen dari total konsumsi nasional pada akhir dekade ini. Pada tahun 2060, angka tersebut diperkirakan melonjak hingga 17 persen.
Seiring langkah negara tersebut yang terus menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, Wood Mackenzie memperkirakan emisi dari pusat data akan mencapai puncaknya pada tahun 2035.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya