Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?

Kompas.com, 10 September 2026, 10:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Seiring meningkatnya beban kerja kecerdasan buatan (AI) dan kapasitas pusat data, kebutuhan listrik di seluruh Asia melonjak tajam. Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan ini memiliki cara yang berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Menurut analisis terbaru dari JLL, ekspansi AI dan komputasi dapat melipatgandakan kapasitas pusat data di Asia-Pasifik hingga hampir dua kali lipat pada tahun 2030, naik dari 32 gigawatt (GW) menjadi 57GW.

Melansir Edie, Selasa (8/9/2026) pertumbuhan di Asia Tenggara bahkan jauh lebih pesat, di mana kapasitas pusat data diperkirakan melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 2,8GW saat ini menjadi 9,4GW pada tahun 2035. Kebutuhan listrik pun akan melonjak seirama, dari 17 terawatt-jam (TWh) menjadi 57TWh.

Lonjakan permintaan yang masif ini menuntut peningkatan kapasitas pasokan listrik secara besar-besaran.

Baca juga: Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada 2030

"Saya pikir kita sedang berada di dunia baru yang penuh tantangan," ujar Matt Eastwick, direktur pengelola senior US Energy & Infrastructure Advisory di JLL.

"Kebutuhan listrik meningkat lebih cepat daripada kemampuan jaringan listrik yang ada. Modal investasi memang tersedia, tetapi kepastian pasokan justru makin sulit ditemukan," katanya lagi.

"Kita sedang menyaksikan pergeseran generasi dalam kebutuhan listrik sebagai dampak dari pusat data dan AI," tambah Kepala Energy & Infrastructure Advisory kawasan EMEA, Steven Jack.

Memenuhi kebutuhan energi

Kendati demikian negara-negara di seluruh Asia mengambil langkah yang berbeda-beda dalam memenuhi lonjakan kebutuhan tersebut.

Karena pusat data membutuhkan pasokan listrik yang andal dan beroperasi terus-menerus 24 jam sehari, pembangkit listrik tenaga gas (CCGT) menjadi cara yang paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sementara itu, penyimpanan energi skala besar untuk energi terbarukan yang tidak stabil masih relatif belum matang di kawasan ini.

Menurut riset lain dari Wood Mackenzie, ekspansi pusat data skala raksasa mendorong kenaikan permintaan gas alam cair (LNG) hingga 16 persen setiap tahunnya di seluruh Asia Tenggara.

Di Singapura, contohnya, jaringan listrik nasional menggunakan 95 persen gas, di mana hampir seluruh kebutuhan pusat data dalam waktu dekat akan dipenuhi oleh LNG. Sementara itu, dengan kapasitas pusat data sebesar hampir 4GW yang sedang dibangun, Malaysia kini membangun terminal regasifikasi baru demi memenuhi kebutuhan energi tersebut.

Baca juga: Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan

Dua pertiga dari jaringan listrik Thailand saat ini mengandalkan gas, dan porsi LNG di dalamnya diproyeksikan melampaui 50 persen pada tahun 2035 seiring menurunnya produksi domestik dan impor pipa dari Myanmar.

"Malaysia dan Thailand sedang berada di titik balik. Investasi pusat data tumbuh pesat tepat saat produksi gas domestik mencapai puncaknya dan mulai menurun," ujar analis utama Wood Mackenzie, Md Fadhlullah Omarall.

"Infrastruktur impor baru sedang dibangun, dan basis pengimpor kian meluas. Bagi pemasok LNG yang memiliki pasokan, momentum ini sangat penting," terangnya lagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
20 Private Equity Dunia Hasilkan Polusi Lebih Tinggi dari Hampir Semua Negara
20 Private Equity Dunia Hasilkan Polusi Lebih Tinggi dari Hampir Semua Negara
Pemerintah
Karhutla Jadi Momentum Evaluasi Tata Kelola Kehutanan, Koalisi Desak Perubahan UU
Karhutla Jadi Momentum Evaluasi Tata Kelola Kehutanan, Koalisi Desak Perubahan UU
LSM/Figur
Kekeringan Ancam Sektor Ekonomi, Pemerintah Harus Rancang Strategi Baru
Kekeringan Ancam Sektor Ekonomi, Pemerintah Harus Rancang Strategi Baru
Pemerintah
Pemimpin Dunia Dorong Peningkatan Energi Terbarukan 3 Kali Lipat pada 2030
Pemimpin Dunia Dorong Peningkatan Energi Terbarukan 3 Kali Lipat pada 2030
Pemerintah
Inovasi Warga Kaki Gunung Gede Pangrango bersama Astra: Sawo Jadi Sambal dan Limbah Jadi Karya
Inovasi Warga Kaki Gunung Gede Pangrango bersama Astra: Sawo Jadi Sambal dan Limbah Jadi Karya
Desa Sejahtera Astra
FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian
FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian
Pemerintah
Desain Konstruksi Alat Pengomposan Tentukan Jejak Metana Pengolahan Sampah Organik di Luar TPA
Desain Konstruksi Alat Pengomposan Tentukan Jejak Metana Pengolahan Sampah Organik di Luar TPA
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau