KOMPAS.com - Prakiraan cuaca menentukan banyak keputusan sehari-hari mulai dari petani yang menentukan masa tanam, perusahaan energi yang memperkirakan kebutuhan listrik, hingga pemerintah yang bersiap menghadapi gelombang panas.
Namun, seberapa berguna prakiraan cuaca tersebut sangat bergantung pada tempat tinggal seseorang.
Manuel Linsenmeier, profesor ekonomi lingkungan di Center for Critical Computational Studies (C3S) Universitas Goethe Frankfurt, bersama Jeffrey Shrader dari Universitas Columbia, memetakan perbedaan akurasi prakiraan cuaca di seluruh dunia dan melihat hubungannya dengan tingkat ekonomi suatu negara.
Melansir Phys, Selasa (15/9/2026) mereka menganalisis data prakiraan cuaca global dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) antara tahun 1985 dan 2020, lalu membandingkannya dengan kondisi cuaca di lapangan.
Fokus utama penelitian ini adalah prediksi suhu jangka pendek, meskipun mereka juga meneliti prediksi curah hujan dan tekanan udara.
Baca juga: Unggahan Medsos Ungkap Cara Masyarakat Menghadapi Cuaca Panas Ekstrem
Hasilnya menunjukkan pola yang mengejutkan. Secara rata-rata, prakiraan suhu jangka pendek jauh lebih akurat di negara-negara berpenghasilan tinggi. Ketimpangan ini berlaku untuk prediksi 1 hingga 7 hari ke depan.
Menurut studi, perkiraan cuaca untuk 7 hari ke depan di negara maju jauh lebih akurat daripada perkiraan cuaca untuk 1 hari ke depan di negara miskin.
Temuan ini telah diterbitkan di jurnal Nature Communications.
"Misalnya saja bagi banyak orang di Jerman, melihat prakiraan cuaca yang cukup akurat di ponsel kapan saja adalah hal biasa yang hampir tidak pernah mereka pusingkan," kata Linsenmeier.
"Namun temuan kami menunjukkan bahwa data pendukung prakiraan cuaca tersebut tersebar sangat tidak merata di seluruh dunia. Hal ini sangat penting karena informasi cuaca sangat berharga di tempat-tempat yang mata pencaharian warganya bergantung pada cuaca, atau di wilayah yang masyarakatnya sangat rentan terhadap cuaca ekstrem," terangnya lagi.
Secara keseluruhan, prakiraan cuaca di seluruh dunia telah menjadi jauh lebih akurat sejak pertengahan tahun 1980-an. Negara-negara di semua tingkat pendapatan turut merasakan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini.
Meski begitu, kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin hanya berkurang sedikit.
Faktor geografi menjadi salah satu penyebabnya. Memprediksi cuaca jangka pendek memang jauh lebih sulit di wilayah tropis, tempat di mana banyak negara berpenghasilan rendah berada. Oleh karena itu, sebaran kekayaan global beririsan langsung dengan tingkat kemudahan memprediksi cuaca di wilayah tersebut.
Baca juga: Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Linsenmeier dan Shrader memperkirakan bahwa faktor geografi saja menyumbang sekitar dua pertiga dari perbedaan akurasi prakiraan cuaca di seluruh dunia. Perbedaan sistem pengamatan cuaca juga turut berpengaruh.
Negara-negara berpenghasilan rendah biasanya memiliki lebih sedikit stasiun cuaca darat dan balon cuaca, sementara alat-alat yang ada di beberapa negara jarang mengirimkan laporan data. Analisis para peneliti menunjukkan bahwa keterbatasan alat pemantau ini menjelaskan sebagian dari perbedaan akurasi tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya