Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah

Kompas.com, 19 September 2026, 16:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Prakiraan cuaca menentukan banyak keputusan sehari-hari mulai dari petani yang menentukan masa tanam, perusahaan energi yang memperkirakan kebutuhan listrik, hingga pemerintah yang bersiap menghadapi gelombang panas.

Namun, seberapa berguna prakiraan cuaca tersebut sangat bergantung pada tempat tinggal seseorang.

Manuel Linsenmeier, profesor ekonomi lingkungan di Center for Critical Computational Studies (C3S) Universitas Goethe Frankfurt, bersama Jeffrey Shrader dari Universitas Columbia, memetakan perbedaan akurasi prakiraan cuaca di seluruh dunia dan melihat hubungannya dengan tingkat ekonomi suatu negara.

Melansir Phys, Selasa (15/9/2026) mereka menganalisis data prakiraan cuaca global dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) antara tahun 1985 dan 2020, lalu membandingkannya dengan kondisi cuaca di lapangan.

Fokus utama penelitian ini adalah prediksi suhu jangka pendek, meskipun mereka juga meneliti prediksi curah hujan dan tekanan udara.

Baca juga: Unggahan Medsos Ungkap Cara Masyarakat Menghadapi Cuaca Panas Ekstrem

Hasilnya menunjukkan pola yang mengejutkan. Secara rata-rata, prakiraan suhu jangka pendek jauh lebih akurat di negara-negara berpenghasilan tinggi. Ketimpangan ini berlaku untuk prediksi 1 hingga 7 hari ke depan.

Menurut studi, perkiraan cuaca untuk 7 hari ke depan di negara maju jauh lebih akurat daripada perkiraan cuaca untuk 1 hari ke depan di negara miskin.

Temuan ini telah diterbitkan di jurnal Nature Communications.

"Misalnya saja bagi banyak orang di Jerman, melihat prakiraan cuaca yang cukup akurat di ponsel kapan saja adalah hal biasa yang hampir tidak pernah mereka pusingkan," kata Linsenmeier.

"Namun temuan kami menunjukkan bahwa data pendukung prakiraan cuaca tersebut tersebar sangat tidak merata di seluruh dunia. Hal ini sangat penting karena informasi cuaca sangat berharga di tempat-tempat yang mata pencaharian warganya bergantung pada cuaca, atau di wilayah yang masyarakatnya sangat rentan terhadap cuaca ekstrem," terangnya lagi.

Kemajuan prakiraan cuaca

Secara keseluruhan, prakiraan cuaca di seluruh dunia telah menjadi jauh lebih akurat sejak pertengahan tahun 1980-an. Negara-negara di semua tingkat pendapatan turut merasakan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini.

Meski begitu, kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin hanya berkurang sedikit.

Faktor geografi menjadi salah satu penyebabnya. Memprediksi cuaca jangka pendek memang jauh lebih sulit di wilayah tropis, tempat di mana banyak negara berpenghasilan rendah berada. Oleh karena itu, sebaran kekayaan global beririsan langsung dengan tingkat kemudahan memprediksi cuaca di wilayah tersebut.

Baca juga: Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia

Linsenmeier dan Shrader memperkirakan bahwa faktor geografi saja menyumbang sekitar dua pertiga dari perbedaan akurasi prakiraan cuaca di seluruh dunia. Perbedaan sistem pengamatan cuaca juga turut berpengaruh.

Negara-negara berpenghasilan rendah biasanya memiliki lebih sedikit stasiun cuaca darat dan balon cuaca, sementara alat-alat yang ada di beberapa negara jarang mengirimkan laporan data. Analisis para peneliti menunjukkan bahwa keterbatasan alat pemantau ini menjelaskan sebagian dari perbedaan akurasi tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau