Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering

Kompas.com, 20 September 2026, 10:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Siklus air global semakin tidak seimbang, sehingga memicu terjadinya kekeringan dan banjir ekstrem. Hal ini terungkap dalam laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) terbaru tentang kondisi sumber daya air global, "State of Global Water Resources 2025," yang dirilis Kamis, (17/9/2026).

"Jumlah total air yang tersimpan di daratan benua terus menurun secara konstan," ujar Profesor Robert Reinecke dari Departemen Geografi di Universitas Johannes Gutenberg Mainz, yang berperan penting dalam penyusunan laporan tahunan ini sejak pertama kali diterbitkan pada 2022.

Penurunan ini terlihat jelas pada kondisi sungai. Sejak tahun 2021, volume air sungai di seluruh dunia secara konsisten berada di bawah rata-rata periode 1991 hingga 2020. Tahun lalu bahkan menjadi salah satu tahun terkering dalam 35 tahun terakhir.

Baca juga: Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional

Pada tahun 2025, sebanyak 36 persen wilayah aliran sungai di dunia mencatat debit air yang lebih sedikit dibanding periode pembanding tersebut.

Penyusutan ketersediaan air di daratan benua juga terlihat dari tinggi muka air tanah. Pada tahun 2025, tingkat air tanah berada di bawah periode acuan pada 65 persen stasiun pemantauan yang dicatat dalam laporan ini.

Selain itu penurunan drastis terus terjadi pada gletser. Tahun lalu, gletser kehilangan sekitar 400 gigaton massanya.

Dampak buruknya terlihat nyata pada bencana banjir di Nepal dan Tibet beberapa minggu lalu, yang dipicu oleh runtuhnya gletser dan menewaskan ribuan orang. Sementara itu di Afrika, hujan deras juga menyebabkan banjir yang merenggut banyak korban jiwa tahun lalu.

Perubahan iklim dan penggunaan air tanah

Reinecke menyebut perkembangan ini disebabkan oleh perubahan iklim dan konsumsi air tanah oleh manusia.

"Atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak air; gletser meleleh, dan pada saat yang sama, penguapan meningkat. Kita sebagai manusia juga memindahkan air tanah dalam jumlah besar ke lautan dan atmosfer, misalnya melalui penggunaan air untuk irigasi," katanya seperti dikutip dari Phys.

Kombinasi antara perubahan iklim dan konsumsi air tanah ini membuat daratan benua makin mengering. Meski air tersebut tidak hilang, keberadaannya kini makin bergeser ke bagian siklus air yang kurang bermanfaat bagi manusia dan ekosistem.

Baca juga: Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular

Menurut Reinecke, laporan WMO terbaru tentang sumber daya air global memuat lebih banyak data dibanding laporan-laporan sebelumnya.

Sebagai contoh, data suhu air dianalisis untuk pertama kalinya. Laporan ini mencatat bahwa tahun 2025 ditandai oleh suhu air yang jauh lebih tinggi, yang memicu masalah bagi ekosistem maupun kualitas air.

Bersama para peneliti dari Universitas Goethe Frankfurt am Main dan Global Runoff Database Center di Koblenz, Reinecke dan tim risetnya menyumbangkan data serta hasil pemodelan untuk laporan ini.

Selain itu, tim ini membantu merancang metode analisis data air tanah dan memimpin pengembangan salah satu model air global yang digunakan.

Dengan menggunakan model air inovatif yang juga mampu menyimulasikan air tanah, tim ini sedang meneliti dampak perubahan iklim terhadap cadangan air tanah di seluruh dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau