"Kita sangat terpecah-pecah dalam cara kita menganalisis masalah," ujarnya.
Para ahli memperkirakan tren kerusakan lingkungan tidak akan berkurang jika cara pendekatan seperti ini terus dilanjutkan.
Koordinasi yang lebih erat juga berarti memperluas lingkaran lembaga yang bertanggung jawab atas penanganan kekeringan.
Selama ini, kementerian pertanian, meteorologi, dan lingkungan hidup selalu menjadi pihak utama yang diandalkan tetapi kekeringan tidak lagi bisa diatasi oleh sektor-sektor tersebut sendirian.
Tsegai menegaskan bahwa jika suatu negara membahas masalah kekeringan tanpa melibatkan kementerian keuangan dan kesehatan, maka ada hal penting yang terlewatkan.
"Kita membutuhkan pendekatan yang melibatkan seluruh jajaran pemerintahan dan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi kekeringan," katanya.
Salah satu temuan paling mencolok dalam analisis jurnal Nature Reviews Earth & Environment adalah bahwa kekeringan kini tidak lagi dipicu oleh kurangnya curah hujan semata.
Suhu daratan yang semakin panas sedang mendongkrak tingkat penguapan yakni seberapa banyak kelembapan yang disedot oleh atmosfer dari tanah dan tumbuh-tumbuhan. Artinya suatu wilayah bisa jatuh ke dalam kondisi kekeringan bahkan tanpa adanya kekurangan curah hujan yang tidak biasa.
Yang terpenting, menurut Tsegai, bukan hanya seberapa banyak air hujan yang turun, tetapi seberapa banyak kelembapan yang dapat disimpan oleh tanah dan untuk berapa lama.
Memperbaiki kesehatan tanah, memulihkan lahan yang rusak, dan menahan lebih banyak cadangan air di alam dapat membantu menentukan seberapa tangguh suatu wilayah ketika kondisi kering mulai melanda.
Baca juga: BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
Ia berpendapat, hanya setelah suatu negara memetakan hal tersebut, barulah mereka dapat memilih langkah-langkah pencegahan yang paling sesuai dengan kondisi wilayahnya masing-masing.
Sistem peringatan dini juga harus melampaui prediksi kapan kekeringan akan terjadi. Tetapi juga harus tentang menganalisis risiko. Ini tentang menganalisis kerentanan, siapa yang akan terdampak dan apa saja yang terkena dampaknya.
Penilaian tersebut kemudian harus menentukan apa yang dilakukan suatu negara sebelum kekeringan melanda.
Meskipun demikian, kesiapan tingkat nasional saja tidak akan cukup untuk menghadapi risiko yang dampaknya tidak berhenti di batas negara.
Bagi Tsegai dan Meza, luasnya dampak kekeringan membuat tidak ada satupun negara yang bisa mengklaim dirinya aman, dan bentuk akhir dari respons yang akan diambil pada akhirnya adalah keputusan masing-masing pemerintah.
"Ini adalah tantangan global dan kita memerlukan solusi global," kata Tsegai.
Namun untuk saat ini, kesenjangan antara pengakuan bahwa kekeringan adalah darurat global dan kesepakatan mengenai cara mengatasinya secara global masih belum terselesaikan, dan masalah ini akan dibawa ke meja perundingan berikutnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya