Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik

Kompas.com, 24 September 2026, 14:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Pembangunan ribuan pusat data besar untuk AI saat ini akan memicu "tsunami" sampah elektronik.

Sebuah laporan baru memperkirakan hal ini bisa membuat jumlah sampah elektronik beracun dunia naik tiga kali lipat dalam 25 tahun ke depan.

Melansir Guardian, Rabu (16/9/2026) sampah elektronik dari AI dalam 25 tahun mendatang diperkirakan bisa mengisi kontainer kapal yang cukup untuk mengelilingi bumi sebanyak enam kali.

Namun, laporan dari organisasi lingkungan Basel Action Network (BAN) menyebutkan bahwa belum ada rencana untuk mengatasi sampah tersebut padahal sampah itu mengandung bahan beracun seperti timbal, raksa, kadmium, dan bahan kimia abadi, serta logam berharga yang sulit didaur ulang.

"Saat ini sampah elektronik sudah menjadi jenis sampah dengan pertumbuhan tercepat di bumi, dan hanya seperlimanya yang dikelola dengan benar," kata Jim Puckett, pendiri BAN, yang berfokus mencegah limbah beracun dibuang ke komunitas miskin di dunia.

Baca juga: Konsumsi Air Pusat Data Diprediksi Capai 644 Miliar Liter pada 2030

Para ahli sepakat bahwa dunia masih sangat buruk dalam mengelola sampah elektronik.

"Sebagian dibuang ke luar negeri. Sebagian besar cuma dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), dan ini berbahaya karena racunnya bisa meresap ke dalam air dan tanah," ungkap Vince Beiser, penulis buku Power Metal yang membahas masalah global dalam mendaur ulang logam berharga dari barang elektronik.

Jumlah sampah elektronik dunia

Laporan BAN mencatat di AS sendiri ada 4.871 pusat data baru yang sedang dalam tahap pembangunan. Meski tidak semuanya secara khusus dipakai untuk AI, banyak di antaranya yang akan digunakan untuk teknologi tersebut.

Laporan ini juga menghitung jumlah sampah elektronik dari server komputer AI, serta ribuan ton tembaga, baja, dan beton dari peralatan pendingin, distribusi listrik, jaringan, dan penyimpanan energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pusat data tersebut.

Untuk menghitung total sampah tersebut, laporan ini memperkirakan jumlah daya komputasi yang diprediksi akan dibangun para ahli mencapai sekitar 100 gigawatt kapasitas baru di seluruh dunia pada tahun 2030 saja, dan akan terus bertambah setelahnya.

Laporan kemudian juga menghitung berat peralatan yang dibutuhkan termasuk rak server komputer yang masing-masing berbobot 1.360 kg, sakelar jaringan berbobot hingga 30 kg, serta ratusan kilogram kabel tembaga yang menghubungkan setiap rak.

Peralatan semacam ini diprediksi tidak dirancang untuk diperbaiki atau dipakai ulang, sehingga harus diganti secara total setiap dua hingga lima tahun.

Selain itu, laporan ini berasumsi bahwa perkembangan AI akan memaksa penggantian komputer, ponsel, dan peralatan telekomunikasi masyarakat secara cepat karena kebutuhan sistem baru yang membutuhkan daya komputasi tinggi.

Dengan melihat seluruh jenis sampah elektronik yang akan dihasilkan, laporan BAN memperkirakan bahwa peremajaan perangkat akibat AI akan menghasilkan hingga 13 juta ton sampah per tahun pada tahun 2030, angka yang jauh lebih tinggi dibanding perkiraan beberapa penelitian sebelumnya.

Gelombang penolakan pembangunan pusat data

Pembangunan pusat data AI sebenarnya sudah memicu gelombang penolakan dari berbagai pihak, salah satunya di AS karena membutuhkan lahan dan energi yang sangat besar. Laporan ini hadir saat perhatian mulai beralih ke dampak polusi jangka panjang dari AI.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau