Penulis
KOMPAS.com - Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan strategis yang akan menentukan kedaulatan ekonominya di masa depan.
Ambisi pemerintah untuk mengejar pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 8 persen tahun 2029 bukan sekadar target di atas kertas, melainkan sebuah keharusan untuk membawa bangsa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).
Namun, lompatan ekonomi masif ini membutuhkan fondasi yang tak hanya kuat, tetapi juga tak boleh terputus: pasokan listrik.
Dalam tatanan dunia modern, listrik telah bertransformasi menjadi "chip politik" yang sangat krusial.
Ketika pasokan listrik terganggu dan masyarakat tak mampu mengisi daya ponsel mereka bahkan untuk satu jam saja, kepanikan publik dapat terpelantik dan stabilitas sosial berisiko terancam.
Di tengah urgensi pasokan yang sangat mendesak ini, sektor kelistrikan nasional dihadapkan pada tantangan ganda yang cukup berat: memenuhi lonjakan kapasitas baru secara agresif sembari tetap menepati komitmen dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pengalaman berbagai negara di tingkat global membuktikan bahwa menggantungkan nasib sistem kelistrikan pada satu jenis teknologi tunggal adalah resep paling ampuh menuju kegagalan sistemik.
Indonesia membutuhkan portofolio energi yang beragam agar ambisi keberlanjutan tidak sampai mengorbankan stabilitas ekonomi nasional.
Baca juga: Pemeliharaan Jaringan, PLN Padamkan Listrik di Parepare Hari Ini
President Director Paiton Energy, Fazil Erwin Alfitri mengungatkan kerangka tiga dilema (trilema) energi menuntut keseimbangan presisi pada tiga pilar utama:
Ilustrasi Gas Bumi dan Peta Jalan DekarbonisasiFazil menjelaskan, gas bumi (PLTG/PLTGU) dapat menjadi teknologi yang mampu menjawab ketiga tantangan tersebut secara simultan.
"Gas memberikan keamanan melalui stabilitas, keterjangkauan melalui efisiensi, dan keberlanjutan melalui profil emisi yang jauh lebih rendah daripada batu bara," jelasnya.
Menurutnya, gas bumi adalah mitra strategis paling ideal bagi penggenjotan EBT. Fleksibilitas operasional pembangkit gas menjadi kunci utama untuk menyeimbangkan pasokan listrik dari target pembangunan 100 GW tenaga surya yang karakternya sangat bergantung pada cuaca.
Dari sisi keberlanjutan, PLTG/PLTGU PLTU memancarkan emisi sekitar 400 gram CO2 per kWh jika dibandingkan batu bara yang menghasilkan emisi sekitar 1.000 gram CO2 per kWh. Hal ini memberikan dampak penurunan emisi secara instan hingga 50 sampai 60 persen.
Fazil memaparkan, proses transisi energi di Indonesia memerlukan peta jalan dekarbonisasi yang logis, terukur, dan terbagi ke dalam tiga fase bertahap:
Keberhasilan seluruh tahapan peta jalan ini sangat bergantung pada keberanian industri dalam mengadopsi inovasi teknologi turbin gas paling mutakhir yang tersedia di pasar global.
Inovasi teknologi bukan lagi sekadar pilihan teknis di atas kertas, melainkan instrumen penentu hidup-matinya transisi energi.
Dalam konteks ini, Mitsubishi Power menjadi mitra strategis infrastruktur energi Indonesia selama lebih dari lima dekade dengan total kapasitas terpasang kini mencapai 19 GW atau menyuplai hampir 30 persen dari total beban jaringan kelistrikan nasional.
"Tren pertumbuhan permintaan serupa juga sedang terjadi di seluruh kawasan Asia Pasifik dan secara global, sehingga banyak negara berinvestasi pada infrastruktur kelistrikan baru yang berdampak pada ketersediaan peralatan dan rantai pasok global," ungkap Managing Director & CEO Mitsubishi Power APAC, Akihiro Ondo.
Baca juga: Konsumsi Listrik Data Center Capai 2.378 GWh, 99 Persen di Jawa dan Bali
Dia menyampaikan, permintaan listrik Indonesia terus meningkat didorong pertumbuhan ekonomi, perkembangan industri, serta munculnya sumber kebutuhan baru seperti AI dan data centers di tengah-tengah semakin besarnya integrasi energi terbarukan.
Pembangkit listrik Paiton, Jawa Timur.Meningkatnya kebutuhan gas bumi dan teknologi pemasok listrik berkelanjutan juga disampaikan President Director Mitsubishi Power (MP) Indonesia, Nobuhiro Kawai.
"Permintaan gas secara global saat ini berada pada tingkat dua kali lipat dari rekor sejarah, dengan pesanan turbin gas global mencapai 100 GW pada tahun 2025, yang diproyeksikan akan terus bertahan selama 4 hingga 5 tahun ke depan," jelas Kawai.
Dia menyampaikan, teknologi turbin MP saat ini sudah memiliki standar bauran hidrogen sebesar 30 persen dengan demo teknis di Amerika Serikat yang sudah mencapai 50 persen menuju target operasional 100 persen pada 2045-2060.
Sisi lain, transisi energi adalah jalan maraton jangka panjang yang membutuhkan kepastian regulasi agar setiap proyek memiliki nilai keekonomian yang sehat.
Berdasarkan pemetaan realitas di lapangan, terdapat rekomendasi kebijakan strategis yang perlu segera diambil oleh pemerintah:
Baca juga: Atasi Krisis Air dan Listrik, Pertamina NRE Pasang PLTS di Sekolah Simalungun
Melalui lompatan inovasi teknologi, kepastian arah kebijakan, serta penempatan gas bumi sebagai jembatan energi kokoh diharapkan Indonesia sanggup mengamankan target pertumbuhan ekonomi 8 persen sekaligus melangkah menuju masa depan yang bersih dan berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya